Waspadalah, Situasi Ini Dulu Pernah Terjadi Sebelum Orde Baru Runtuh

Waspadalah, Situasi Ini Dulu Pernah Terjadi Sebelum Orde Baru Runtuh

167
1
BERBAGI

RB, Jakarta-Pada era 1996-1997, Presiden Soeharto menerima penghargaan Jenderal Besar. Ini dianggap sebagai puncak prestasinya di dunia militer dan pemerintahan.

Akan tetapi, untuk mempertahankan keamanan dan ketertiban negara yang berlangsung selama 30 tahun terakhir, ia bersikap kejam.

Segala anasir diskusi dan forum-forum dihajar habis-habisan. Hari ini kita berkumpul bahas kerusakan negeri, besoknya mayat kita ada di ujung jalan. Kita dilarang keras membicarakan diri pribadi Soeharto.

Di saat yang sama, mahasiswa sudah kasak kusuk. Ratusan aktifis dan akomodator massa berkumpul diam-diam. Lama kelamaan, massa yang mengalami kekejaman rezim ini membesar, dan terus membesar.

Malang bagi rezim. Krisis Ekonomi Asia terjadi. Awal 1998. Rupiah jatuh, hingga ke angka 20.000 per Dollar AS. Pemerintah ketar ketir, harga-harga naik.

Di saat itulah reformasi meletus mengejutkan siapa saja. Orang-orang dulu tidak percaya bahwa rezim yang demikian besar menguasai parlemen dan bahkan langit dan dasar laut Indonesia, jatuh dalam 3 hari saja!

Dan hari ini kita lihat pola yang sama: liberalisasi ekonomi dibuat untuk memuluskan 9 Naga. Pihak 9 Naga itu kemudian memunculkan kemenangan bagi PDI-P dan Jokowi. Dan, alat selanjutnya, adalah Ahok.

Kemudian, setelah PDI-P menguasai Parlemen, mereka bersikap kejam dan diktator. Seperti diduga, seperti pola umum pemerintahan komunis: ketika jadi oposisi mereka teriak pemerintah kejam. Ketika memerintah, mereka lebih kejam dari pemerintah sebelumnya!

Maka aktivis-aktivis ditangkap. Ulama dipolisikan. Belum cukup sampai di sana, media sosial dimata-matai. Rakyat kehilangan ruang privat; dan situasi ini bahkan persis di Cina!

Bukankah di Cina, bahkan Google dan aneka media sosial dilarang, dan dibuat suatu mesin pencari yang digunakan untuk menyisir sesiapa yang kebetulan membicarakan rezim kejam itu?

Saksikan betapa PKC dan PDI-P terus makin akrab bercumbu.

Dan bukankah dulu orang-orang ditangkap hanya karena berpikir, bahwa pancasila hanya jadi alat penindasan Orba, yang berbeda, hanya pantas diasingkan ke pulau-pulau yang dihuni tikus dan kecoa di kejauhan Indonesia Timur?

Bukankah hari ini, rezim ini, sama adanya? Betapa mereka yang berpikir berbeda dengan Revolusi Mental atau jargon sloganistik murahan lain itu, kemudian ditangkap atas nama terorisme, makar, atau mengganggu ketertiban?

Dan bukan hanya itu, kita juga sama-sama melihat bahwa negara yang pura-pura besar ini terus-menerus dibius dengan keberhasilan semu di media? Bukankah sama dengan pembangunan semu era Orba dulu?

Saksikan betapa orang-orang sudah marah. Harga makin tinggi. Bicara makin tak bebas. Beragama makin sulit. Ini, tinggal sedikit lagi.

Rakyat tinggal marah sedikit lebih keras lagi untuk:

Revolusi.

1 KOMENTAR

  1. Ini, tinggal sedikit lagi, dan website ini akan dibreidel Rudiantara cs dengan tuduhan penghasutan makar.
    Setelah mengalaminya di 98 dulu, mengapa lagi2 kita harus mendendangkan lagu “…kini ibu sedang lara, menangis dan berdoa”

LEAVE A REPLY