Mengingat Natsir: Pada Telaga Sejarah

Mengingat Natsir: Pada Telaga Sejarah

45
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Seringkali, ketika nasihat tak lagi ampuh membawa perubahan, ketika rasa percaya diruntuhkan oleh slogan-slogan kekuasaan, ketika fanatisme dan egoisme membutuhkan hati memabukkan jiwa, maka saat itu ajakan untuk bercermin pada telaga masa lampau menemukan momentum.

Ada amanah besar untuk kita semua dari pak Natsir, jadikanlah Islam sebagai inspirasi perjuangan. Dahulu, ketika dirinya muda telah berani berpolemik dengan pendeta di media massa, maka polemik adu gagasan juga amanah besar dari beliau.

Paham ini, kita sebagai anak muda jaman edan seperti sekarang agaknya mesti mengingat parit-parit ingatan akan masa lampau, karena sejatinya ingatan adalah pintu pembuka perjuangan.

Dan, ingatan tak dapat diraih tanpa membaca dan warisan tak dapat diketahui tanpa tulisan. Pak Natsir menjadi contoh bibir dan pena satu padu untuk jadi amal sholeh bekal dunia akhirat kita.

Lebih dalam lagi, pak Natsir juahlah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan yang tampaknya kecil.

Seperti kisah yang dituturkan oleh Amin Rais dalam sebuah Artikel yang dimuat dalam buku Natsir: Politik Santun di Antara Dua Rezim

Di sana Amien Rais menceritakan bahwa ibunya sangatlah pengagum Natsir, tapi pada satu waktu ketika pak Natsir berada di Jogja ibunya melihat Natsir minum dengan tangan kiri.

Sontak ibunya kaget, tak sampai akal kalau pak Natsir juga manusia biasa. Namun, pak Natsir juga mengajarkan kita bagaimana cara berpolemik yang elegan membuat kita dihormati oleh teman dan disegani oleh lawan.

“Bung Natsir, kita ini dulu berpolemik, ya, tapi sekarang jangan kita
buka-buka soal itu lagi.” “Tentu tidak. Dalam menghadapi Belanda,
bagaimana pula? Nanti saja.” cuplikan perbincangkan dirinya bersama bung karno.

Ada waktu dimana urat saraf yang paling terdepan, Ada waktu kecerdasan jadi pertunjukan, tapi juga ada waktu dimana kata berdamai demi maslahat yang lebih besar.

Itulah pak Natsir, guru besar bagi kita semuanya, memang tak tepat bila kehidupan dirinya hanya diuraikan oleh tulisan singkat ini, tapi mari mengenang dan membaca masa lalu untuk pelajaran bagi kita semuanya.

Edo Hendra Kusuma

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY