Sebuah Cerita Untuk Para Calon Istri

Sebuah Cerita Untuk Para Calon Istri

68
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Saya ingin bercerita secara blak-blakan!
Saya sudah menikah dua kali. Dan semuanya gagal!

Pertama, dengan seorang ikhwan shalih bagi masyarakat, nyunnah dalam penampilan, tepat setelah saya hijrah ke manhaj Salaf. Akibat kekhawatiran akan tinggal di tanah rantau tanpa mahram.

Qaddarullah, ternyata tidak sesederhana itu untuk sakinah. Cobaan yang kami peroleh terlalu berat. Sangat berat, apalagi ukurannya masih pengantin baru waktu itu. Ujiannya apa? Coba ingat film KCB, mirip itulah.. (dalam kasus ini adalah; disorientasi seksual: biseksual, red.)
Hasilnya, hampir saja putus kuliah!

Tak lama kemudian jadi futur, down, stress. Saya enyahkan jilbab longgar nan lebar, balik ke jilbab biasa. Saya benci orang-orang nyunnah!

Ditambah ‘diambilnya’ sahabat sekaligus penasihat. Tidak tanggung-tanggung, sekaligus tiga orang dalam dua tahun. Mereka pergi untuk selamanya.
Saya makin kacau!

Saya mulai menekuni perihal terkait liberalisme, filsafat, dan sastra berupa roman.
Intinya, saya benci orang nyunnah!

Bahkan mempertanyakan makna sholat.

Ternyata remah-remah iman masih tersisa. Bolak-balik Kota A1 Pulau A – Kota B2 Pulau B, rasanya gelisah jika tanpa mahram. Ketika ada kerabat mendekat, dimulai perkenalan oleh seorang yang alim, akhirnya menikah lagi, dengan kriteria: tidak nyunnah! yang penting sholat.

Alhasil, ujian itu datang lagi. 10 kali lipat lebih parah! Sampai-sampai harus berlari menyelamatkan diri.

Hanya berbekal baju dan jilbab di badan, HP, dan sendal butut, melarikan diri, menjual mahar yg tersisa sisanya diambil olehnya, lalu membeli tiket ke Kota B Pulau B.
Bayangkan, seharian di bandara dengan baju lusuh, sendal butut, muka kucel, perut keroncongan, dan di rahim sedang meringkuk janin 3 bulan!
Pikir saya saat itu, jika tidak menyelamatkan diri, nyawa anakku terancam.

Ada yang pernah dilempari kursi saat hamil oleh suami sendiri? Ada. Itu saya!
Ada yg pernah dihina sbg perempuan murahan saat ingin mempertahankan hijab syar’inya? Ada. Saya juga!

Alasannya sederhana, saya berhenti menafkahinya. Ya, saya berhenti menafkahi laki-laki yang gegulingan di rumah menikmati hasil kerja saya yang pergi gelap pulang gelap. Saya dipaksa bekerja lagi hingga malam. Demi menghidupi dia. Saat mengutarakan keinginan untuk berhenti dan memintanya bertanggungjawab, saya dilempar dan dijambak jilbabnya. Dihina sebagai perempuan yang tidak taat suami.

Pernah ada cewek bohai berjeans ketat lewat, si mantan berkata, “Coba liat itu! Itu baru bagus! Pakaian yang kamu kenakan itu ribet!”

Akhirnya pasca musibah tersebut, diputuskan untuk pisah. Tepatnya dia usir saya dari kontrakan yang saya sewa dengan uang hasil keringat sendiri. Tebak, perabotan dan kendaraan diambil siapa?! Ya, diambil mantan. Padahal saya yang beli!

Dan sekarang, alhamdulillah saya sudah tenang dengan bayi saya. Bayi perempuan mungil yang belum pernah menyicipi sedikitpun nafkah dari bapaknya yang bak menghilang ditelan bumi.

Jadi sekali lagi, semengesalkan apapun suami kalian, hargailah..!
Selama ia masih mengemban tanggungannya. (tanggung jawabnya, red.)

Bahkan jika dia katakan hendak menikah lagi, tak usah berulah, iyakan saja, ia akan mempertimbangkan sendiri!

Yang ini agaknya susah bagi ibu-ibu.

# Semoga menjadi pelajaran. Bahwa… dalam berumah tangga itu, yang tampak adalah sifat asli masing-masing, tak peduli se-shalihah atau se-shalih apapun pelakunya.
.
.
___________________

Tulisan kisah nyata seorang kawan; Ummu Fulanah.

Ditulis langsung oleh yang bersangkutan dan disebarkan atas izin yang bersangkutan untuk diambil pelajaran atasnya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki urusan dunia dan akhiratnya serta menjaganya dan putrinya dalam kebaikan.

Dengan sedikit penyesuaian redaksi dari saya termasuk nama dan lokasi yang disamarkan.
.
– Mas Anggit F. –

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY