Harapan Kepada Gerakan Mahasiswa

Harapan Kepada Gerakan Mahasiswa

34
0
BERBAGI

RB, Jakarta-di tengah rembulan malam di kota pelajar (Yogyakarta), saya menaruh harapan besar untuk pendidikan Indonesia dari kota ini. bagaimana tidak, hampir 20% kota penduduk produktifnya adalah pelajar dan terdapat 137 Perguruan Tinggi serta ratusan Sekolah. jogja merupakan kota yang di warnai dinamika pelajar dan mahasiswa yang berasal dari seluruh Indonesia. bahkan banyak yang mengatakan bahwa aktivis Mahasiswa di Jogja terkenal dengan aktivis yang unggul dalam berdialektika (Cerdas, senang diskusi dan rajin menulis), sedangkan aktivis Mahasiswa Bandung terkenal dengan semangat pergerakan Mahasiswa nya (Agitasi massa, Demonstrasi dll). maka tidak berlebihan menaruh harapan besar akan masa depan Pendidikan bangsa ini kepada masyarakat yogyakarta.

Terlebih kita merasakan bahwa hari ini, kondisi dunia Pendidikan kita sedang tidak sehat. mulai dari mahalnya biaya kuliah, banyaknya pungutan di sekolah, korupsi di instansi pendidikan, lunturnya nasionalisme kaum muda, serta krisis integritas yang di alami para intelektual, dan yang hari hari ini ramai di kalangan Mahasiswa adalah kampus sebagai representasi Pendidikan ternyata telah gagal menjadi tempat paling nyaman untuk mewujudkan pendidikan berdemokrasi, di buktikan dengan maraknya kriminalisasi aktivis mahasiswa oleh Rektoratnya sendiri.

Menyaksikan peristiwa yang di alami oleh Aktivis Mahasiswa Universitas Sriwijaya dan juga Mahasiswa Universitas Negeri Semarang yang menjadi korban kriminalisasi rektoratnya, saya kembali di ingatkan dengan kondisi pemerintah orde baru, – yang menyedihkan dan suram itu; kebanyakan pemerintah otoriter-seperti orde baru memiliki ketakutan besar terhadap gerakan mahasiswa yang kritis, karena mahasiswa adalah kelompok kecil kreatif (creative minority) yang mampu mengarahkan perubahan sosial politik sesuai dengan keinginan rakyat. mahasiswa adalah sosok yang mampu membongkar semua siasat besar hegemoni yang terus di lancarkan kelompok berkuasa.

Dalam konteks orde baru, ideologi politiknya yaitu developmentalisme tanpa nurani, di tambah budaya korupsi, kolusi dan bisnis keluarga- telah menjadi hegemonik bagi warga negaranya sendiri. sehingga dalam kondisi seperti itu, meski pemerintahan korup dan bobrok, tetap mampu mengendalikan rakyatnya. terbukti kelompok yang masih waras dan terlindung dari hegemoni itu adalah lahir dari kalangan kampus (MAHASISWA), karena mereka tetap melakukan kajian dan pembacaan kritis.

Pada masa orde baru, mahasiswa Indonesia dengan segenap kemampuannya, terus berusaha mengkritisi kebijakan pemerintah yang pada prakteknya justru membuat kerugian bagi bangsa dan rakyat. mahasiswa turun kejalan, masuk ke denyut parlemen, dan melakukan negosiasi dengan para decision maker (pembuat kebijakan) di Republik ini.

Dalam menjalankan pemerintahannya, terutama pada pertengahan tahun 1970-an, soeharto mulai menuai kritik dari mahasiswa dan rakyat. hal itu terjadi karena selain adanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang di pelopori keluarga cendana, juga berlimpahnya produk luar negeri di Indonesia, dan itu di anggap bentuk penjajahan gaya baru. hingga terjadilah sebuah tragedi yang membuat jakarta membara, yang di kenal dengan nama tragedi malaria (15 januari 1954) yang salah satu tokohnya adalah Hariman Siregar – Mahasiswa Fakultas kedokteran UI.

Setelah peristiwa tersebut dan dinamika peristiwa lain nya yang menentang kebijakan pemerintah, kampus di anggap tidak normal dan perlu di normalkan. lahirlah kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) Sekaligus pembubaran dan pelarangan organisasi intra universitas di tingkat perguruan tinggi. kemudian di susul dengan SK No. 0230/u/j/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan badan kordinasi Kemahasiswaan (BKK).

NKK/BKK definisi sederhana nya adalah kebijakan pemerintah untuk mengubah format organisasi kemahasiswaan dengan melarang mahasiswa terjun kedalam politik praktis. dalam konsep NKK/BKK, kegiatan kemahasiswaan diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian masyarakat ilmiah. sehingga dunia mahasiswa pada kurun waktu itu terasa jauh dari denyut nadi persoalan di masyarakat. di susul kemudian dengan kebijakan sistem kredit semester (SKS), mahasiswa di giring menjadi insan akademis yang hanya berkutat dengan pelajaran dan berlomba menjadi sarjana dengan IPK sempurna. mulai saat itu, gerakan mahasiswa menurun massivitasnya karena pemerintah semakin otoriter, represif, paranoid, dan manipulatif terhadap gerakan dan aksi yang di lakukan oleh Mahasiswa.

Beberapa aksi mahasiswa selalu di kaitkan dan di hubung-hubungkan dengan PKI atau gerakan yang hendak mengganti ideologi negara. di tuduh bahwa aksi yang di lakukan oleh mahasiswa di tunggangi pihak tertentu. hampir seluruh kegiatan kemahasiswaan di curigai, di teror dan di tangkap oleh aparat antek pemerintah di kampus (baca : Rektorat) yang sangat berdampak pada masivitas gerakan mahasiswa.

Itu semua adalah romantisme sekaligus fasisme sejarah perjalanan gerakan mahasiswa dan bangsa ini. berharap kita dapat memetik pelajaran politik dari peristiwa orde baru.

Setelah orde baru tumbang oleh gerakan rakyat yang di pelopori Mahasiswa dan kita sampailah pada gerbang reformasi, kita mendapatkan kebebasan dan kenyamanan berekspresi yang luar biasa. karena ini memang janji dari demokrasi.

namun setelah 19 tahun reformasi, ternyata masih ada instansi pemerintah yang kebingungan mengelola kompleksitas perbedaan ini, sehingga ingin belajar kembali menggunakan cara memerintah orde baru yang otoriter dan represif itu. upaya pelemahan gerakan mahasiswa secara sistemtis terus di lakukan, propaganda negatif kepada kubu oposisi terus di lancarkan, seakan-akan bukan dengan rakyat sendiri. dengan sekuat tenaga saya dan aktivis mahasiswa yanag lain akan melawan ini. saya tidak rela kebebasan berdemokrasi ini di rampas oleh kelompok yang tidak paham jerih payah dan makna perjuangan reformasi.

Dengan dinamika yang telah terjadi ini, menurut saya pribadi ada beberapa eskalasi yang harus di bangun oleh gerakan mahasiswa hari ini, di antaranya :
1. gerakan konsolidasi nasional : jadikan moment persitiwa di Unsri , Unnes dan kampus lain yang mendapatkan sikap refresif Rektoratnya sebagai momentum soliditas dan persatuan mahasiswa seluruh Indonesia, seperti perkataan Sahabat nabi ali bin abi thalib “Keburukan yang teroganisir, dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir” karena itu mari mengorganisir gerakan mahasiswa secara menasional dan depankan persatuan dan efektifitas gerakan daripada egoisme gerakan.
2. kokohkan kohesi vertikal dan horizontal : bangun komunikasi berkala kepada tokoh-tokoh politik dan pejabat yang pro rakyat , para akademisi, dan praktisi hukum , namun tetap memposisikan bahwa gerakan mahasiswa gerakan independent dan ekstraparlementer. kemudian intensifkan komunikasi dan konsolidasi kepada basis massa grass root (Masyarakat, mahasiswa akademis, aktivis dan elemen mahasiswa lainya).
3. masifkan propaganda dan media : zaman sekarang ini, media sarana paling ampuh menusuk pikiran dan sugesti masyarakat. sebarkan data, fakta dan kejadian yang positif akan gerakan mahasiswa dan kondisi bangsa ini, berikan pencerdasan kepada masyarakat akan sesungguhnya yang terjadi.
4. pertajam gerakan dan budaya literasi (membaca, menulis dan diskusi) di internal mahasiswa, karena dengan ini, mahasiswa akan menunjukan kapasitasnya sebagai agent of change, social control dan iron stock bangsa indonesia.
5. Yang terpenting adalah kuatkan hubungan kita kepada sebaik-baik pembuat ketetapan yaitu Allah Swt, ketika pintu dunia – pemerintah susah di ketuk dan bahkan jauh dari harpan, maka mengetuk pintu langit merupakan cara paling realistis merubah keadaan.

Sekian, semoga Tuhan senantiasa memberikan nafas perjuangan yang panjang bagi kita semua yang berjuang di jalan kebenaran.

Sumber bacaan :
1. Ijtihad Membangun Basis Gerakan – Amin Sudarsono
2. Melawan Liberalisme Pendididikan – Darmaningtyas

Jumat, 4 Agustus 2017
Masjid Jogokarian, Yogyakarta.
21.59 WIB

M.Fauzan Irvan
Mahasiswa UPI Bandung

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY