Editorial Redaksi: Negeriku Lugu, Presidenku Seolah Sempurna

Editorial Redaksi: Negeriku Lugu, Presidenku Seolah Sempurna

291
1
BERBAGI

RB, Jakarta-Riuh tepuk tangan itu terus terdengar, setelah paparan singkat tentang Ideologi Negara Indonesia di depan anggota PBB oleh presiden pertama negara ini, Soekarno.

Di tengah arus perebutan pengaruh antara blok barat digawangi Amerika, blok Timur dengan Uni Soviet pelopornya. Pidato itu membuat semua pemimpin negara yang hadir terdiam saat Soekarno berkata, Sila pertama Pancasila adalah percaya pada Tuhan. Artinya, secara tersirat ini menggambarkan bahwa negara ini dibangun dari atas dasar keimanan pada setiap agama yang dianut oleh masyarakat negara.

“Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan mencantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat organisasi ini,” kata Soekarno. Hari itu, 30 September 1960 di depan sidang PBB, adalah hari yang hebat.

Namun ini seolah hilang antah-berantah, ketika presiden saat ini menghapus perda-perda yang penuh muatan kepahaman dari sila pertama pancasila, “Ketuhanan yang Mahaesa”.

Presidenku sempurna. Entahlah, nurani para pendukungnya yang mungkin dipaksa dihilangkan karena buai jabatan yang menggoda. Negeri penuh paronama, berpenduduk 80% lebih penganut agama Islam, tapi dipaksa menghormati bahkan menjual keimanan demi kepuasaan para taipan yang tak mengerti arti sila pertama Pancasila.

Hal ini jelas melanggar konstitusi negara, termaktub jelas dalam Pembukaan Undang-Undang 1945, “Atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa” artinya, negara ini sedari awal sudah menapaki langkah bernegara dengan kewajiban negara melindungi hak-hak beragama.

Begitulah jalannya negara saat ini. Terlihat satu langkah pasti, Jokowi sebagai presiden mengkampanyekan etika ketimbang agama sebagai pelindung warga negara untuk menjaga ketertiban yang dipaksakan melebur sehingga hilanglah agama dalam kehidupan negara, kelompok, maupun individual.

Salah seorang filsuf Jerman berkata, etika tanpa agama hanya jadi tong yang tak berisi. Maka demikian, kebingungan barat perlahan disadari tentang rancuhnya pemahaman bernegara dengan menghilangkan agama dalam prosesnya.

Kebingungan itulah, yang sampai pada akhirnya, menghancurkan negara adidaya Uni Soviet. Bahkan, negara mayoritas beragama Katolik, Irlandia, telah menghalalkan kawin sejenis. Karena demikian begitulah kebingungan dibangun dengan satu kesalahan: menghilangkan agama dalam jalannya negara.

Jalan pasti yang harus dimengerti Presiden Jokowi, jangan lukai arti Pancasila sila pertama, serta konstitusi negara lainnya. Jika kampanye etika lebih baik dari agama, maka Jokowi tidak berpegang teguh pada Pancasila dan konstitusi negara lain.

Garis yang selama ini belum mendapatkan arah, kemudian, bertambah lagi pada saat pikiran Jokowi untuk menghapuskan pajak dengan Tax Amnesty. Mengingat, hal ini juga menjadi gejolak di Negeri Malaysia saat perdana menteri mereka memaksakan pengampunan pajak.

Ini nanti tidak terlihat pada masa yang singkat dengan begitu banyaknya investor memasuki negeri, akan tetapi terlihat nanti, negeri penuh kepolosan ini, dijadikan neo kolonialisme gaya Cina dan temannya.

Luka sudah menganga, sampai pada saat dasar negara dan konstitusi dianggap hal biasa untuk dilanggar oleh Presidenku yang seolah sempurna. Negeriku yang malang, yang penuh kepolosan!

Redaksi Ruangbicara

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY