Kisah Umar dan Permulaan Seruan Azan Dalam Islam

Kisah Umar dan Permulaan Seruan Azan Dalam Islam

148
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Sesudah Rasulullah merasa tenang di Medinah, pada waktunya tanpa dipanggil orang-orang datang berkumpul untuk salat.

Rasulullah ingin menggunakan trompet seperti trompet orang Yahudi untuk memanggil Muslimin. Tetapi ia tidak menyukai trompet, maka dimintanya menggunakan genta yang ditabuh pada waktu salat seperti dilakukan orang Nasrani.

Genta dibuat dengan menugaskan Umar agar keesokannya membeli dua potong kayu. Sementara Umar sedang tidur di rumahnya ia bermimpi:

“Jangan gunakan genta, tetapi untuk salat serukanlah azan.” Umar pergi menemui Rasulullah memberitahukan mimpinya. Tetapi wahyu sudah mendahuluinya.

Ada juga disebutkan bahwa Abdullah bin Zaid (bin Sa’labah) sudah lebih dulu datang kepada Rasulullah dengan mengatakan:

“Rasulullah, semalam saya seperti bermimpi: Ada laki-laki berpakaian hijau lewat di depan saya membawa genta. Saya tanyakan kepadanya: Hai hamba Allah, akan Anda jual genta itu? Orang itu menjawab dengan bertanya:

Akan Anda apakan? ‘Untuk memanggil orang salat,’ jawab saya. ‘Boleh saya tunjukkan yang lebih baik?’ tanyanya lagi.

Kemudian ia menyebutkan kepadanya lafal azan. Rasulullah pun lalu menyuruh Bilal dan ia menyerukan azan dengan lafal itu. Umar di rumahnya mendengar suara azan itu, ia keluar menemui Rasulullah sambil menyeret jubahnya dan berkata:

“Rasulullah, demi Yang mengutus Anda dengan sebenarnya, saya bermimpi seperti itu.” Sejak itu suara azan bergema di udara Medinah setiap hari lima kali, dan ini merupakan bukti yang nyata bahwa Muslimin kini di atas angin, lebih unggul.

Azan untuk salat merupakan seruan kepada disiplin yang menambah kekuatan orang yang berpegang pada disiplin itu.

Bahwa hal ini sudah dikatakan Umar sebelum turun wahyu, suatu bukti bahwa agama telah menyerap ke dalam diri orang kuat ini, sehingga pikirannya hanya tertumpu pada disiplin yang akan membuat agama ini makin kukuh dan tersebar luas.

Begitulah sekelumit kisah, yang didapat pada Umar bin Khattab, karangan Husain Haekal.
(HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY