Wahai Para Calon Istri, Ini Nasihat Pernikahan Ala Orang Jawa! (Bagian 1)

Wahai Para Calon Istri, Ini Nasihat Pernikahan Ala Orang Jawa! (Bagian 1)

262
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Tim Ruangbicara kali ini mengangkat petuah leluhur kita mengenai pesan seorang ayah kepada putri-putrinya. Penulisnya adalah Sri Pakubuwana X, yang meninggal pada tahun 1939. Beliau adalah Raja Surakarta. Beliau adalah budayawan Jawa yang menulis pesan bagi anak-anaknya yang akan menikah, tentu dengan tata krama Jawa. Beliau adalah raja muslim yang taat.

Pesan beliau tertuang dalam serat Wulangreh Putri, begini kutipannya, pada bagian pertama dalam pupuh Asmaradhana:

1. Bekal orang menikah, bukan harta bukan pula kecantikan, bukan hanya berbekal hati (cinta), sekali gagal, gagallah, jika mudah terasakan amat mudah, jika sulit terasa amat sulit, uang tidak menjadi andalan.

2. Tidak bisa dibayar dengan rupa, syarat-syarat orang berumah tangga, harus diingat modalnya, ingat kekuasaan laki-laki, tidak boleh seenaknya, kurang berhati-hati dan kurang waspada, dari kesalahan yang berlebihan.

3. Orang yang lupa aturan berumah tangga, orang yang kurang berhati-hati dalam hidupnya, dapat dikatakan sudah rusak, teliti itu artinya bersungguh-sungguh, meresap dalam hati, jika sudah hilang ketelitiannya, hilang nama baik berumah tangga.

4. Itu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati-hatilah jika wanita sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati-hati maka rusaklah.

5. Perempuan yang rusak, tidak hanya pada orang berzina, termasuk orang yang tidak berhati-hati (tidak teliti), dinamakan “bejat” moralnya, tidak mengenal arah, pertanda tidak ingat, bahwa berumah tangga bermodalkan hati.

6. Dosa lahir dan batin, hati menjadi pedoman, jika tidak khusuk ciptanya, pertanda hatinya kacau, bisa menyebabkan kerusakan, berubahnya hati karena tidak ingat, kalau hati itu rajanya badan.

7. Badan adalah hanya sekadar pelaksana geraknya hati, melaksanakan kemauan hati, jika hati hilang kesadarannya, hilang sifat kemanusiaannya, apabila sifat kemanusiaannya hilang, hanya kerusakan yang didapatkan, tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.

8. Itu orang yang jahat, tidak menyadari hidupnya, bahwa hidupnya ada yang mencipta, mengapa tidak dirawat, syaratnya orang hidup, jangan sampai salah langkah, orang yang lupa menjadi perbuatan setan.
9. Tidak ingat tentang kehidupan, berpedoman pada hati, orang yang mengelak terhadap kehidupan, tidak mengendalikan hati, sengaja ingin merusak, terburu-buru tinggi hati (sombong), terkena godaan setan.

10. Memang sudah menjadi perbuatan iblis, jika ada orang lupa menjadi senang, setan menari-nari dengan gembira, jika ada orang pemarah, itu dianggap saudara, tidak melihat jalan kebenaran, mengarah kepada pekerjaan setan.

11. Orang yang tidak melihat akan kesalahan, itu sejenis dengan setan, tergesa-gesa menjadi tinggi hati, tidak tahu sama-sama dititahkan (diciptakan), itu orang yang tidak berpendirian, sudah menjadi watak orang pemarah, membuang pedoman yang menjadi dasar pedoman tersebut. (AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY