Menimbang Ekstrakampus di Pilkada Jakarta: Sebuah Analisis Bercanda

Menimbang Ekstrakampus di Pilkada Jakarta: Sebuah Analisis Bercanda

437
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Pilkada Jakarta sudah memasuki hitung mundur. Ketiga pasangan calon, Basuki-Djarot, Agus-Sylviana, dan Anies-Sandiaga memasuki ring. Pasangan Basuki-Djarot didukung Nasdem, Hanura, Golkar, dan PDI-P secara terpisah. Sementara, Koalisi Cikeas, Demokrat-PPP-PKB-PAN mengajukan Agus-Sylviana.

Pada last minute, secara mengejutkan koalisi Gerindra-PKS mengusung Anies-Sandiaga. Massa pemilih mereka cukup bervariasi dan nyaris tidak mungkin membayangkan Pilkada Jakarta dalam satu putaran.

Ke manakah keberpihakan organisasi mahasiswa ekstrakampus di Jakarta? Ekstrakampus merupakan organisasi yang mewakili basis kerja atau basis ideologi tertentu, dan sangat menarik mengamati perilaku mereka 2016 hingga 2017 ini.

PMKRI dan GMKI, basis massa terbesar mereka mungkin akan memilih pasangan Basuki-Djarot. Mengingat, kesamaan ideologi dan juga basis agama yang ada, terlepas dari partai pengusungnya. Di samping itu, Ahok sendiri dikenal cukup dekat dengan basis pemilih kristen.

PMKRI mengeluarkan kecaman keras kepada BEM di Jakarta yang disinyalir memberikan dukungan pada pasangan tertentu pada September ini. Ini terkait dengan pembentukan Garda Muda Jayakarta sebagai dukungan pada Yusril Ihza Mahendra.

Pasangan Anies-Sandiaga memang tampak sebagai “batu ujian” kepada pemilih Basuki-Djarot, sebab Anies Baswedan maupun Sandiaga Uno merupakan tokoh yang dijadikan idola oleh mayoritas mahasiswa berkaitan dengan keprofesionalan masing-masing.

Terutama, program semasa ia menjadi Rektor Paramadina, Sarjana Mengajar, dianggap menarik hati kalangan mahasiswa, terutama para pengurus BEM. Sandiaga Uno dengan profil pengusaha juga banyak dijadikan rujukan studi kasus pada wirausaha mahasiswa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM mungkin akan kuat mengarahkan dukungan pada Agus-Sylviana, mengingat PAN berada di balik koalisi itu. Akan tetapi, jika mengingat keduanya adalah sosok yang tidak dekat dengan identitas islami, sangat mungkin mereka mendukung Anies-Sandi.

Jelas tidak mungkin IMM mendukung Basuki-Djarot. Di sisi lain, tampaknya sebagian kader IMM akan kesulitan sebagai pribadi memilih Agus, mengingat sosok Susilo Bambang Yudhoyono di baliknya. PAN dan Amien Rais masih kuat juga mempengaruhi keberpihakan IMM.

Berbeda dengan itu, HMI Jakarta tampaknya akan mendukung Agus-Sylviana. Bukan kepada Sylviana, melainkan pada partai di baliknya. HMI kurang punya hubungan dengan Gerindra dan PKS. Selain itu, meskipun sebagian pengurus DPD Nasdem Jakarta juga berasal dari HMI, namun sebagai organisasi islam, HMI akan menolak Ahok.

Yang sulit, adalah bahwa Anies Baswedan ternyata kader HMI. Juga, fakta bahwa di balik Anies Baswedan masih ada kekuatan Jusuf Kalla sebagai pembawa opini. HMI terlihat belum mengeluarkan reaksi dari pencalonan ketiga pasangan yang ada.

Selain itu, Anies yang kala ditunjuk menjadi Ketua Komite Etik memberikan rekomendasi sehingga beberapa pimpinan KPK dicopot terkait kasus yang menimpa-juga-seorang alumni HMI Anas Urbaningrum, juga akan membuat HMI memikirkan hal yang sukar.

Akan tetapi, jika langkah ini kemudian dianggap upaya Demokrat untuk singkirkan Anas Urbaningrum, maka HMI mungkin akan menolak Agus-Sylviana dan memilih Anies, di lain pihak.

GMNI mungkin akan mendukung Basuki-Djarot. Satu yang sulit dibayangkan, bagaimana GMNI akan berkompromi dengan Basuki, sebab GMNI cukup kontra dengan penggusuran atau kapitalisme yang dilekatkan pada Basuki.

Selain itu, belum bisa dipastikan, apakah GMNI di Jakarta akan seirama dengan DPD PDI-P Jakarta dan mayoritas kader cabang-ranting PDI-P Jakarta yang jelas menolak Ahok. Kemungkinan berpindahnya kader GMNI menuju Anies-Sandiaga terbuka, mengingat eksodusnya sebagian kader PDI-P yang kecewa ke kubu itu.

Anies Baswedan sendiri merupakan tokoh yang sulit dihindari baik oleh kader HMI maupun GMNI. Ia pernah menjadi tim sukses Jokowi. Meski begitu, GMNI masih bisa menjaga jarak, sebab di sela kedekatannya secara ideologis dengan PDI-P, ia masih mengkritik Jokowi.

Ahmad Basarah, ketua alumni GMNI, adalah Anggota Legislatif DPR RI dari PDI-P.

Bagaimana dengan KAMMI? Keberpihakan organisasi ini kepada Anies-Sandiaga cukup bisa ditebak. Meski begitu, belum bisa dikatakan adakah KAMMI Jakarta akan sama dengan PKS. mengingat, konflik antara DPP PKS dengan Fahri Hamzah cukup kuat.

Fahri Hamzah terpilih menjadi Ketua Alumni KAMMI pada tahun ini. Jelas KAMMI dan HMI sejak jauh-jauh hari adalah ekstra kampus yang paling depan menolak petahana, berkaitan dengan ideologi mereka. Dengan begitu, KAMMI masih menjadi variabel yang dinamis.

Jikapun begitu, mungkin sebagian akan mendukung Agus-Sylviana. KAMMI dan HMI di tingkat daerah tampaknya sering sekali membuat statemen atau aksi kontra petahana. Meski begitu, di tingkat pusat dan wilayah, mereka terlihat sangat hati-hati.

Perilaku organisasi ekstra kampus di daerah luar Jakarta bisa sangat berbeda dengan di Jakarta. Jika di daerah kader ekstrakampus sangat fanatik pada tokoh atau partai tertentu, di Jakarta kader-kadernya lebih logis dan rasional sehingga sulit ditebak secara organisasi keberpihakannya.

Keterkaitan struktural dengan pengurus pusat masing-masing bisa diabaikan, sebab sebagaimana umumnya ekstra kampus, antara wilayah dan daerah dengan pusat belum tentu sejalan.

Bergabungnya Nusron Wahid kepada kubu Basuki-Djarot belum tentu membuat PMII akan mendukung Basuki. PKB sendiri ada di kubu Agus-Sylviana. Hubungan ideologis PMII dengan PKB akan dipastikan membuat keberpihakan mereka kepadanya.

Jelas PMII akan menolak Ahok, sebagaimana rekomendasi dari PBNU Jakarta. Akan tetapi, jika PMII melihat kemungkinan yang lain dari agenda politik Demokrat dan SBY di balik itu, mungkin sebagian akan mendukung Anies-Sandiaga, meskipun kemungkinan itu kecil.

Bagaimana dengan BEM Jakarta Raya? Minus BEM UI, BEM Jakarta Raya yang kini dimotori dari PNJ tampaknya juga tidak satu suara. Kampus-kampus di Jakarta Timur, Selatan, dan Barat mungkin akan terpecah pada Anies-Sandi.

Sementara, kampus-kampus di utara dan pusat akan berpihak pada Basuki-Djarot dan Agus-Sylvi. Mayoritas BEM di perguruan tinggi Jakarta Timur, Selatan, dan Barat diisi oleh pengurus dari KAMMI, HMI, dan IMM.

Meski begitu, aksi BEM Jakarta Raya yang masih dalam koordinasi BEM Seluruh Indonesia, akan dipusatkan untuk menolak petahana dan mengkritisi Pemprov DKI Jakarta. Koordinator Pusat BEM SI yang juga ada di Jakarta akan membuat ini menjadi makin menarik.

Deklarasi pembentukan Garda Muda Jayakarta yang merupakan ekspresi dukungan BEM se-Jakarta pada Yusril Ihza Mahendra, merupakan sikap politik yang tidak bisa dianggap remeh. Mungkin, BEM akan lebih banyak berpihak pada Anies-Sandiaga mengingat latar belakang keduanya.

Pembuatan beragam organisasi oleh para kandidat, seperti Jakarta Keren, Sahabat Sandiaga, Sahabat Djarot, dan Teman Ahok akan menyedot sebagian kader ekstrakampus ke sana.

Sebab, massa yang dibesarkan secara ideologis di dalam ekstrakampus adalah tenaga siap pakai, dan tentu saja shortcut untuk membentuk organisasi pendukungan pada salah satu kandidat.

Di sisi lain, ekstrakampus tentu akan bersikap lebih kritis dengan melakukan penjajakan pada setiap calon yang ada, maka di titik inilah keberpihakan mereka akan sangat fluktuatif. Basis pemuda islam yang terpecah antara Agus-Sylviana atau Anies-Sandi membuat putaran kedua lebih masuk akal diikuti dua pasangan itu.

Sementara, ini juga berarti semua organisasi ekstra kampus itu akan beradu strategi dengan aksi-aksi yang sifatnya sangat simbolik, perang statemen di dunia maya, atau juga menyusupkan kadernya dalam tim pemenangan berkaitan dengan tujuan masing-masing.

Massa ekstra kampus di Jakarta secara kualitatif tidak mencerminkan suara representatif. Akan tetapi, kemampuan yang dimiliki kadernya terbukti masih menjadi variabel yang penting untuk mempengaruhi masyarakat.

Ekstrakampus tidak perlu melakukan kegiatan pengumpulan sejuta KTP atau aksi sejenis, tetapi mereka mencerminkan ke mana keberpihakan masyarakat yang mewakili pemilih rasional, dengan mempertimbangkan tingkat melek politik masing-masing kadernya.

Redaksi Ruangbicara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY