Hikmah: Nikmatnya Menjadi Asing dan Sepi

Hikmah: Nikmatnya Menjadi Asing dan Sepi

161
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Aidh Al-Qarny, dalam bukunya La Tahzan, mengungkapkan satu hal yang bisa menjadi pelipur lara atas segala kesedihan hati.

“Yang saya maksudkan dengan ‘uzlah (pengasingan diri) di sini adalah ber-uzlah dari segala bentuk kejahatan, dan kemubahan yang berlebihan.” tulis Dr Aidh.

Ber-‘uzlah seperti ini akan membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua
kesedihan.

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Ada keharusan bagi hamba untuk melakukan ‘uzlah agar dapat beribadah kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, membaca ayat-ayat-Nya, melakukan muhasabah terhadap dirinya,
berdoa kepada-Nya, meminta ampunan-Nya, menjauhi tindakan-tindakan yang jelek, dan lain sebagainya.

Dalam Shaidul Khathir, Ibnu al-Jauzi telah menuliskan tiga pasal, yang ringkasannya demikian: “Saya tidak melihat dan mendengar manfaat yang lebih besar daripada ‘uzlah.”

“Karena ‘uzlah adalah sebuah ketenangan, sebuah keagungan, sebuah kemuliaan, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dari keburukan dan kejahatan, sebuah kiat untuk menjaga kehormatan dan waktu, sebuah cara untuk menjaga usia, sebuah tindakan untuk menjauhkan diri dari orang-orang yang mendengki, sebuah perenungan tentang akhirat, sebuah persiapan untuk bertemu Allah, sebuah pemusatan jiwa raga untuk melakukan ketaatan, sebuah pemberdayaan nalar terhadap hal-hal yang bermanfaat, dan sebuah eksplorasi terhadap nilai dan hukum dari nash-nash yang ada.” sambungnya lagi.

Arah pembicaraannya seperti yang dimaksudkan dalam kutipan di atas. Karena yang tertulis di sini adalah arti yang melalui penyuntingan.

Pada bahasan sebelumnya telah saya katakan bahwa dalam ‘uzlah itu terdapat sebuah kemuliaan yang hanya diketahui oleh Allah saja. Dalamber-‘uzlah terjadi pengembangan daya berpikir, pencapaian pada sebuah hasil pemikiran, penenangan kalbu, dan penyelamatan kehormatan.

“Di samping itu, dalam ber-‘uzlah ada banyak pahala yang didapatkan,” lanjut Dr. Aidh lagi. “ada usaha untuk menjauhkan diri dari kemungkaran, ada pemberdayaan jiwa untuk selalu melakukan ketaatan, ada waktu untuk mengingat Sang Maha Pengasih, ada usaha untuk menjauhi hal-hal yang melenakan dan menyita waktu, ada upaya untuk lari menjauh dari fitnah, ada usaha untuk menjauh dari kepungan musuh, ada kesempatan untuk tidak mencela orang lain, ada pemenuhan hak-hak, ada kesempatan untuk sembunyi dari orang yang sombong, dan ada kesempatan untuk bersabar terhadap orang yang bodoh.

Dalam ‘uzlah juga terdapat tabir untuk menutupi aurat: yakni aurat berupa aurat lisan, kesalahan melangkah, penyimpangan pikiran, dan kecenderungan jiwa yang jahat.

‘Uzlah merupakan hijab untuk menutupi wajah-wajah kebaikan, cangkang untuk menyembunyikan mutiara-mutiara keutamaan, dan lengan baju untuk membungkus tangan-tangan kebaikan.

Alangkah indahnya ber-‘uzlah dengan buku; lanjut Dr. Aidh lagi. karena orang akan dapat menambah usia, dapat mengulur kematian, dapat meraih kenikmatan dalam kesendirian, dapat mengembara menuju ketaatan, dan dapat berjalan-jalan dalam perenungan.
(AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY