Penyair-Penyair ini Pernah Dipenjara Karena Karya dan Aksinya

Penyair-Penyair ini Pernah Dipenjara Karena Karya dan Aksinya

285
0
BERBAGI

 

RB, Jakarta-Penyair tidak hanya menulis puisi. Mereka juga mengaktualisasikan puisinya menjadi sebuah tindakan politik, yang terutama didasari karena perlakuan rezim terhadap rakyatnya, pada masa itu. berikut ini, Ruangbicara menghadirkan beberapa penyair yang pernah dipenjara, karena aksi dan karyanya. Siapa saja mereka?

  1. Sitor Situmorang

Beliau adalah sastrawan angkatan ’45 yang menjadi tonggak dalam film pertama buatan Indonesia, Darah dan Doa. Karya-karyanya tersebar di banyak buku, dan dia sendiri menulis sebuah autobiografi.  Ketika didapuk menjadi ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan kepanjangan tangan dari PNI, bertepatan dengan itu pula film-film Holywood masuk Indonesia. Ia menggalang aksi massa melalui pendirian PAPFIAS (Panitia Aksi Pengganyangan Filem Imperialis Amerika Serikat) pada tahun 1964. Aksi ini akan dikenang sebagai “Tahun matinya film Indonesia”. Beliau dipenjara pada zaman orba karena dianggap memihak komunisme dan Soekarno. Akhirnya, beliau meninggal pada akhir 2015 lalu di Belanda.

  1. Willybrodus Surendra Broto

Siapa yang tak kenal Rendra, si Burung Merak? Beliau tersohor juga sebagai pegiat teater. Puisi-puisinya yang sangat keras menyindir pemerintahan orde baru kala itu, ditambah lagi pertunjukan teaternya yang berjudul Sekdes, membuat pemerintah gatal. Akhirnya, pada hari ketika pembacaan puisinya dilempar amonia, 1974 itu, ia ditangkap dan menjadi tahanan resmi. Sampai kini sajak-sajaknya masih sering dibacakan ketika ada aksi massa atau ada kebijakan pemerintah yang tidak berkenan. Beliau wafat pada 2006.

  1. Wiji Thukul

Penyair ini begitu fenomenal, karena berhasil menggerakkan demo buruh pada 1991, masa ketika pemerintah begitu represif. Bersama Linda Christanty dan lain-lain, ia mendirikan JAKER. Sajak-sajaknya sangat keras dan lugas, dan begitu provokatif seperti pamplet. Pada akhir 1996 beliau seringkali berdemonstrasi bersama buruh, dan akhirnya, beliau termasuk mereka yang hilang pada 1998, dan sampai kini, dianggap misteri sejarah, di manakah keberadaan beliau. Terakhir, Thukul mendapat anugerah Asean Literary Award 2015. (AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY