Telat Membaca Sohibul Iman

Telat Membaca Sohibul Iman

63
0
BERBAGI

Risalah Institute

Sohibul Iman, adalah seorang ilmuwan yang menjabat Presiden PKS terhitung 2015. Ia menjabat ketika kondisi partai ini mengalami luka berat kekalahan pada Pilpres dan Pileg pada 2015.

Kita kadang dibuat kecele, dan gagal paham dengan strategi beliau. Anis Matta dianggap memajukan paradigma partai ini jutaan langkah kedepan dengan tampilan tokoh yang berbeda.

Tapi datanglah kiamat itu; partai ini gagal bersaing dengan PDIP dan Jokowi. Kaderisasi yang dibangga-banggakan itu tak ada artinya dibanding kekuatan Merah.

Mesin partai rontok. Uang partai habis. Moral kader pasti jatuh sejatuh-jatuhnya. Dalam kondisi semacam inilah Sohibul Iman memimpin.

Tiba-tiba, datang kabar yang mengundang prihatin. Fahri Hamzah dipecat dengan isu pergeseran sejumlah tokoh di internal PKS. Fahri terus bernyanyi dan membuat ketokohannya sendiri.

Secara ideologis, The Islamic Action Front di Jordan adalah partai yang dekat sekali ideologinya dengan partai dakwah kita. Mereka baru saja kembali ikut pemilu dan mendapat suara yang lumayan.

Akan tetapi, sebelum pemilu, induk dari partai ini, Ikhwanul Muslimin di Jordan, diterpa musibah. Sekelompok tokoh Ikhwan di sana memisahkan diri dan membentuk Ikhwan baru dengan nama Zamzam Initiative.

Zamzam Initiative ini menawarkan diri sebagai bentuk moderat dan reformatif dari IAF. Akan tetapi, ternyata mereka gagal. Pemilu yang berlangsung 2016 kemarin tak berpihak kepada mereka.

Sumberdaya Zamzam yang juga berasal tadinya dari IAF, hanya sukses memperlelah IAF dan membuat kader-kadernya payah mencapai kemenangan.

Memang IAF menghadapi masalah yang tak sederhana. Mereka baru ikut pemilu lagi setelah selalu memboikot pemilu dengan alasan tidak menciptakan iklim politik yang adil.

Akan tetapi, Zamzam ini rupanya muncul sebagai reaksi sebagian kader IAF yang melihat partai induk mereka itu terlalu keras dan terlalu kanan. Bahasa kita, terlalu saleh.

Dan kemudian terbukti bahwa Zamzam didukung pemerintah secara finansial: Zamzam, adalah produk rekayasa pemerintah Jordan untuk melemahkan IAF dan mengambil kader mereka.

Apalagi, IAF di Jordan menghadapi ancaman radikalisme di Timur Tengah melalui Al-Qaeda dan ISIS. Tajamnya konflik antara IAF dan Zamzam dipercaya membuat sebagian generasi muda malah hijrah ke dua kelompok ekstrim itu.

Itu baru di Jordan. Di Mesir, pasca kudeta Mursi dan Partai Pembebasan dan Keadilan, induk mereka, Ikhwanul Muslimin Mesir, menghadapi situasi yang sangat bahaya.

Muhammad Kamal, salah satu kader muda, kritis, dan hebat di sana, mendeklarasikan Ikhwan baru dan memecah kekuatan jamaah itu dari kepemimpinan Muhammad Badie dan Mahmoud Ezzat.

Dewan Syuro Ikhwan dari pelariannya pasca kudeta mengamanatkan Ezzat memimpin Ikhwan dengan strategi moderat kepada junta As-Sisi. Tapi Muhammad Kamal tidak sabar. Ia menempuh jalan kekerasan.

Ia merekrut generasi muda Mesir yang membara pasca kudeta. Kamal sendiri akhirnya dibunuh rezim, tapi dampak besarnya adalah, Jamaah Ikhwanul Muslimin terpecah belah untuk kerusakan yang bisa jadi terparah sepanjang 90 tahun ini.
As-Sisi dan dunia Arab malah mendapat alasan baru untuk menggulung Ikhwan di Mesir: _Perang Anti Terorisme_.

Sohibul Iman memimpin PKS di tengah isu dunia semacam ini dan harus berhati-hati. Apalagi, pasca kudeta Mesir, mayoritas negara islam lebih keras kepada faksi islam berideologi Tarbiyah.

Inilah yang tidak dihadapi Anis Matta dan apalagi, Fahri Hamzah. Tindakan gegabah, sebagaimana di Jordan dan Mesir, jelas hanya akan berakibat bencana pecah belah kader.

Dulu SBY masih bersikap tarik ulur dengan kekuatan islam tapi tidak dengan rezim saat ini. Persis, dengan Mesir dan Jordan.

Sementara, bangsa ini tidak sesekular Turki. Demam hijrah membuat anak muda dan orang dewasa mencari platform partai yang menjanjikan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur di NKRI.

212 dan 411membuktikan, bahwa Islam sebenar-benarnya islam yang tidak sekular adalah kekuatan baru yang bisa ditawarkan PKS, di negeri ini!

Sohibul Iman telah terbukti berhasil menjaga keutuhan partai ini di tengah bubarnya faksi KMP: Golkar, PPP, PKB, dan bahkan Nasdem serta PDI-P.

Jangan telat membaca Sohibul Iman!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY