Serial Sastra Islam: Joesoef Souyb (Bagian 2)

Serial Sastra Islam: Joesoef Souyb (Bagian 2)

25
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Joesoef, adalah seorang muslim yang luar biasa. Semasa sekolah, ia lulus dengan ijazah takhasus agama islam. Ia sendiri memiliki minat khusus kepada perbandingan mazhab dan terbilang ahli di zamannya.

Ia menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Turki Utsmani yang besar, runtuh pada 1924 saat ia berusia 10 tahun. Ia saksikan bagaimana kepiluan umat islam ditinggal rumah besarnya.

Ia saksikan pula umat islam yang ada di Nusantara ini, setelah ditinggal Khalifah dan Kekhalifahan, gagap memandang kemajuan dunia.

Mereka melihat perbankan barat dan bingung mendefinisikanya. Mereka memandang filsafat, dan gagap menghadapinya. Mereka memandang pers a la barat dan terlongong-longong menyaksikannya.

Zaman apakah ini? Tahun-tahun 30-an hingga 50-an inilah, lahir kebesaran sosok Joesoef yang paripurna sebagai sastrawan, ulama, sejarawan, sekaligus jurnalis islam yang hebat.

Orang yang mendalami karya Joesoef mungkin sulit mendeteksi ke mana keberpihakannya pada dua kutub islam yang ada kala itu.

Tradisionaliskah? Yang membiarkan saja kejumudan yang ada dan menyerah pada keadaan. Bahwa pintu ijtihad sudah tertutup dan bersiap saja menghadapi akhir zaman. Cukuplah menghapal kitab-kitab klasik.

Atau modernis? Yang menempatkan akal di atas segala-galanya, yang menempatkan pembaruan sebagai harapan ketika kekhalifahan tidak ada. Ketika filsafat adalah manhaj yang kanon.

Di sini, Joesoef sebagai ulama mencoba mengambil jalan tengah. Tapi, jalan tengah inilah yang membuat beliau kelak akan menderita berbagai tuduhan.

Menarik mengetahui fakta bahwa pemikirannya tentang islam, sebagaimana pada bidang sastra, tidak memihak golongan manapun.

Ia tidak mengharamkan bunga bank konvensional. Ia juga yakin bahwa Nabi Isa memang wafat secara harfiyah. Di sisi lain, dalam perkara tauhid, ia begitu terpengaruh ajaran Muhammad Abduh. Sebagaimana, Abduh juga yakin bahwa terbelahnya bulan dan masih hidupnya Nabi Isa adalah perkara yang mustahil.

Tetapi, nanti kita akan melihat bahwa sebagai ulama, sastrawan ini menulis belasan buku yang kelak akan meluruskan jalan bagi kehidupan islam mampu mengejar ketertinggalan zaman. Itulah warisan besar Joesoef.

Setelah Indonesia merdeka, ia mendapatkan peluang belajar lebih jauh. Dalam sebuah kesempatan menuju Inggris, ia membeli sebuah buku besar: Historian’s History of The World.

Kelak, dengan caranya sebagai seorang sastrawan dan penulis cerita detektif, ia menuliskan kisah 4 Khulafaur Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Dinasti Umayyah di Andalusia dengan mengharu biru.

Kekuatan penulisan sejarah islamnya begitu terpengaruh dengan romantisme. Tetapi, melalui dirinya, berkembang suatu cara baru menulis sejarah dengan bahasa Indonesia:

Menulis sejarah, dengan bahasa sastra. Pada bahasa-bahasa bangsa lain, mungkin ini sudah umum. Tapi bahasa ini, kala itu barulah berumur sekian puluh tahun.

Kita saksikan, bagaimana dalam buku sejarahnya, orang bisa menangis jika membaca kisah terbunuhnya para khalifah.

Dari serial detektif Elang Emas, bentuk-bentuk Roman Medan, dan kemudian penulisan serial besar Kekhalifahan Islam, Joesoef turut menyempurnakan cara orang menulis dengan bahasa Indonesia.

Risalah Institute
(AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY