Teror-Teror di Kota Madinah dalam Sejarah, Yuk Simak!

Teror-Teror di Kota Madinah dalam Sejarah, Yuk Simak!

329
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Kejadian pengeboman menjelang berbuka puasa di Kota Madinah, Juli 03/07, melukai hati umat islam. Sebab, di sana terdapat masjid Nabawi, yang merupakan juga salah satu tanah suci umat muslim dan tempat terdamai di dunia. Tetapi, tahukah kamu, di Kota Madinah pernah terjadi beberapa peristiwa teror dalam sejarah?

1. Perang Ahzab/Perang Khandaq

Perang ini terjadi setelah perang Uhud. Golongan Quraisy yang masih kafir menghimpun kekuatan dari seluruh Arab, dan juga bersekutu dengan kaum Yahudi Ghatafan dan Quraidhah. Jumlah pasukan yang berhasil dikumpulkan sekitar 12.000 orang.

Pasukan ini lalu menuju Madinah. Rasulullah dan penduduk Madinah menggunakan strategi parit atas pemikiran Salman Al-Farisi, seorang Persia. Maka, tentara itu terhambat di luar Madinah dan bersiaga di sana. Akan tetapi, ternyata Banu Quraidhah yang juga merupakan penduduk Madinah, berkhianat dan menciptakan teror di dalam kota.

Pasukan Ahzab akhirnya dihancurkan oleh angin topan yang keras dan tercerai berai hingga kembali ke daerah masing-masing.

2. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan

Khalifah Utsman bin Affan yang memerintah selama 12 tahun, pada 5 tahun terakhir pemerintahannya diterpa banyak fitnah. Kalangan-kalangan penyusup dari kalangan Yahudi mengembuskan kabar bahwa Khalif Utsman melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme, padahal beliau ra bersih dari tuduhan itu.

Maka, pada 35 H, datang demonstran bersenjata dari 3 penjuru, Mesir, Basrah, dan Syam. Kelompok itu lalu mengepung Madinah dan menuntut pemakzulan Khalifah. Utsman yang menolak menggunakan cara kekerasan, terus mengajak dialog dengan dibantu para sahabat besar Rasulullah, namun gagal dengan berbagai faktor. Terutama akibat ulah Marwan bin Hakkam, sekretaris negara pada waktu itu yang memalsukan surat untuk membunuh Muhammad bin Abubakar Shiddiq, pimpinan demonstran Mesir.

Akhirnya, Khalifah Utsman dibunuh dengan menyerbu gedung kediamannya dan menerobos penjagaan putera-putera sahabat Nabi yang berjaga. Peristiwa ini menjadi awal perang saudara yang terjadi kelak, yaitu Perang Jamal, Perang Nahrawan, dan Perang Shiffin, yang mengakibatkan ratusan ribu jiwa tewas.

3. Penyerbuan Banu Umayyah

Ketika Khalifah pertama Banu Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan ra mengangkat anaknya, Yazid I menjadi pengganti, muncul reaksi keras dari para sahabat Nabi yang masih hidup. Di antaranya, Abdullah, anak Zubair bin Awwam ra.

Ia lalu diangkat menjadi Khalifah tandingan oleh penduduk Hijaz. Yazid berang, lalu mengirim pasukan besar sejumlah belasan ribu untuk menghancurkan kekhalifahan Abdullah. Sampai suatu ketika, pasukan Abdullah bin Zubair didesak ke dalam kota Madinah.

Di sana, pasukan Banu Umayyah yang dipimpin Muslim bin ‘Uqail melakukan Al-Ibahat, yaitu tradisi penghancuran dan pendudukan kota yang direbut dengan perang dalam kebiasaan jahiliyah. Dalam peristiwa ini, menurut riwayat, 17.000 orang gugur dibunuh di dalam kota Madinah, dan ribuan perempuan diperkosa. Hal ini terjadi kurang dari 3 hari saja.

Penyerbuan ini terjadi kurang lebih 65 H, atau sekitar 700 M. Peristiwa ini menjadi kenangan buruk dalam sejarah pemerintahan Banu Umayyah.

4. Pembantaian Madinah 1924

Pada masa runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani, muncullah kerajaan Ibnu Saud yang dikenal dengan nama Arab Saudi. Kerajaan tersebut membawa semangat pemurnian islam yang digaungkan Muhammad bin Abdul Wahab, seorang ulama mazhab Hanbali yang prihatin terhadap tindak khurafat di situs-situs sejarah.

Pada tahun-tahun sebelumnya, pasukan Ibn Saud menduduki Haramain dan menghancurkan beberapa objek yang dianggap menyuburkan kemusyrikan. Namun, Kekhalifahan Turki Utsmani merebutnya kembali dan memperbaiki itu.

Akan tetapi, setelah Turki melemah, pada 1924 Ibnu Saud kembali memasuki Haramain, dan kemudian meratakan situs-situs seperti Pemakaman Baqi’, beberapa objek di Masjid Nabawi, dan juga masjid-masjid dan gunung tertentu di sekitarnya.

Beberapa sumber menyebutkan, tak kurang 5000 orang tewas di dalam kota, dan mayat-mayat berserakan di bawah pohon di Kota Madinah. Peristiwa ini menjadi bahan kontroversi sejarah Wahabi, dan digunakan sebagai alasan untuk menolak Wahabi oleh beberapa kalangan. (HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY