Editorial Redaksi: Tempo, Anti Islam, dan Radikalisme

Editorial Redaksi: Tempo, Anti Islam, dan Radikalisme

325
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Subuh, 29 Ramadan ini, akun twitter @tempodotco menyusun sebuah kultwit dengan promosi edisi terbarunya, bertajuk Islam Jalan Damai.

Dalam kultwit 04/06 itu, disebutkan beberapa hal yang berpotensi menyulut sentimen keagamaan, yaitu:

“1. Setiap terjadi peristiwa kekerasan berbungkus intoleransi, pondok pesantren selalu menjadi tertuduh utama. #MajalahTempo

2. Kabar bahwa akar kekerasan tumbuh dan berkembang di pesantren menjadi fakta yang kerap sulit ditolak. #MajalahTempo

3. Apalagi BNPT menyebutkan setidaknya 19 pondok pesantren terindikasi mengajarkan radikalisme. #MajalahTempo”

4. Di tengah kabar suram itu, beberapa pondok pesantren di sejumlah daerah berusaha mengikis stigma buruk tersebut. #MajalahTempo”

Dari sini, opini negatif tentang pondok pesantren begitu keras dipromosikan sebagai sarang radikalisme. Ini merupakan modus lama. Di sisi lain, BNPT terus menerus mengampanyekan beberapa organisasi lurus yang malah dikategorikan radikal atau teroris.

Hal ini sebetulnya paradoks. Misalnya, kita tinjau kampus UGM dan ITB, kedua kampus itu menghasilkan lulusan yang beberapa di antaranya, dan selalu berulang, menjadi koruptor.

Apakah stigma yang sama, perlu kita lekatkan kepada dua kampus itu, bahwa UGM dan ITB adalah sarang koruptor sehingga perlu dibubarkan KPK?

Kasus lain, menimpa Menteri Ristek-Dikti. Bapak M Nasir, adalah mantan Rektor Undip. Dalam masa kebijakannya, terjadi penurunan anggaran negara untuk perguruan tinggi sehingga dana UKT terus melambung dan memicu demonstrasi besar-besaran di UGM, UNJ, dan Unsoed. Apakah dengan demikian, Undip menjadi kampus yang mencetak pelaku kekejaman?

Pada terminologi ayam kampus misalnya, itu diidentikkan dengan kampus-kampus swasta yang memiliki jurusan-jurusan “aduhai”. Dengan demikian, apakah kampus tersebut menjadi pencetak pelacur sehingga harus dibubarkan oleh MUI melalui stempel tanda haram?

Majalah Tempo seolah menjadi juru agama yang berhak mengklasifikasi pesantren menjadi sarang teroris. Padahal, sejak dulu, pesantren tidak berubah. Yang berubah, adalah perlakuan negara ini terhadap rakyatnya, sehingga memicu tindak radikalisme akibat ketidakpuasan pada negara.

“5. Mereka memasukkan muatan toleransi dan keberagaman ke kurikulum pelajaran. #MajalahTempo”, demikian butir selanjutnya kultwit tersebut.

Seolah-olah, sebelumnya pesantren tidak mengajarkan toleransi dan keberagaman. Padahal sejak awal, pesantren sudah berjasa menjaga agar gesekan antar umat islam maupun umat beragama lain tidak meluas, dengan berbagai muatan pengajaran akhlak.

Citra yang ditembak Tempo, bisa jadi bukan sebatas pesantren, tetapi oknum agama tertentu. Yang dalam hal ini, jelas islam menjadi sasarannya. Di tengah kengawuran kurikulum agama yang menjauhkan umat islam dari sirah nabawiyah, Al-Qur’an, dan fikih-fikih yang benar, umat makin dibuat berjarak dengan pusat pendidikannya.

Akhirnya, negeri ini akan menjadi negeri liberal yang dikuasai oleh kapitalis, karena kaum agamanya menjadi seorang ‘abid yang tekun di dalam surau, dan melepaskan tuntunan agama di bidang lain.

Pesantren adalah tempat ulama dan calon ulama dibentuk dan digembleng. Bukan sarang teroris. Teroris sesungguhnya adalah sepasukan tentara bersenjara lengkap yang membunuh seorang Imam Shalat, teroris sesungguhnya adalah penggusur lahan di Jakarta atas nama pembangunan, yang menyebabkan ribuan KK kehilangan rumah!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY