Mengejutkan, Politisi PKS Paparkan Hubungan Ahok, Jokowi, dan Penjajahan Modern Cina

Mengejutkan, Politisi PKS Paparkan Hubungan Ahok, Jokowi, dan Penjajahan Modern Cina

132
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Ahmad Zainuddin, mantan Anggota Komisi 1 DPR RI memaparkan potensi penjajahan Cina ke Indonesia dalam sebuah kesempatan di Rawamangun, pada 23/02 lalu.

“Kita harus berpikir. Kenapa kalangan tertentu sangat ingin Ahok memenangkan pilkada meskipun dengan resiko tinggi?” katanya. “Pasti ada sesuatu yang diinginkan, yang jelas lebih besar dari resiko yang ada,”

Ia menjelaskan, bahwa saat ini negara Cina sedang mengembangkan jalur sutera baru yang membentang di daratan menuju Eropa dan Rusia, serta satu jalur melalui laut.

Jalur sutera yang membentang ke Rusia dan Eropa sedang dalam taraf dibangun. Di Asia Tenggara, ada kecenderungan Cina meninggalkan Singapura karena dianggap kurang efisien.

Indonesia dan Australia menyediakan konsumen tanpa batas dan sumber daya alam yang menggiurkan. Itu sebabnya, Cina sangat menginginkan jalur laut di Indonesia.

Pada saat Jokowi-JK berkampanye, Zain menganalisis alasan kenapa salah satu program andalannya adalah tol laut. “Itu sangat berhubungan dengan jalur sutera Cina,” katanya.

“Jangan lupa bahwa reklamasi pantai utara Jakarta tidak akan diisi orang-orang pribumi, mereka adalah ekspatriat dari Cina yang akan disiapkan bagi menguasai perekonomian Indonesia.”

Di sisi lain, ia juga menegaskan hubungan antara pelabuhan besar yang akan dibangun di pesisir utara Jawa Barat–yang ditentang penduduk setempat–dengan kapitalisme Cina ini.

Sejak awal, rezim kali ini memang dekat dengan Cina dan berkomunikasi berulang-ulang dengan Partai Komunis Cina. Bahkan, saat ini Cina adalah negara investor terbesar ketiga bagi Indonesia, dan akan terus bertambah naik.

Jalur dagang Cina ini nantinya akan membentang dari daratan Cina, ke barat menuju daratan Eropa, ke utara melewati Mongolia dan Rusia, serta ke Asia Tenggara melewati Thailand dan berakhir di Indonesia, Zain memaparkan.

Tidak ada yang buruk dari sebuah perdagangan, akan tetapi, ada potensi penjajahan baru yang akan timbul. Yang dipertaruhkan adalah kekayaan dan kebesaran bangsa ini.

“Kita harus hati-hati. Itulah di antara urgensi memenangkan pribumi. Ini demi harkat dan martabat bangsa Indonesia sendiri,” tegasnya. (AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY