Ketika Si Batil Mencari Cara Kalahkan Gubernur Muslim

Ketika Si Batil Mencari Cara Kalahkan Gubernur Muslim

147
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Mari sekali-kali kita berpikir sebagai musuh. Jika kita bertindak sebagai pihak yang ingin merusak kemenangan Gubernur Muslim, kita harus melakukan apa?

Untuk mengalahkan Kubu Cikeas, kemarin mereka melakukan cara yang terbilang klasik dan sangat kotor. Ya, Antasari Azhar dilepaskan lalu dibiarkan bernyanyi.

Nyanyiannya, sengaja dilepaskan kepada publik agar masyarakat menghakimi SBY dan Partai Demokrat. Agaknya, cara ini berhasil untuk menjatuhkan Cikeas.

Rata-rata, perolehan suara mereka di semua Kabupaten/Kota di DKI, tidak sampai dua puluh persen. Akan tetapi, Agus kalah terhormat. Ia membuat pendukungnya mengangkat topi.

Urusan memecah belah umat dan kriminalisasi tokoh GNPF ternyata kurang berhasil dan malah mengundang simpati umat untuk membela tokoh-tokoh itu.

Jajaran pendukung Agus-Sylvi terdiri dari Partai Demokrat, PKB, PAN, dan PPP. PAN dan PPP sudah resmi mendukung pasangan Anies-Sandi di putaran dua.

Kini tinggal menunggu sikap Demokrat dan PKB.

Strategi yang paling mungkin dilakukan, kini harus mempertimbangkan biaya politik yang sudah besar-besaran dikeluarkan di putaran pertama.

Jujur saja, kini timses Ahok-Djarot sudah kalang kabut dan pusing karena target satu putaran gagal total. Kini bagaimana caranya mereka merusak suara buat gubernur muslim.

Suara buat Agus dan Anies tidak mungkin lagi dibuat beralih kepada Ahok. Yang paling mungkin, adalah menaikkan angka golput.

Mana mungkin pemilih fanatik dari PPP, PAN, dan PKB mau memilih Ahok? Apalagi, ketokohan SBY sudah diserang habis-habisan.

Pemilih Agus dan Anies hanya bisa dibuat ragu-ragu untuk memilih atau tidak memilih berdasarkan kekuatan partainya.

Anies dan Sandiaga nyaris tanpa celah untuk digoyang. Kecuali, pada last minutes, rahasia-rahasia Anies dan Sandi akan dibongkar, dan itupun hasilnya akan merugikan.

Sebab, Anies dan Sandi bukan orang baru di dunia bawah tanah politik. Anies masih memegang kunci-kunci rezim ini. Sandi, jaringan bisnisnya tidak sembarangan.

Kubu Ahok sebetulnya sudah dipreteli dengan baik oleh Anies dan Sandi. Betapa barisan orang-orang jujur dari PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura sudah jauh-jauh hari menyingkir.

Boy Sadikin bahkan menjadi tim sukses Anies-Sandi. Ia pasti sudah mengantisipasi apapun yang akan dilakukan PDI-P pada pasangan ini.

Kini, yang paling realistis adalah, membuat basis pemilih Gerindra dan PKS bimbang. Sejauh ini, hanya kedua partai itu yang bergerak dengan dana minim dan masih pemanasan.

Kita masih ingat bagaimana menjelang Pilkada Jawa Barat, sosok Luthfi Hasan Ishaq dibunuh melalui isu impor sapi. Kini, bukan tidak mungkin PKS akan ditembak lagi.

Pertanyaannya, bagaimana cara menembaknya?

Kader-kader PKS dan Gerindra di tingkat DPRD DKI Jakarta cukup banyak. Isu suap reklamasi jelas sebuah isu seksi untuk menjatuhkan dua partai itu.

Di sisi lain, percobaan menjatuhkan sosok ulama seperti Habib Rizieq dengan isu chat sex misalnya, adalah sebuah prototype kira-kira, bagaimana putaran kedua akan berjalan.

Kiranya akan banyak skandal tipuan serupa yang dikaitkan pada para ulama. Pertanyaannya, apa isu itu?

Mengaitkan kalangan MIUMI dan MUI dengan ISIS?

Mencari-cari borok pribadi? Atau mengangkat isu-isu rumah tangga? Kita masih ingat bagaimana tokoh Aa Gym dibunuh melalui isu poligami.

Penangkapan secara terbuka pada tokoh ulama hanya akan membangkitkan perlawanan dan tenaga umat yang sedang tidur, apalagi jika targetnya adalah Habib Rizieq.

Yang jelas, PKB, PPP, dan PAN harus berhati-hati menghadapi isu perpecahan. Djan Faridz dan Romahurmuzy kelihatannya harus berdamai dulu.

Dari jajaran Pusat hingga Ranting PKS dan Gerindra terlihat cukup solid. Akan tetapi, bagaimana dengan hubungan kedua partai di tingkat DKI ke bawah?

Di sini, kelihatannya kedua partai itu harus hati-hati dari segala penyusupan dan upaya adu domba. Kami, Redaksi Ruangbicara telah mendapati hal itu terjadi di lapangan.

Pendukung Anies-Sandi terlalu beragam. Kalangan liberal, wahabi, aswaja, dan bahkan sebagian elemen non islam.

Hanya masalahnya, mampukah kedua partai itu terus menggerakkan kemenangan ini menjadi kenyataan?

Jangan lupa di tingkat akar rumput, kampanye belum maksimal. Anggota Legislatif Hanura, Golkar, dan PDI-P sangat rajin turun menggunakan proposal reses untuk kampanye.

Sementara, PKS dan Gerindra belum memaksimalkan hal ini. Para ulama harus terus memasifkan gerakan rutin kepada umat agar kepercayaan terus terbina.

Akhirnya, Allah akan membalas tipu daya mereka. Pembalasan itu, jika tidak di dunia, maka di akhirat dengan azab neraka yang pedih.

Redaksi Ruangbicara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY