Menjawab Persoalan Kolonial Tentang Manusia Indonesia

Menjawab Persoalan Kolonial Tentang Manusia Indonesia

270
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Tulisan Mochtar Lubis-seputar manusia Indonesia- hanya melihat dan membedah masyarakat indonesia dari teori kehidupan saja. Bukan melihat pada esensial manusia indonesia secara nyata, pula tulisan ini sebenarnya dilatarbelakangi kepentingan Mochtar Lubis untuk mengkritik pemerintahan Orba.

Artinya, Mochtar hanya melihat manusia indonesia dalam pusaran rezim Orba dan pengikutnya tanpa mengindahkan masih banyaknya manusia yang berkepentingan dan memposisikan diri sebagai negarawan.

Lantas, bagaimana islam memandangnya? Umat yang sebaik-baiknya diciptakan-dalam keyakinan pemeluknya- adalah umat Islam. Itu jika mereka menegakkan yang ma’ruf, bertakwa, dan beriman kepada Allah saja.

Pada karangannya, Mochtar menguraikan bahwa stigma yang diberikan oleh Belanda pada manusia Indonesia: kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi (hooge geestarbeid), dan orang “inlander” pada umumnya sedang-sedang saja (middelmating): dalam beragama, gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terima kasihnya.

Hal ini sebenarnya tidaklah berbicara secara jujur dalam masalah keilmuan dan kajian ilmiah, mengapa demikian?

Seperti jika dikatakan kurang sanggup melakukan kerja otak yang tinggi, justru sebaliknya orang-orang Belanda lah yang tidak bisa memahami itu secara nyata, bila memang Belanda merasa mereka telah sempurna dalam kerja otak yang tinggi, kenapa Belanda sendiri masih mencari rempah-rempah di negeri antah berantah seperti Indonesia, bila memang mereka (Belanda) telah mengaplikasihkan kerja otak dengan tindakan seharusnya membuat sendiri rempah-rempah yang bisa menghangatkan badan mereka.

Sisi ini merupakan satu hal yang mengkaburkan sejarah secara liar.

Saat Belanda datang, saat itu pula ada kerajaan yang dilandasi oleh agama sebagai dasar negara. Tuduhan bahwa orang Indonesia begini begitu adalah suatu muslihat.

Muslihat ini sendiri, karena Belanda lupa adanya perlawanan besar dari pangeran diponegoro yang perang itu sendiri dilatarbelakangi agama sebagai perlawanan.

Jika kita lihat masa kontemporer maka stigma inilah yang dijadikan bahan cuci otak pada generasi Indonesia saat ini. Betapa tidak Belanda tidak mengerti sejarah, sampai pada akhir abad 18 menuju 19 satu kerajaan yang dilandasi agama sebagai dasar: Samudera Pasai belumlah tertaklukan.

Artinya, stigma tentang sedang-sedang saja dalam beragama maka Belanda tidaklah mengerti sejarah. Tentang gairah kerja, kejujuran, rasa kasihan, dan rasa terimakasih satu jalan dengan dua hal yang dijelaskan, bahwa Belanda tidak mengerti sejarah, juga tidak memahami indonesia secara menyeluruh.

Artinya, ketika kita melihat bentuk manusia indonesia maka jujurlah dalam membahas sejarah. Bagi saya manusia indonesia merupakan satu gabungan dari dasar sebaik-baik manusia yang menegakkan yang ma’ruf, bertakwa, dan beriman, ini bisa dilihat pada pemaktuban pancasila sebagai dasar negara yang mengabungkan entitas untuk mencapai pemimpin dunia.

SADAR SEJARAH, KEMBALI KE ISLAM BILA INGIN BERJAYA

Jika kita melihat pada sekeliling kita, sebuah warisan-warisan animisme perlahan dan pasti ditinggalkan oleh penganutnya.

Berhubungan juga bila kita membahas manusia Indonesia kedepannya, manusia yang seharusnya menjadi antitesis dari penjabaran oleh Mochtar Lubis.

Sejarah peradaban sebenarnya bukan hanya sekedar berbicara tentang peninggalan berbentuk seperti Candi Borobudur yang diklaim sebagai pewarisan dari Kerajaan Majapahit. Mari kita bicara sejarah pada porsi sebenarnya kejujuran dalam ilmiah: Kerajaan Majapahit adalah peradaban yang berdarah-darah.

Tak terhitung berapa kali penghianatan secara kecil atau besar-besaran pula di periode mereka. Maka benar bila, kerajaan itu sudah dibenci oleh Allah maka akan dihancurkan kerajaan itu dengan sendirinya.

Islam merupakan jawaban terbesar kedepannya bagi Indonesia, fase peradaban suatu negara-negeri yang didasari oleh islam sebagai modal besar kita menapaki periode manusia Indonesia selanjutnya.

Modal dasar yang terbesar terlihat pada penyebaran islam itu sendiri, dan bertambahnya kesadaraan masyarakat Indonesia bahwa sejarah-sejarah yang dibukukan saat ini merupakan alat orientalis untuk menghilangkan syarat utama dalam mewujudkan sebaik-baiknya umat yaitu beriman kepada Allah.

Bila kemudian ada yang berkata, kerajaan-kerajaan islam yang ada di indonesia tidak ada yang besar, lantas, mengapa Samudera Pasai dikunjungi oleh musafir besar yang mengalahkan Columbus dalam masalah ekspidisi dunia, yaitu Ibnu Bathutah?

Dengan demikian indikasinya adalah kerajaan-kerajaan islam yang ada di Indonesia bukan hanya bicara tentang kekuasaan dipenuhi nafsu seperti kerajaan Hindu dan Buddha, lebih dari itu kerajaan-kerajaan islam di indonesia lebih memikirkan perkembangan umat dalam kerajaannya, atau bisa dikatakan mereka semua adalah muslim yang punya visi sebagai negarawan.

Gagasan yang dibangun oleh Mochtar Lubis tentang manusia Indonesia yang munafik dalam beragama, seolah-olah alim tapi malam harinya mencari diskotik nightclub, hal ini dirasa tidak sesusai dengan data empiris, Mochtar Lubis hanya membatasi orang-orang alim dilihat dari rezim penguasa.

Karena mayoritas rezim penguasa adalah produk-produk non agamis khususnya islamis, karena hanya terbatas pada keluaraan lembaga-lembaga tanpa nilai islamis. Hari ini tercuci otak manusia Indonesia adalah warga negara yang baik adalah menuruti semua aturan hukum negara.

Lantas mari kita bertanya secara dalam, seseorang yang rajin tahajud, sedekah, dan zakat, apakah mereka bukan warga negara yang baik?

Islam memandang warga negara yang baik adalah warga negara yang menuruti semua aturan main untuk mencapai surga nantinya.

Mengapa islam menjadi jawaban peradaban, karena cita-cita bangsa ini pun telah bernilai islam meskipun secara tersirat, dasar negara sendiri merupakan bentuk perenungan panjang para ulama dan tokoh-tokoh nasionalis yang beragama islam, juga fakta sudah banyak sekali mengapa islam adalah jawaban bagi stagnya peradaban indonesia, ini bisa dijawab oleh kita semua tentunya dengan kejujuran dalam berbicara sejarah dan ciri manusia indonesia.

KESIMPULAN
Apakah masih relevan ciri manusia menurut
Mochtar Lubis? Tidak. Jelas dirasa sudah tertinggal zaman juga tanpa dasar kejujuran dalam meneliti ilmiah. Didukung juga saat ini pembentukan manusia indonesia telah diatur oleh negara seperti undang-undang No. 20 Tahun 2003 dan undang-undang No. 12 Tahun 2012 yang tujuannya sama membentuk manusia beriman dan bertakwa, artinya kriteria manusia indonesia sudah memenuhi faktor pertama untuk mencapai sebaik-baik umat.

Walaupun secara aplikatif belumlah diterapkan secara maksimal, tapi kemudian ini adalah momentum besar dan menjawab semua persoalan bangsa indonesia yang lupa akan sejarahnya. Sejarah, di mana para pendahulu bangsa merupakan manusia-manusia yang penuh dedikasasi dalam perengungan dan tindakan dalam melepaskan kolonialisme dan imperialisme yang mencengkram indonesia dari akar sampai buahnya.

Manusia indonesia saat ini adalah pengabunggan tiga entitas dalam masyarakat modern.

Pertama, berfikir berbeda dari pada pendahulunya, maka hal inilah pula menjawab semua tuduhan yang diberikan oleh Belanda tempo lalu juga sesiapa saja yang mengklaim bahwa manusia Indonesia saat ini adalah manusia yang tidak punya pengelolaan otak secara tinggi.

Apa buktinya, rumus matematika tersulit didunia siapa pemecahnya, orang islam. Siapa penemu 4G yang telah digunakan manusia-manusia dibelahan lainnya orang Indonesia dan islam agamanya.

Kedua, sadar akan sejarahnya, merupakan satu permasalahan genting bagi satu negara bila mereka tidak mengerti akar sejarahnya itu sendiri. Seperti Mochtar Lubis yang dirasa tidaklah meneliti lebih dalam dengan tidak hanya melihat manusia Indonesia pada rezim penguasa di zamannya, namun penelitian itu harusnya sampai akar rumput permasalahan bukan hanya sekedar mencaplok sana-sini tulisan pendahulunya.

Meski begitu, kita apresiasi tinggi pada Mochtar Lubis karena menghasilkan satu teori, walaupun teori itu saat ini dirasa kurang relevan.

Ketiga, manusia yang beriman dan bertakwa, Turki hari ini bangkit karena satu sokongan besar dibaliknya, yaitu kesadaran mereka dalam memaknai janji Allah bahwa umat islam adalah sebaik-baik umat yang diciptakan dan memang sudah mensetting sedemikian rupa untuk kedepannya menjadi pemimpin peradaban.

Indonesia sudah dua falsafah berjuang dalam negara dengan digunakannya komunis-terpimpin dan demokrasi liberal dan semuanya gagal hanya menjadikan Indonesia sebagai boneka. Tapi berbeda jika manusia Indonesia memegang teguh iman dan takwa maka realisasi cita-cita bangsa akan cepat terjadi karena kepentingan iman dan takwa adalah hidup mulia dan surga jawabannya.

Periode pembentukan manusia ini memanglah harus jadi fokus utama semua kalangan, membentuk manusia saat kemerdekaan yang keseratus nanti setidaknya sudah bisa bersaing minimalnya di tingkat asia.

Edo Hendra Kusuma
Penulis adalah pegiat budaya di bilangan Pancoran.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY