“Hai Ladies Bikers Berhijab, Ini Cara Aman Berkendara Touring!”

“Hai Ladies Bikers Berhijab, Ini Cara Aman Berkendara Touring!”

411
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Kali ini, tim Ruangbicara berhasil mewawancarai dara berjilbab, Dewi Ronestya, 22 tahun, yang juga seorang anggota klub pengendara motor (Biker). Menariknya, meskipun dia anggota klub, tetapi tetap menjaga pakaiannya agar tetap syar’i. Berikut ini petikan wawancaranya, simak sahabat!

Apa yang paling penting jika seorang perempuan berhijab, ingin berkendara motor/touring?

Yang pasti bawa motor sendiri, tidak boncengan sama lawan jenis kecuali suami atau saudara betulan.

Tetapi,  di jalan sudah pasti Insya Allah aman karena jalan masing-masing sudah ada. Dan biasanya perempuan (ketika konvoi) itu di taruh di barisan tengah agar tak ketinggalan atau kalau ada trouble banyak yang bantu.

Bagaimana soal asesoris berkendara dan busana?

Masalah pakaian sesuai dengan kenyamanan. Pakai celana gombrong, rok juga tak masalah. Asalkan untuk menambah kesafety-an jgn lupa pakai helm full face, sepatu safety, jaket tebal dan pelindung lutut serta pelindung siku.

Kalau terpaksa bermalam di jalan?

Kalaupun menginap, cari penginapan yang memisahkan tidur perempuan dan laki-laki. Di puncak kan banyak itu villa yg sewanya satu rumah ya tak masalah karena bikers itu minim budget asalkan tidak tidur dalam satu ruangan yang sama tanpa sekat saja.

Pernah ada pengalaman yang tidak menyenangkan?

Aku  pernah di event yang sama sekali tak ada sekat antara laki-laki dan perempuannya. Kalaupun mau tidur terpisah satu-satunya lokasi ya di musala. Akhirnya aku tak tidur sama sekali semalaman itu. Karena pada dasarnya komunitas yang berlandaskan islami itu langka.

Ada bedanya berangkat siang atau malam?

Masalah berangkat siang atau malam sebenarnya tak ada. Tergantung kesenangan masing-masing orang saja. Soalnya kalau tak salah Rasulullah pernah menganjurkan untuk  perjalanan malam. Tapi kalau aku  lebih suka di jalan pagi setelah subuhan karena jalanan tak macet dan hawanya tidak panas tapi juga tidak gelap.

Klub apa yang diikuti Dewi?

Aku jadi tim hore di Honda Revo tahun 2011.
Jadi anggota di Jakarta Bikers Sociality tahun 2013-2015. Sempet jadi Ketua juga sebelum akhirnya bubar.

Kemudian membentuk baru dengan nama Veloce Riders Community atau biasa disebut Veloce RC tahun 2015 sampai sekarang.

Pernah mengalami kecelakaan?

Aku pernah terlibat kecelakaan dua kali karena rem dadakan. Dan keduanya pas masih di JBS. Pertama-sama member sendiri. Dia sebagai RC (road captain) tiba-tiba masuk ke jalur aku  dan mengerem. Aku panik dan mengerem mendadak. Kehilangan keseimbangan dan ambruk merosot.

Kedua pas touring first anniversary JBS. Sudah mau sampai villa. Jalanan turunan depan aku pejalan kaki dan mengerem mendadak karena depan jalanan tak rata. Di situ tidak berpikir paksa mengerem  rem depan motor bakalan roll depan. Jadi aku lanjut saja. Karena safety jadi badanku cuma sakit sedikit. Sedangkan mereka luka-luka. Motor pecah sana sini. Akhirnya mereka dibawa ke villa dan diobati.

Apa saran untuk perempuan jika terlibat laka lantas?

Saran aku sih kalau terlibat laka jangan paksakan untuk  tahan motor biar motornya aman. Karena mending motornya yang hancur ketimbang badan yang hancur. Jadi kalau sudah tak bisa kendalikan keseimbangan mending loncat dari motor. Biar saja motornya jatuh. Jangan di pegangi. Terus loncatnya ke arah yang aman juga. Terus loncat yang aman dengan posisi tangan disilangkan ke depan badan. Lebih aman lagi kalo pakai teknik tiger strong tapi kan tak semua orang bisa teknik itu.
Apa saran buat teman perempuan berhijab yang ingin gabung klub pengendara motor?

Saranku kenali dulu orang-orang yang jadi membernya. Jangan sampai ketipu sama modus mereka karena tak semua orang baik walaupun banyak juga yang  baik.

Yang pasti berdoa sebelum jalan dan selama di jalan. Konsentrasi. Kalo capek, rest. Jangan sampai kehilangan konsentrasi dan mengantuk. (AA)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY