Ketika Tan Malaka Meramal 2018

Ketika Tan Malaka Meramal 2018

32
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Masalah politik, ekonomi dan sosial yang mungkin menimbulkan revolusi di Indonesia rasanya tak perlu kita kupas lagi, karena sudah beberapa kali kita terangkan di atas. Cukuplah dikemukakan kesimpulan yang di bawah ini.

1. Kekayaan dan kekuasaan sudah tertumpuk ke dalam genggaman beberapa orang kapitalis.
2. Rakyat Indonesia semuanya makin lama semakin miskin, melarat, tertindas dan terkungkung.
3. Pertentangan kelas dan kebangsaan makin lama semakin tajam
4. Pemerintah Belanda makin lama semakin reaksioner.
5. Bangsa Indonesia dari hari ke hari semakin bertambah kerevolusionerannya dan tak “mengenal damai”.

Postulat revolusi di atas bukan dikeluarkan oleh Abul A’la Al-Maududi, Abdullah Azzam, atau Hasan Al-Banna. Tetapi tokoh besar bangsa kita, Tan Malaka. Tulisan di atas ditulis lebih 90 tahun yang lalu akan tetapi, rumusannya masih dianggap relevan hingga sekarang.

Di bulan Januari yang basah ini, ramai orang mempercakapkan kemungkinan apa yang terjadi pada setahun kedepan; pada tengah tahun; dan pada akhir tahun. Tan, bukan sedang merumuskan teori. Ia sedang meramalkan tanda-tanda revolusi yang selalu berulang:

Mengenai kekayaan dan kekuasaan yang bertumpuk; kiranya masyarakat sudah bosan dengan statistic orang-orang terkaya yang hanya berasal dari golongan tertentu dan kini mendekat kepada kekuasaan untuk makin memperkaya diri dan mengamankan bisnisnya.

Mengenai pertentangan kelas dan kebangsaan yang makin tajam telah dibuka dengan kasus E-KTP dan penistaan agama. Nama-nama kakap seperti Gandjar Pranowo dan banyak orang lain yang terlibat, tak akan pernah tersentuh hukum, dan memang tak akan pernah. Kasus penistaan agama bahkan membuktikan bahwa, hukum, hanya akan menyentuh mereka yang dianggap salah oleh pemerintah, bukan oleh hukum.

Mengenai kemiskinan; kita juga tak perlu mengulang kelangkaan gas elpiji 3 Kg dengan harga jauh di atas harga eceran tertinggi, kelangkaan premium tanpa penjelasan yang wajar, dan tidak menentunya tariff listrik. Pemerintah telah gagal menjamin ketersediaan energi bagi rakyatnya sendiri.

Mengenai reaksionernya pemerintah: ditangkapnya para ulama adalah bagian dari statistic belaka. Persekusi Ust. Alfian Tanjung. Tidak amannya percakapan pribadi sosial media. Pengusiran dan pencegatan Ustadz Abdul Shamad. Ditangkapnya beberapa aktifis mahasiswa. Dilarangnya beberapa aksi massa dengan alasan mengganggu keamanan.

Dan, rumusan ini ditutup Tan dengan gambaran kelima: bangsa yang mengalami keempat hal di atas akan segera naik tensinya. Orang jadi cepat panas dan reaksioner. Kita tengah memasuki zaman baru ketika wacana kudeta dan revolusi bukan wacana utopis, tapi percakapan sehari-hari masyarakat kelas bawah yang merasakan ketidakberesan pemerintah di tingkat pusat yang tercermin dari kebijakannya.

Dikotomi antara kalangan Putih dengan kalangan Merah begitu kuat. Merah putih, sebentar lagi terkoyak. Mereka yang membela keyakinan mereka dan tafsiran tradisional atas Pancasila, melawan orang-orang yang sehari dua hari, sehalaman dua halaman mengecap filsafat barat yang praktis dan tanpa nilai patokan yang jelas.

Reaksi besar masyarakat atas kepraktisan dan sikap pukul rata orang-orang petinggi ini terlihat dengan aksi 15 Oktober 2016, 4 November 2016, dan 2 Desember 2016. 1510, 411, dan 212. Mereka bersatu untuk melawan dan membela hal yang sama dan seia sekata.

Tak perlu memperdebatkan apakah Tan Malaka sedang meramal, ataukah sedang merumuskan teori. Tetapi, tanda-tanda datangnya revolusi dalam rumusan Tan sudah dekat. Sangat dekat. Pemerintah yang citranya merakyat tak bisa membohongi lebih banyak orang dengan kebijakannya yang menyakitkan.

Setelah rumusan Tan di atas, revolusi terjadi pada 1926 secara local di Banten tetapi memang mudah ditumpas. Tetapi, 4 situasi dasar revolusi di atas mengubah para petani dan ulama menjadi orang-orang pemberani yang melawan belanda.

Pada 1945 momentum itu terjadi dan orang memberanikan diri memerdekakan diri. Di mana-mana pekik merdeka menguar dan tanpa bisa dicegah lagi, hingga puncaknya 10 November di Surabaya pada 1949, ribuan orang rela mati untuk mengusir penjajah.

Di Iran, pada 1980-an, Garda Revolusi sang Ayatollah mendobrak semuanya dan dianggap revolusi besar ketiga, yang paling berhasil di dunia. Rakyat sudah muak dengan dominasi orang lain di negaranya sendiri. Ini mengikuti kasus-kasus di Negara lain: Suriah, Arab Saudi, dan seterusnya, dan terus berulang bertahun-tahun kemudian hingga musim Arab Spring yang akhirnya tak selalu baik.

Lalu bisa jadi kita mulai bertanya; kapankah datangnya revolusi itu? Apakah datangnya pada saat pemilu 2019? Ataukah pemilu Jakarta dan Jawa Barat akan jadi pemicu besar seperti revolusi yang terjadi di Negara-negara lain, tersebab hadirnya “parasite” gerakan Komunis, Al-Qaeda, atau Ikhwanul Muslimin?

PDIP sebagai partai penguasa kelihatan masih abai; atau ia mendapatkan garansi dari Negara kuat di belakangnya bahwa kita berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Iran, ada di gerbang revolusi palsu yang diciptakan Amerika. Negara-negara Arab lain juga begitu. Cina sendiri dalam keadaan yang tidak begitu aman sebab jalur dagangnya sukses dirusak oleh kebijakan luar negeri Amerika.

PDIP sudah kalah di Jakarta. Jawa Barat dan 4 provinsi lain menjadi pertaruhan. PDIP sudah terbukti mau melawan kehendak konstituennya sendiri di Jakarta dengan memasang orang yang bahkan tidak mewakili platform dirinya. Sebut sajalah, ini sosialisme palsu bagi Aidit.

Kapankah datangnya revolusi itu: tak perlu kita perdebatkan. Tapi, sudah jelas revolusi akan menimpa siapa.

Redaksi Ruangbicara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY