Serial Sastrawan Muslim: Joesoef Souyb (Bagian 4)

Serial Sastrawan Muslim: Joesoef Souyb (Bagian 4)

25
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Kehidupan keagamaan Joesoef, di samping kehidupan sastranya yang rumit, akan kita jumpai jika kita menyimak berbagai anekdot muktazilah yang ia pikirkan.

Ia bercerita. Ketika berziarah ke Jabal Thur, seorang Syaikh menghampirinya dan bertanya. Ia menjawab, berasal dari Indonesia.

Setelah basa basi, ia dinasihati Syaikh itu untuk tidak ketinggalan shalat di Masjidil Haram, Makkah, karena ada pahala beribu-ribu kali berbanding shalat jamaah di masjid lain.

“Maaf, saat ini aliran pemikiran orang Indonesia sudah berubah,” kata Joesoef. “Jika saudara berkata begitu, sudah pasti pihak yang menerima amalan kita (Allah) akan berhitung pula,” jawabnya.

“Jangan sampai kita memerintah Allah untuk memberi pahala sekiam sekian… kemudian kita katakan berasal dari Hadis, padahal Al-Quran tidak pernah berkata begitu!”

Anekdot ini mencerminkan keberpihakannya pada penggunaan akal, yang ditarik Jamaluddin Al-Afghani dari Washil bin Atha’.

Sebagai penulis sastra, peralihan dari kesukaannya menulis roman medan yang fiksi dan bersifat cerita detektif agaknya tersalur pada penulisan sejarah para khalifah.

Sehingga, ia tak lagi menghasilkan karya fiksi sebernas tahun-tahun dulu, ketika Indonesia belum merdeka.

Tetapi kenapa pula? Bukankah ini yang dikuatirkan. Ketika Indonesia belum merdeka, ramai para sastrawan baik sirr maupun jahr menyampaikan pesan perlawanan, termasuk Joesoef, melalui Serial Detektif Elang Emas dan juga berbagai cerita pendeknya.

Tetapi, setelah Indonesia merdeka, ia melihat perubahan cara melawan. Ia mungkin menganggap bahwa kejumudan agama adalah musuh terbesar kemerdekaan manusia:

Maka ia hendak memerdekakan umatnya yang tanpa pemimpin, yang tanpa rumah besar khilafah ini, sekali lagi.

Bukunya mengenai kisah para Khalifah yang berjilid-jilid jelas melukiskan kerinduannya pada kejayaan islam dan perkembangan hukum islam, di samping turut mengembangkan bahasa ini ke dalam bentuk modern.

Maka begitulah Joesoef, jalan Iktizal dipilih sebagai jalan keulamaannya. Dan dengan kemampuan sastranya, buku Khulafaur Rasyidin, Sejarah Daulah Umayyah, Sejarah Bani Abbasiyah, dan lain-lain tercatat sebagai:

“Usaha penulisan sejarah islam pertama dengan bahasa Indonesia” di samping Sejarah Umat Islam dan Dari Perbendaharaan Lama milik Buya Hamka yang lahir hampir bersamaan, pada periode 60-an hingga 70-an.

Dan begitulah, hingga wafatnya pada 1992, kita saksikan sastrawan ini menulis 65 judul buku, termasuk buku fikih, filsafat, sastra, dan sejarah!

Risalah Institute
(AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY