Menjelang Final: Ahok vs Agus, Pemenangnya Anies?

Menjelang Final: Ahok vs Agus, Pemenangnya Anies?

427
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Dalam permainan tiga pihak, mengalahkan, tidak berarti memenangkan. Memenangkan, tidak berarti mengalahkan. Kubu Ahok dan Agus terus bertarung dengan cara-cara yang ekspresif.

Apa yang diperlihatkan oleh pemerintah dengan menciptakan situasi yang menguntungkan Ahok, membuat kubu Agus tampak terzalimi. Situasi pengadilan, pernyataan-pernyataan pers, dan juga gerak-gerik pemerintah dan aparaturnya, entah kenapa dibuat setidak-alami mungkin.

Ahok dan Agus, kini tampak seperti dua pion kecil yang dimainkan Bunda Mega dan Papa Beye. Mesin partai kedua paslon begitu panas. Jaringan PKB, PPP, dan PAN terlihat begitu dimaksimalkan menjaring pemilih muslim. Sementara mesin partai PDIP, Nasdem, dan Golkar di tengah turun mesinnya, terus bergerak.

Ya; PKB dan PBNU sendiri tampak kelelahan. PMII tidak sepenuhnya mudah dikendalikan. Nahdliyin yang coba diambil hatinya oleh Ahok melalui isu minoritas, ternyata masih mudah tersulut akibat blunder pada KH Ma’ruf Amin.

Sementara, Nasdem yang dikira orang baik-baik saja, ternyata menyimpan bara dalam sekam. Deklarasi sebagian pengurus Nasdem pada Anies-Sandi adalah bukti nyata, bahwa restorasi partai itu masih bekerja. Ya, orang masih punya akal sehat. Orang masih punya nalar untuk menimbang.

Golkar, Hanura, dan terutama PDIP lebih dulu menelan pil pahit pengorbanan untuk mendukung Ahok. Tak kurang, kader-kader terbaik mereka eksodus. Boy Sadikin bahkan membawa gerbongnya menuju Anies-Sandi, dan menjadi salah satu tim suksesnya.

Ahok jelas tidak akan terpilih lagi. Partai pendukungnya sadar itu. 9 Naga pendukungnya, jika mereka adalah seorang pebisnis sejati, mestinya memahami itu. Daya jualnya sudah jatuh. Dia terpilih, hanya akan mengakibatkan konflik rasial meletus secara terbuka. Dia maju dan tidak terpilih pun, bisnis mereka terancam.

Terpilihnya Anies-Sandi adalah ancaman buat mega proyek Reklamasi. Mereka telah berjanji menghentikannya, namun, pihak Ahok sebagai petahana, terlanjur membangun ini itu. Sebagai tebusannya, kini Anies Baswedan dicari-cari kasusnya.

Kembali ke postulat awal, mengalahkan, tidak berarti memenangkan dalam percaturan tiga arah. Ahok dan Agus mungkin telah mengerahkan segalanya untuk saling mengalahkan. Akan tetapi, Anies tampak belum mengerahkan uang yang cukup, pasukan yang cukup, dan bahkan statemen yang cukup untuk memenangkan pilkada. Ia terkesan bukan setengah-setengah, tetapi, membiarkan Agus dan Ahok saling tikam, lalu Anies akan menghabisi keduanya dengan tenaga penuh saat mereka kehabisan tenaga.

Napasnya masih sangat panjang. Ia, malah nampak seperti orang tua yang menunggu dengan sabar ke mana angin bertiup dan menyiapkan perbekalan yang cukup. Ahok dan Agus, terkesan seperti pendekar muda yang pamer jurus dan kesaktian.

Secara komposisi kepartaian, Anies terlihat lebih didukung secara moril oleh Gerindra dan PKS. Tak satupun kader kedua partai itu keluar atau eksodus. Dua partai itu tetap solid. Prabowo dan Sohibul Iman, minim mengeluarkan statemen dan membiarkan Anies-Sandi berkreasi tanpa tekanan.

Bicara soal itu, Ahmad Heryawan dan Tuan Guru Bajang adalah contoh terbaik kepala daerah produk PKS. Mereka dibiarkan berkreasi tanpa beban visi misi kepartaian ataupun arahan pencitraan ketua partai. Ketua partai di PKS, tidak butuh dicitrakan. 99 anggota majelis syuro siap memberi sinyal batas bahaya kapan saja.

Agus, sangat terlihat di bawah tekanan ayahnya. Ahok, sangat-sangat terlihat saling memakan dengan Megawati. Keterpaksaan PDIP mencalonkan Ahok terlihat tak bisa lagi ditahan. Agus mungkin tenang. Tapi, dengan melihat komposisi parpol pendukungnya, mudah dibayangkan kue-kue apa yang akan dibagikan. Ahok, sudah sejak awal memamerkan rupa-rupa egoisme politiknya.

Sementara Anies-Sandi, masih melengang dengan santai. PKS seperti biasa dengan santun mengikuti segenap proses pemilu. Gerindra nampak terbawa dengan cara kerja PKS yang natural dan bersih. Tak ada serangan statemen apapun dari kedua partai itu pada paslon lain.

Debat kandidat, memang cukup panas. Akan tetapi, itulah namanya kedewasaan berpikir dan berdemokrasi. Situasi debat kandidat di Amerika Serikat misalnya, diwarnai kekerasan verbal yang berujung pada isu SARA. Bahkan pemilu sempat diambil alih oleh militer karena situasi yang kritis.

Selepas itu, kita tinggal menunggu. Mengalahkan, tidak berarti memenangkan. Jika Agus berhasil mengalahkan Ahok, ke manakah pemilih Ahok?

Yang menarik adalah, jika di babak pertama, Agus tersingkir. Pemilih Agus pasti pindah pada Anies Baswedan. “Pengacauan” yang dilakukan GNPF dan FPI terbukti cukup efektif membuka mata pemilih muslim. Jika Ahok tersingkir, maka pemilih Ahok, bisa jadi akan golput massal atau kecil berpindah pada Anies, bukan pada Agus. Dua paslon, 1 dan 2, sudah terlalu jauh berseberangan.

Menjelang final, segalanya menjadi detail. Dosa-dosa politik Ahok dipaparkan oleh kubu Agus. Dosa-dosa politik Cikeas, ditelanjangi Ahok. Mereka seperti lupa ada paslon ketiga. Sepertinya, paslon ini, lebih memiliki persiapan matang. Bagaimanapun, Anies adalah mantan ketua komite etik KPK era SBY. Sekaligus, ia adalah ketua juru kampanye Jokowi JK pada pilpres lalu.

Kunci-kunci politik manakah yang tidak dipegang Anies? Jokowi dan PDIP cs akan berpikir ribuan kali menyerang Anies. SBY sendiri akan menjaga jarak aman. Anies tahu banyak. Jika ada paslon yang paling bahaya, maka sepertinya Anies-Sandi memegang predikat itu.

Yang jelas, wajah Jakarta akan berubah selamanya. Kekerasan sektarian dan rasial membayang. Jika Ahok terpilih, itu hanya akan membahayakan etnis Cina di Jakarta. Pemilih muslim akan–nantinya–sangat mencintai gubernur pilihannya, antara Agus atau Anies. Kita akan memiliki gubernur muslim yang didukung ulama dan santri.(AR)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY