Matinya Nurani Kampus Gadjah Mada

Matinya Nurani Kampus Gadjah Mada

362
0
BERBAGI

Oleh : Mahasiswa UGM

Baru saja para lelaki tangguh—termasuk saya pulang sehabis menunaikan ibadah jumat rutinnya, saya teringat tentang apa yang disampaikan seorang pria dengan suara menggelegar di mimbar saat saya berada di tempat peribadatan tadi. Pria yang sejak tadi berbicara dengan semangat api bak orasi tiba-tiba memelankan suaranya lantas bertanya kepada para lelaki di hadapannya “Kita dengan lemahnya menangisi barangsiapa yang mati jiwa nya tetapi kenapa kita tidak menangisi barangsiapa yang telah mati hati nya?”. Saya tersentak seketika mendengar hal itu. “Hmm.. ini orang benar banget, mulai sekarang saya harus sering-sering menangisi untuk barangsiapa yang mati hati nya”.

**

Di tengah hiruk pikuk pembicaraan tentang film mana yang lebih bagus untuk ditonton antara Civil War dan AADC 2, Mahasiswa UGM termasuk saya lebih memilih jalan tengah dengan menonton sebuah kisah yang lebih menarik dari kedua itu. Tontonan ini mengajak para penikmat dunia perfilman dan perdramaan untuk merasakan atmosfer yang real dimana kawan-kawan sekalian akan sadar bahwa ini bukanlah sekedar tontonan saja, ini sebuah kenyataan yang begitu tragis. Saking menariknya tontonan ini, di sepanjang waktu emosi kita akan terkuras habis karenanya. Hebatnya tontonan ini dengan seketika bisa membuat kita jengah, sedih, jengah, marah, nangis, sesak dalam hati dan tertawa sebelum akhirnya menjadi gila karena betapa besar kegundahan yang ada. Tontontan ini kita namai dengan Matinya Nurani Kampus Gadjah Mada.

Waktu-waktu ini, kampus Gadjah Mada yang konon katanya menjadi perwajahan makna dari Kerakyatan sedang mengalami sakit keras yang meski sulit untuk disembuhkan, tetapi saya yakin masih ada cara untuk menyembuhkannya. Kampus Gadjah Mada bukan mengalami sakit biasa seperti flu, pilek, mimisan atau sakit yang agak parah seperti tumor, gagal ginjal, kanker. Kampus kita sedang mengalami sakit yang lebih menyakitkan daripada itu, kampus ini sedang terancam untuk mati hati nya. Tentu yang saya maksud sebagai kampus Gadjah Mada bukan berarti Gadjah Mada secara keseluruhan. Melainkan para penguasa—pembuat kebijakan yang menjadi perwajahan utama. Jadi, kalau kampus Gadjah Mada dicap sebagai kampus yang sedang sakit, jangan sesekali mempertanyakan dan mempersalahkan kepada Mahasiswa nya, terlebih dahulu kita tanyakanlah kepada para penguasa di dalamnya, ada yang membuatmu sakit Pak, Buk?

Matinya Nurani Kampus Gadjah Mada tidak dikarenakan oleh sebab yang tunggal. Hal ini disebabkan karena komplikasi penyakit yang telah dipupuk dan dirawat sedemikian rupa sehingga puncak-puncaknya menggerogoti, menutup hati nurani dan mempengaruhi sikap Ibu dan Bapak yang berada di tampuk kekuasaan sana dalam menentukan kebijkana. Di mulai dari penyakit yang menimpa di tahun lalu, di tengah dihapuskannya anggaran beasiswa PPA dan BBP oleh Menristekdikti, Ibu dan Bapak menambah beban anak-anak Ibu dan Bapak sekalian dengan menghapuskan penundaan pembiayaan UKT yang pada akhirnya banyak Mahasiswa yang dicutikan paksa sebab tak mampu membayar tepat waktu sesuai permintaan Ibu dan Bapak.

Ambisi kampus Gadjah Mada menjadi World Class University yang kata Ibu dan Bapak sekalian untuk mengejarnya berarti kampus harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam berbagai hal telah mencerabut nilai-nilai luhur dari akarnya sendiri. Pada tahun 2014 lalu Ibu dan Bapak sempat berisihkeras untuk memindahkan PKL Sunmor ke daerah Karangmalang dengan dalih menciptakan kampus edukopolis. Kini, dengan dalih yang sama, Ibu dan Bapak ingin menggusur lapak kantin Bonbin tanpa menjadikan hasil kajian kawan-kawan saya sebagai pertimbangan pembuatan kebijakan. Pada waktu itu Ibu dan Bapak terlihat mendengarkan dengan serius pemaparan kajiannya. Ibu dan Bapak mendengarkannya, Tapi sayang sepintas angin lalu saja. Ibu tidak mendengarkan jeritan hati kami dan para pedagang kantin Bonbin yang jaraknya teramat dekat dengan Ibu. Ibu dan Bapak bercita-cita kampus ini menjadi kampus edukopolis dengan mengorbankan kaum lemah di dalamnya. Kampus ini terlena dengan konsep edukopolis tetapi Ibu dan Bapak membiarkan begitu saja Lapangan GSP ditumbuhi ratusan mobil yang menghalangi pemandangan dan jalan untuk bersepeda. Ibu dan Bapak juga tak bergeming dan memberi kami kabar kenapa proyek wisdom park mangkrak dan kenapa taman soshum tidak seindah apa yang ada di master plan yang malah membuat saya bingung gaya jalan seperti apa yang tepat untuk melewatinya, apakah gaya zig zag, tusuk sate, atau berjalan mundur kebelakang. Tolong beri kami penjelasan kami terkait hal ini Pak Buk..

Mungkin saat ini Gadjah Mada menjadi kampus terbaik no 1 di Indonesia, kami sepakat akan hal itu, tapi sangat disayangkan menjadi nomor 1 itu didampingi dengan kenyataan bahwa Gadjah Mada berhenti menjadi kampus Kerakyatan. Tunjangan kerja tenaga pendidikan (TUKIN) tak jelas rimba nya ditambah lagi dengan persoalan Uang Kuliah Tinggi (UKT) yang kian hari kian menyiksa. Betapa mahalnya biaya yang harus dibayarkan, tidak adanya transparansi terkait penentuan besaran UKT, biaya-biaya tambahan yang dibayarkan di luar UKT dan bahkan penentuan ukt yang tidak memperhatikan faktor selain penghasilan benar-benar telah mencekik kami. Saya memberanikan diri jauh-jauh merantau untuk mengeyam pendidikan di kampus yang katanya milik rakyat ini karena Gadjah Mada yang kami pahami adalah benar-benar milik rakyat maka dari itu biaya pendidikan juga manusiawi dan merakyat Pak Buk.

Selain perihal itu, Gadjah Mada juga sedang terjangkit semacam penyakit yang dulu juga menjangkit Orde Baru (Re:ORBA). Menjalani kehidupan sebagaimana mestinya civitas akademika hari ini sudah seperti orang-orang yang dulu waktu ORBA suaranya dibungkam—jangan-jangan selain dibungkam, sebentar lagi civitas yang kritis bersuara juga akan hilang tidak jelas kemana dan dimana rimba nya. Suasana ORBA begitu melekat pada hari ini Bu, Pak. Ibu dan Bapak sebagai penguasa, lalu kami mahasiswa sebagai rakyat yang ruang geraknya dibatasi. Kawan kami menyambangi rumah Ibu untuk bersilaturahmi Ibu tuduh berbuat yang tidak menyenangkan, sampai-sampaikan dengan baik hati nya Ibu mengirimkan surat cinta dan undangan makan bersama kepada orang tua kawan kami tersebut.

Belum selesai sampai disana, kami bertambah pusing dengan peranan Mahasiswa dalam PPSMB yang tidak lagi Ibu dan Bapak anggap penting sehingga Ibu dan Bapak batasi peran tersebut. Ibu dan Bapak menjadikan kami hanya sebagai pemandu sorak dan penonton di lapangan dalam PPSMB. Sementara Ibu dan Bapak di kursi hangat tertawa cekikan dan bangga menerima pujian dari masyarakat awam. Lalu, MWA Unsur Mahasiswa yang seharusnya dipilih atas musyawarah mufakat, dengan kekuasaan, Ibu dan Bapak begitu leluasa mengintervensi pemilihannya. Di Gelanggang Ibu dan Bapak juga dengan tega mengancam kawan-kawan UKM untuk tidak dibantu pendaannya kalau tidak mau dinomenklatur-kan. Apa selanjutnya Buk, Pak? Hayati lelah buk pak..

Banyaknya penyakit yang menjangkit di tubuh Gadjah Mada membuat kami bertanya-tanya. Buk, Pak, bukankah Ibu dan Bapak adalah bagian dari generasi yang lahir lebih dahulu dari pada kami? Ibu dan Bapak tentu memiliki pengalaman yang luar biasa, merasakan manis asam kehidupan, berjumpa dengan banyak kelompok masyarakat yang hal ini mustinya mengasah kepekaan Ibu dan Bapak sekalian, tetapi kenapa kemudian apa yang kami lihat hari ini semua serba bertentangan dengan jeritan nurani? Orang yang saya ceritakan di awal, yang dengan berapi-apinya menyampaikan pesan tentang mati nya hati juga menyampaikan kepada saya bahwa matinya hati itu ditandai dengan tidak adanya rasa bersalah dalam tindakan, merasa baik-baik saja dan menanggap ini demi kebaikan. Apakah itu benar Buk, Pak? Apakah kampus kita hari ini telah tercerabut dari akar masyarakat dan nurani kerakyatan? Apa kebijaksaan dalam pembuatan kebijakan telah tercerabut dari benak penguasa kampus sehingga begitu banyaknya penyakit yang ada menyebabkan komplikasi dan akhirnya matinya nurani Gadjah Mada?

Sepanjang waktu saya dan banyak kawan-kawan saya lainnya bersedih, kami menangis atas apa yang menimpa kampus Gadjah Mada ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada kampus Gadjah Mada ini sehingga membuat banyak orang tergerak untuk menangisinya? Apa hal besar yang menggerogoti nurani penguasa kampus ini sehingga para lelaki tangguh dari barat dan timur pun tidak bisa menghalaunya? Apakah nurani tersebut tidak bisa diselamatkan lagi? Sampai saat ini pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menghantui kami, jadi kami mohon Ibu dan Bapak sekalian bersedia membantu kami untuk menjawab pertanyaan sulit itu..

Buk, Pak, Saya percaya bahwa apa-apa yang disampaikan dari hati akan sampai ke hati. Apa yang menjadi keresahan saya dan kawan-kawan Mahasiswa lainnya yang disuarakan dalam segala rupa adalah bentuk luapan rasa cinta kami, tulus dari hati kami terdalam kepada Ibu dan Bapak yang berada di singgasana kampus Gadjah Mada. Kami berharap besar dengan kami mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hati kami dapat Ibu maknai dengan hati yang tulus pula sehingga maksud baik kami—saya lewat tulisan ini, tidak Ibu dan Bapak anggap sebagai pembangkangan kepada orang tua dan harus ditertibkan dengan mengirimkan surat cinta kepada mereka yang berada di rumah atau bahkan menitipkan kami untuk dirawat oleh pak polisi.

Terakhir, Kawan-kawan civitas akademika Gadjah Mada seluruhnya yang sedang menyaksikan tontontan menyedihkan ini, untuk menghargai apa yang sedang berlangsung saat ini mari bersama kita tangisi atas kematian hati kampus yang kita cintai ini. Matinya Nurani Kampus Gadjah Mada.

Di samping itu, dengan kondisi kampus Gadjah Mada sedang tidak baik-baik saja, maka mari bersama—masih dengan tangisan, kita doakan agar esok lusa kampus ini segera sehat kembali dan agar nurani nya tidak jadi mati.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY