Ramadan Musim Panas di Paris

Ramadan Musim Panas di Paris

482
0
BERBAGI

RB, Paris-Beberapa tahun ini, Ramadan di Paris bertepatan dengan musim panas. Ini artinya muslim di kota Eiffel, dimana kami tinggal, berpuasa sekitar 18. s.d 19 jam. Di sini matahari baru terbenam (baca:Magrib) sekitar pukul 22.00, sedangkan Subuh pukul 03.30. Maka, otomatis muslim di Negeri Zinadine Zidane ini hanya memiliki waktu makan dan minum kurang lebih 5 jam. Dalam kisaran waktu tersebut, seorang muslim harus pintar-pintar membagi waktu antara tidur malam, makan, minum, dan ibadah malam.

Dalam hal menahan lapar, meskipun puasa di musim panas tahun ini sekitar 19 jam, sebenarnya keluarga kami tidak mengalami kesulitan yang berarti. Bahkan anak kami satu-satunya yang berusia 11 tahun tidak mengeluh lapar dan berpuasa hingga tiba waktunya berbuka. Rutinitas kantor suami pun tidak berubah. Ia tetap berangkat ke kantor dengan mengayuh sepeda. Untuk pulang pergi naik sepeda dari apartemen kami ke kantor kalau dihitung sekitar 45 menit. Kalaupun ada hal yang berbeda, hanya jadwal istirahat yang biasanya ia pakai untuk makan, diganti untuk ke toko buku atau tetap kerja di ruangannya saja. Jika rasa haus sampai kering di tenggorokan, ia berusaha mengabaikannya. Tapi memang ia akui, meskipun tidak ada masalah dengan lapar, tapi agak susah menahan rasa haus, di tengah terik matahari yang kadang-kadang mencapai 40°C.

Meskipun saya muslim sejak lahir, tapi untuk urusan puasa musim panas, saya benar-benar belajar dari suami saya. Karena, setiap Ramadan saya dan anak saya selalu mudik ke tanah air, karena bertepatan dengan libur musim panas. Suami menyusul ke tanah air saat hari raya tiba. Oleh karena itu, ketika Ramadan jatuh sebelum musim libur musim panas, pada awalnya saya merasa cemas dan nervous, apakah saya bisa melewati puasa 19 jam lamanya? Bahkan bisa saja 24 jam jika tidak sahur. Tapi alhamdulillah dua tahun belakangan ini, saya dapat menjalankannya dengan lancar. Yang lebih mengagetkan, ternyata anak kami telah sukses berpuasa di musim panas, sejak dua tahun terakhir ini. Padahal aktivitasnya segudang. Kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler yang terkadang selesai pukul 20.30.

Sekalipun dalam hal lapar dan haus tidak ada masalah, namun ada sedikit cobaan yang membuat saya sedih. Sebagai agama minoritas, tentu saja tidak ada kebijakan di sekolah dalam hal beribadah. Anak kami yang saat Ramadan musim panas lalu berusia 10 tahun, sempat dipertanyakan oleh gurunya, misalnya mengapa saat aktivitas olahraga di sekolah tetap berpuasa, atau menerima godaan dari teman-temannya agar ikut makan dengan mereka. Tapi alhamdulillah jauh-jauh hari sebelumnya kami sebagai orangtua telah memberikan banyak petuah. Maka ia pun dapat melewati cobaan-cobaan tersebut.

Ramadan musim panas tahun ini Subuh jatuh pada pukul 03.30, sedangkan Maghrib pukul 22.00. Meskipun berbukanya cukup larut, tak menjadikan kami malas untuk berbuka puasa diluar rumah. Setiap malam Minggu kami berbuka puasa di Kedutaan Republika Indonesia (KBRI) Paris. Setiap malam minggu KBRI melalui Perhimpunan Masyarakat Islam Indonesia Perancis (PERMIIP) mengadakan acara buka puasa bersama, mulai pukul 20:00 hingga selesai. Ada tausiyah, salat berjamaah dan makan malam.

Meskipun seminggu sekali, bagi kami ini cukup menggembirakan. Karena biasanya saat di tanah air, kami sering melakukan buka puasa bersama saudara dan teman-teman. Jadi momen tersebut kami jadikan saat-saat melepas rindu akan buka puasa bersama, dengan saudara muslim Indonesia. Apalagi tahun ini bertepatan dengan hadirnya Ustadz Array Hasyim, dari Darus Sunnah Internasional Institute for Hadith Sciences/Corps Dai Dompet Duafa, yang selama sebulan penuh membimbing umat muslim Indonesia di Paris dan sekitarnya.

Materi-materi yang disajikan sangat bermanfaat. Hingga, kami yang di perantauan dapat wawasan segar ilmu yang bermanfaat, langsung dari pakarnya. (Rosita Sihombing)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY