NasDem Sebut Anies-Sandi Pecah Belah, Ini Daftar Parpol yang Pecah Karena...

NasDem Sebut Anies-Sandi Pecah Belah, Ini Daftar Parpol yang Pecah Karena Ahok

201
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Internal Partai Nasional Demokrat berang, sebab ratusan kader di DPC se-Jakarta Timur mendeklarasikan dukungannya pada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada 27/12, di Panglima Polim.

Melalui rilis media yang dikeluarkan pada hari yang sama, Bestari Barus, Wakil Ketua Bappilu Partai NasDem menyerukan “Sdr. Anies dan Sdr. Sandiaga agar menjunjung etika politik dengan tidak melakukan gerakan yang memecah belah partai politik,”

Justru, mari kita tinjau, partai politik mana saja yang berpecah belah karena mendeklarasikan dukungan, atau karena lobi politik di belakang layar!

1. Partai Hanura

Partai besutan Wiranto ini segera pecah ketika Hanura mendeklarasikan dukungan pada Basuki Tjahaja Purnama sebelum masa pendaftaran paslon. Mereka mundur pada 27 Mei 2016 lalu dengan simbolik melepas baju. Orang-orang yang mundur dari Hanura ini tercatat adalah kader potensial DPD Hanura Jakarta, seperti Rahmat Hs, yang memiliki ratusan loyalis dan memegang massa mesin partai. Otomatis, mesin partai Hanura di tingkat akar rumput sudah jauh melemah. Ia menilai, prosedur pencalonan tidak melalui proses yang seharusnya, akan tetapi hanya otoriter petinggi partai di tingkat DPP.

2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P)

Jauh sebelumnya pada akhir Januari 2016, DPC PDI-P se-Jakarta Utara menolak dicalonkannya Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon gubernur dalam Pilkada Jakarta kali ini. Berbeda dengan sosok Jokowi, Ahok dinilai tidak ramah rakyat kecil. Tak cukup sampai di situ, ketika PDI-P akhirnya memutuskan mendukung Ahok secara resmi, mantan ketua DPD PDI-P, Boy Sadikin, mengundurkan diri bersama ratusan loyalisnya di tingkat DPC dan DPRA. Boy akhirnya memutuskan mendukung Anies-Sandi dan bahkan menjadi salah satu tim kampanye. Boy menganggap, Ahok tidak layak diusung oleh PDI-P.

3. Partai Golongan Karya (Golkar)

Salah satu Ketua DPP Partai Golkar, Dedi Arianto, pada 10 Oktober 2016 lalu mundur dari Partai Golkar karena menolak pencalonan tokoh yang tidak seaqidah. Mundurnya ini diikuti oleh sekitar 231 kader partai Golkar lain, baik di tingkat pusat maupun daerah dan cabang. Tak lama, menyusul Ali Mochtar Ngabalin, memasang foto profil tolak pemimpin kafir. Partai Golkar yang sudah berusia tua dan berpengalaman harus kehilangan kader potensialnya karena memilih mendukung tokoh yang tidak sesuai harapan kadernya.

4. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

PPP, setelah islah, bersama dengan PKB, Partai Demokrat, dan PAN mendukung pasangan Agus Harimurti dan Sylviana sebagai peserta Pilkada Jakarta. Namun, secara mengejutkan, PPP kubu Djan Faridz pada tanggal 17 Oktober lalu mengalihkan dukungan pada pasangan Ahok-Djarot. Kontan, hal ini membuat kegaduhan sesaat di internal PPP, terutama kubu Romahurmuzy yang merasa dikerjai oleh Djan Faridz. Dengan perpecahan ini, menguat kesan bahwa ada lobi di belakang oleh kubu Paslon nomor 2. Tindakan ini bahkan dianggap mencoreng citra partai islam oleh sebagian masyarakat. PPP Jawa Tengah bahkan ancam akan lengserkan Djan Faridz karena tindakannya ini.

5. Partai Demokrat

Kelakuan salah satu kadernya yang juga seorang anggota DPR RI, Ruhut Sitompul, membuat Partai Demokrat harus kelimpungan. Ketika Partai Demokrat mendukung anak dari Mantan Presiden SBY, Agus Harimurti, Ruhut Sitompul justru berkoar-koar di berbagai media mendukung Ahok. Tak ayal, putra SBY yang lain, Eddie Baskoro, memintanya memilih mundur atau mendukung Agus. Ruhut akhirnya dipecat oleh Partai Demokrat pada akhir Oktober lalu karena dianggap melanggar kode etik.

6. Partai Nasional Demokrat

Sebagai partai pertama dan utama yang mendukung Ahok, publik tidak menyangka jika hari ini ratusan kader Nasdem se-Jakarta Timur atas nama Relawan Nasdem Sejati mendeklarasikan dukungan pada Anies-Sandi. Dukungan ini dideklarasikan simbolik dengan melepas baju dan diiringi kumandang takbir. Mereka menyatakan, hendak merestorasi diri. Mereka juga mencari pemimpin yang dianggap jujur, cerdas, sopan, dan apresiatif serta memenuhi rasa keadilan di masyarakat. Bestari Barus, Wakil Ketua Bappilu Nasdem pun berang dan berencana melaporkan Sandiaga Uno ke Bawaslu. (HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY