Serial Sastrawan Muslim: Joesoef Souyb (Bagian 3)

Serial Sastrawan Muslim: Joesoef Souyb (Bagian 3)

23
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Joesoef lahir 1916, ketika akhir sekali perang dunia 1 berakhir, dan Indonesia menjadi gudang uang belanda. Turki Utsmani semakin lemah. Pemikiran modernis islam mengemuka, dan neo-muktazilah berkembang.

Siapa yang menyangka kelak bahwa Ibnu Taimiyah, yang pemikirannya dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Saudi, akan dipakai pula oleh Syaikh Ahmad Khatib Abdul Latif Al-Minangkabawi, yang wafat tepat pada saat Joesoef Souyb lahir?

Dan siapa pula yang menyangka bahwa dua murid Syaikh Ahmad Khatib Abdul Latif Al-Minangkabawi akan menjadi guru dari Joesoef dari dua jalur pemikiran yang berbeda:

Muridnya yang mewarisi pemikiran reformis Jamaluddin Al-Afghani, melalui jalur dua guru-murid yang terkenal yaitu Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, adalah ayah dari Buya Hamka di Sumatera Thawalib: H. Abdul Karim Amrullah.

Sementara, muridnya yang lain, kelak akan juga menjadi guru Joesoef, mewarisi pemikiran dari Ahmad Khatib yang bercorak perlawanan kepada belanda sekaligus lebih tradisional dan bercorak mazhab Syafii. Dia, adalah Syaikh Sulaiman Rasuli , di Madrasah Tarbiyah Islamiyah.

Di tengah pertentangan inilah, Joesoef muda mempertanyakan banyak hal kepada dunia islam yang ada di persimpangan jalan, pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah.

Pertentangan antara kaum muda di di Sumatera Thawalib yang kelak kita panggil dengan Wahabi, dan kaum tua di Madrasah Tarbiyah yang kini akan kita sebut tradisionalis inilah, yang membuat Joesoef mengambil jalan tengah.

Penulis roman kita ini memiliki latar belakang yang rumit. Ia tidak sekadar menulis, dan bukan budak kata-kata. Sebagai muslim, ia benar-benar menarik.

Tetapi, ia kemudian menjadi penganut pemikiran iktizal, atau yang menempatkan akal di atas segala-galanya. Sebagai pengarang cerita detektif, agaknya logika memegang peranan keagamaan di dalam hatinya.

Ini akan jelas kita lihat dalam bukunya, Logika Kaedah Berpikir yang terbit pada 1977 dan Aliran Iktizal, Peranannya dalam Perkembangan Pikiran Islam.

Risalah Institute
(AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY