“LGBT Dielu-elukan Sebagai HAM, Tetapi Nasib Kami yang Terpojokkan Tidak Pernah Dibahas”

“LGBT Dielu-elukan Sebagai HAM, Tetapi Nasib Kami yang Terpojokkan Tidak Pernah Dibahas”

250
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Hari Perempuan yang digadang PBB pada Selasa, 08/03 begitu meriah di media sosial. Orang berlomba memberikan statemen terhadap persamaan hak perempuan, seperti buruh, hak kepemimpinan, dan lain-lain. Berkaitan dengan itu, tim Ruangbicara berkesempatan mewawancarai beberapa perempuan pengguna cadar yang bertahan di tengah tidak bersahabatnya opini yang dibangun pemerintah.
Qurota a’yun, mahasiswi asal Bekasi, Jawa Barat adalah perempuan yang sedang melanjutkan studi di LIPIA, Jakarta. Ia mengatakan, mengendakan cadar agar mendapatkan pahala. Gangguan dari masyarakat sempat ia rasakan, tapi hal itu tidaklah begitu mengganggu. Ia mengaku pemerintah di Indonesia lebih bersahabat ketimbang pemerintah Paris, Perancis, misalnya, yang melarang penggunaan cadar.
Di tempat lain, Rifa, mahasiswi asal Aceh punya pengalaman lebih keras. Ia pernah diberi perlakuan sinis dan cuek  oleh masyarakat yang belum mengerti. Di sisi lain ia kadang dicibir oleh tetangga atau keluarga sebagai “teroris”. Ironis, bahwa kekerasan verbal semacam ini masih terjadi terhadap perempuan di Indonesia. Ia bahkan menambahkan, bahwa ia pernah disuruh membuka cadarnya ketika bertransaksi di sebuah bank, padahal menurutnya syarat seperti itu tidak ada. Ia meminta kepada masyarakat dan pemerintah untuk menyamakan hak-hak dan perlakuan terhadap perempuan bercadar. “Kami kan WNI juga,” tandasnya.
“Menurut saya sih, perempuan memang dari dulu dikhususkan, sebagaimana dalam AL-Quran ada surat khusus perempuan,” Rifa menambahkan.
Lain lagi dengan Seri Irawati, mahasiswi asal Aceh lulusan AKPER ini mengenakan cadar justru karena melihat senior-seniornya di kampus lebih menghormati perempuan bercadar ketimbang yang tidak. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya ia memantapkan diri menggunakan cadar. Tak kurang diskriminasi yang muncul, dan ejekan verbal seperti teroris, kuno, dan ninja sering ia terima.
Ia pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan. Ada seorang ibu menakut-nakuti anaknya yang tidak menurut, “Nanti ibu kasih ke dia, lho!”. Ia menegaskan, sulit mencari pekerjaan setelah bercadar. Ia dikeluarkan dari tempatnya mengajar setelah memutuskan bercadar, karena dianggap tidak cocok dengan kultur di sana. Ia berharap, pemerintah menyamakan perlakuan terhadap seluruh penduduk Indonesia. “LGBT dielu-elukan sebagai HAM, tapi nasib kami yang terpojokkan tak pernah dibahas”. Semoga pemerintah bisa bersikap adil, begitu harapan Seri. (AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY