Keteladanan Al-Kawrani, Guru Sang Khalifah

Keteladanan Al-Kawrani, Guru Sang Khalifah

27
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Melanjutkan kepiawaian sikap Al-Kawrani guru Sulthan Muhammad Al-Fatih yang kemarin sempat saya singgung.

Pertama, Ketika Muhammad Al-Fatih naik tahta maka dia menawarkan gurunya ini untuk menjadi menteri, tapi Al-Kawrani menolaknya dgn alasan bahwa para budak dan pembantu yg menjadi orang dalam istana membantu Muhammad Al-Fatih demi mendapatkan jabatan itu, kalau jabatan itu diserahkan ke orang lain maka mereka akan dengki hingga dikhawatirkan menimbulkan gerakan yang mengganggu stabilitas politik.

Di sini al-Kawrani punya analisa politik yg dengan analisa inilah dia berhasil menyelamatkan Turki dari riak-riak kedengkian yg bakal mengganggu stabilitas negara.

Kedua, ketika terjadi clash antara Al-Kawrani dgn Al-Fatih yang menyebabkan dicopotnya Al-Kawrani dari jabatan hakim militer maka Al-Kawrani pewrgi ke Mesir dan di sana disambut jadi tamu istimewa oleh Raja Mesir kala itu yaitu Sulthan Qaitbay.
Namun tak lama kemudian Al-Fatih meminta maaf dan meminta kembali sang guru ke Turki untuk menemaninya. Mendengar itu Qeitbay membujuk Al-Kawrani untuk tak kembali dan menjanjikan penghormatan yg lebih dibanding Al-Fatih.

Namun, Al-Kawrani lebih memilih kembali ke Turki dengan mengatakan kepada Qaitbay, “Hubungan antara saya dgn dia (Al-Fatih) sudah seperti ayah dan anak, dan perselisihan yg terjadi antara kami tidak menghilangkan itu. Seandainya saya tetap di sini bersama anda maka dia akan curiga jangan-jangan andalah yg mempengaruhi saya hingga akan terjadi permusuhan antara kalian.”

Di sini Al-Kawrani menunjukkan sikap bijak, demi tidak terjadi kesalahpahaman antara dua kerajaan Islam kala itu (Mesir dan Turki) lantaran dirinya maka dia memilih kembali ke Turki memenuhi panggilan Al-Fatih.

Dari Facebook Ust. Anshari Taslim

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY