Wahai Para Calon Istri, Ini Nasihat Pernikahan Ala Orang Jawa! (Bagian 2)

Wahai Para Calon Istri, Ini Nasihat Pernikahan Ala Orang Jawa! (Bagian 2)

409
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Tim Ruangbicara kali ini mengangkat petuah leluhur kita mengenai pesan seorang ayah kepada putri-putrinya. Penulisnya adalah Sri Pakubuwana X, yang meninggal pada tahun 1939. Beliau adalah Raja Surakarta. Beliau adalah budayawan Jawa yang menulis pesan bagi anak-anaknya yang akan menikah, tentu dengan tata krama Jawa.

Pesan beliau tertuang dalam serat Wulangreh Putri, begini kutipannya, pada bagian kedua dalam pupuh Dhandanggula dimulai dari bait 9:

9. Jangan ragu-ragu dalam memandang, sang raja Geniyara berkata, tidak terdengar kata-katanya, hanya gerak-gerik yang terlihat, bahwa di dalam berumah tangga, pasrahlah pada kehendak (suami), tidak memiliki rasa sungkan, menurut kehendak suami, Citrawati memahami gerak hatinya, maka berada dalam keutamaan.

10. Hal yang nistha di dalam batin, walaupun akan lestari, pada akhirnya hatinya bingung, di depan berkata yang lain, di belakang tidak berani, di dalam hati mengeluh, di dalam hati berniat tidak baik, jangan sampai wanita yang dikasihi suami itu, hanya memikirkan diri sendiri saja.

11. Hanya dipikirkan di dalam hati, kejelekan orang itu tidak selamanya melekat di hati, orang jahat itu menganggap pasti itu penyakit bodoh, bumi dan langit menyaksikan, dia menjadi kotoran di dunia, dosanya bertumpuk, semua bidadari tidak senang, kelak masuk neraka dan diperolok-olok, oleh bidadari-bidadari.

12. Namun, anakku jika engkau diberi, harta benda oleh suamimu berhati-hatilah, hartanya sudah diserahkan padamu, hakikatnya kepunyaanmu, itu dianggap orang jahanam, lebih daripada hina, tukang sihir besar, bukan dianggap orang berumah tangga, menabur dupa dan setan menari-nari, bukan sifat makhluk (manusia).

13. Setan berkeliaran membawa pisau, mengambil tulang yang sudah dibuang, mengotori seluruh dunia, perbuatan orang mengigau, tidak berniat melakukan perbuatan, mengejar kenyang saja, akan harta milik suami, walaupun terjadi perceraian, milikmu sudah menjadi milikku, sebab (saya) sudah diperistri. Itulah keserakahan.

14. Yaitu budinya seratus jahanam, orang yang acak-acakan, membuat celaka tetangga, kotoran dosanya berlipat tujuh, tetangga ditulari, jangan didekati, orang seperti itu, pasti akan terkena kejelekannya, tidak ada gunanya berdekatan dengan orang sesat, kotoran sedunia.

15. Ambillah harta dari Makasar, hanya jangan sampai melanggar kehormatan atau kepantasan, jangan mengingat ayahmu akan membawa kotor hati, apabila berpendapat, bahwa engkau putra raja, menjadi kebanggaan hatimu, orang berumah tangga terlihat oleh orang tua itu, mempertebal kejelekan.

16. Dalam rumah tangga wanita menjadi terhormat, yang diciptakan oleh Suksma Kawekas, itu sudah pertanda, kehendak Bathara Yang Maha Tinggi, kehendak Hyang Hutipati, jika ada yang menerjang, orang yang tidak mengindahkan petunjuk, Bathara Suksma Kawekas, semoga dihukum disumpah, menjadi “cacing” seketika.

17. Semakin lama disukai Yang Maha Kuasa, kelak jadilah pemaaf, jika disimpan saja, kena marah nantinya, itu yang berbahaya, tidak akan berhasil nantinya, apabila demikian peruntungannya, maka dari itu anakku dapatlah mengabdi, kepada suami jika kamu dibawa nanti, kembali kepada suamimu

18. Sudah selesai nasihat sang raja, Raja Geniyara dari Ternate kepada kedua putrinya, perkara yang sangat baik, jika ditiru baik manfaatnya, jangan merasa orang “buda”, yang memiliki ajaran, seperti Raja Cina, jangan merasa bahwa kafir itu segalanya, apabila kafirnya orang Mejusi.

19. Tetapi ini ajaran (nasihat) yang baik, makna yang dikandungnya baik untuk diambil, dan hadis Rasulullah, ikhlaskan anakku, agar bahagia dalam berumah tangga, menjunjung nama orang tua, jika kamu turuti, ajaran (nasihat) ayahmu, berada dalam tanda alamat yang baik, ajakan menuju kebahagiaan. (HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY