Serial Sastra Islam: Joesoef Souyb (Bagian 1)

Serial Sastra Islam: Joesoef Souyb (Bagian 1)

21
0
BERBAGI

RB, Jakarta – Kalau kita hari ini bisa menulis sebebas-bebasnya dengan bahasa Indonesia dalam urusan cerita-mencerita: maka itulah jasa mereka yang mengembangkan Roman Medan, atau Roman Picisan.

Tahun 20-an hingga 40-an, bahasa Indonesia masihlah bahasa yang belum umum digunakan. Orang masih bicara bahasa daerahnya masing-masing.

Orang-orang sastra berpikir. Bagaimana meningkatkan harkat dan martabat bangsa yang mau lahir ini di tengah kebudayaan dunia? Perang budaya yang ditabuh oleh Balai Pustaka benar-benar menghancurkan sastra Indonesia.

Di sisi lain, pribumi dan ulama tidak boleh berpolitik. Politik adalah urusan orang belanda. Orang islam mengajilah saja di langgar. Tak perlu urusi perang.

Di sinilah, tiba-tiba, di musim jeda antara perang dunia 1 menuju ambang perang dunia 2, roman berjudul Derita, terbit.

Roman ini mengisahkan tentang situasi di sebuah desa yang menolak kehadiran sebuah partai islam dan sekaligus tokoh islam. Masalahnya, penolakan ini bersifat adat dan kebiasaan masyarakat.

Pengarang, hendak menceritakan pada kita: betapa sekularnya bangsa ini, dan jangan mimpi merdeka kalau politik masih dipisahkan dari agama!

Sontak, 1940 itu, berbagai kalangan membicarakan tulisan itu. Betapa kagetnya mereka setelah mengetahui, bahwa yang menulisnya adalah seorang ulama muda bernama Joesoef Souyb!

Ulama muda ini menarik perhatian kalangan populer waktu itu. Kalau orang-orang–sebut saja sastra betulan atau sastra serius–terhenyak-henyak dengan manifesto gelanggang, maka orang-orang papa negeri kita membaca Roman Medan.

Joesoef Souyb adalah orang pertama yang mengembangkan cerita detektif dengan bahasa melayu, dengan tokoh utama Elang Emas yang menentang Belanda.

Tentu kita pisahkan dulu imajinasi sastra pop dan picisan di zaman metropop ini dengan sastra yang disebut “murahan” atau “picisan di zaman dulu.

Karena, yang disebut ” murahan” pada zaman dulu adalah mereka yang “dihargai sepicis” oleh Belanda, karena isinya membangkitkan perlawanan orang-orang kecil dengan bahasa yang mudah dan ringan!

Joesoef Souyb, layak dianggap sebagai Bapak Cerita Pop atau setidaknya Bapak Cerita Detektif Indonesia (ah, mengapa saya menjadi orang yang gemar festivalisasi sastra seperti orang sekarang?). Serial Elang Emas yang terbit bersama sebuah majalah waktu itu menyedot perhatian khalayak.

Tantangannya adalah, bagaimana membuat orang yakin bahwa melawan penjajah adalah cara yang benar dengan bahasa seringan-ringannya. Dan, Joesoef berhasil.

Risalah Institute
(AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY