Ramadhan di Turki: Berpuasa di Negeri Sekuler

Ramadhan di Turki: Berpuasa di Negeri Sekuler

300
0
BERBAGI

Sudah memasuki akhir dari 10 hari kedua di. Bulan Kebaikan—Ramadhan—tahun ini. Umat muslim berlomba-lomba menuai berkah, memanfaatkan momen Ramadhan untuk memperbaiki diri, berharap jadi lebih baik lagi hingga nanti setelahnya. Umat agama lain pun ikut meramaikan dengan berbagi kebaikan, seperti yang banyak dikabarkan lewat media-media belakangan ini.

Setelah Ramadhan dan lebaran tahun lalu aku lewati tanpa keluarga, kini aku bersyukur sekali karena telah diberi kesempatan untuk kembali menikmatinya bersama mereka.

Menunaikan ibadah puasa di negeri yang jauh tidaklah mudah. Beberapa lama sebelum Ramadhan tahun lalu, aku berpikir tentang betapa sulitnya untuk melewati semuanya disini. Cobaan terberat adalah waktu berpuasa yang lama dengan waktunya yang tepat pada musim panas. Membuat diri semakin sering membayangkan indahnya melewati Ramadhan bersama keluarga, dan makanan enak yang melimpah.

Lama waktu berpuasa di Turki adalah sekitar 18 jam. Berbeda dari Indonesia yang hanya sekitar 12 jam. Adzan Subuh sudah dikumandangkan pada sekitar pukul 03.20 pagi hingga adzan Maghrib pada 20.50. Pada hari pertama dan kedua, kami merasa kaget dengan perbedaan yang ada. Menu santapan sahur persis sama seperti yang ada di menu sarapan biasanya; irisan mentimun, tomat, buah zaitun hitam dan hijau, keju putih, roti, dan selai. Membuat kaget perut para “Indonesians” yang terbiasa tumbuh dengan ‘belum dianggap sudah makan jika belum makan nasi’.

Suasana siang hari di Istanbul pada bulan Ramadhan tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa sebelumnya. Restoran masih buka tanpa kain penutup, bahkan banyak terdapat orang-orang yang terlihat sedang makan di meja luar. Para perokok masih mengepulkan asap rokok di tempat-tempat. Tidak se-istimewa yang orang-orang bayangkan karena memang banyak penduduk Istanbul sendiri yang menganut sekulerisme.

Pada hari pertama, pemerintah kota biasanya mengadakan fasilitas buka bersama gratis di kawasan Blue Mosque yang sudah dipenuhi meja-meja piknik panjang. Wisatawan lokal dan asing sudah mulai memadati tempat sejak pukul 6 sore. Mereka yang datang lebih akhir dan tidak mendapat tempat duduk biasanya membawa kain yang mereka jadikan alas duduk di bawah pohon.

Aku belum pernah ikut acara buka bersama gratis itu, tapi aku pernah melihat kepadatan yang meramaikan kawasan Blue Mosque dan Hagia Sophia yang berhadapan. Tidak ada celah antara satu kelompok dengan kelompok lain yang duduk di kawasan taman.
Begitu halnya yang terjadi di Eyüp Sultan Camii di Distrik Eyüp. Penduduk sudah ramai menyiapkan ifthar mulai dari taman pinggir Golder Horn ke arah Eyüp Camii. Keramaian ini menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar distrik tersebut.

Pemerintah tiap distrik biasanya mendirikan tenda ifthar tempat dibagikannya makanan berbuka gratis kepada masyarakat. Menu berbuka persis sama dengan yang ada pada menu makan malam. Yang membedakan hanyalah kurma. Ada çorba (sup), pilav (nasi dan sejenisnya), serta menu lain seperti daging köfte dan makanan manis. Untuk masyarakat Indonesia sendiri, Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Istanbul biasanya mengadakan acara buka bersama tiap minggunya.

Bicara soal shalat tarawih, kebanyakan masjid di Turki menunaikan shalat sebanyak 21 rakaat dengan bacaan surat pendek pada tiap rakaat. Sekitar 20 menit setelah shalat selesai, sekitar pukul 11.30-12.00, biasanya masjid akan segera ditutup walau ada yang masih buka hingga waktu shalat Subuh.

Kebanyakan orang memutuskan untuk tidak tidur setelah shalat Tarawih karena jarak waktu dengan sahur yang pendek. Waktu tidur diganti setelah terbit matahari hingga siang hari. Karena itulah waktu berpuasa yang lama tidak begitu terasa. Omongan soal kami yang mungkin tidak akan mampu tahan berpuasa seharian ternyata tidak benar juga. Tergantung niat dan usaha agar rasa lapar dan haus tersebut tidak menghambat ibadah.

Untuk kita yang berada di Indonesia, mari bersyukur karena Allah tidak membebankan kita waktu berpuasa yang begitu panjang.

Banyak sekali Muslim di tempat lain yang berjuang keras agar tetap mampu tahan berpuasa dan tidak melewatkan kesempatan untuk mendulang berkah di Bulan Kebaikan ini. Semoga Ramadhan kita tahun ini menjadi lebih baik dan penuh berkah.

Asma Hanifah Ahmad
Instanbul University
Sekretaris Dept. APP PPI Instanbul

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY