Editorial Redaksi: Menyingkap Tabir Portal Piyungan

Editorial Redaksi: Menyingkap Tabir Portal Piyungan

14524
4
BERBAGI

RB, Jakarta-Siapa yang tak mengenal PKS piyungan tempo hari, yang membuat geger kalangan kader partai berlabel dakwah itu dari ranting sampai teritorial pusat sendiri. Muncul dengan nama PKS, ditambah kata satu daerah di daerah Bantul, Jogjakarta sana, Piyungan.

Namun, ada satu permasalahan besar saat ini siapa dibalik PKS Piyungan yang saat ini bertransformasi menjadi satu portal berita bernama Portalpiyungan.com.

Menjelang Pilkada, akun twitter maspiyungan terus menjelma menjadi buzzer yang kelihatannya, berperan seperti “orang dalam” yang seolah-olah mewakili aspirasi “sisi lain” kader PKS.

Siapakah piyungan? Ada tiga sisi yang bisa kita amati.

1.Apa makna media sesungguhnya?

Media, sejatinya secara harfiah adalah alat, sarana untuk menyebarkan satu peristiwa agar diketahui orang banyak. Maka demikian dapat diartikan media, khususnya online, merupakan satu serapan informasi praktis yang ada di era ini.

Hal ini diperkuat dari peryataan beberapa ahli seperti, Association of Education and Communication Technology (AECT), mengatakan bahwa media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi.

Akan tetapi bisa kita lihat dari muatan Portalpiyungan.com dirasa hanya sekedar mencaplok berita dari media-media lainnya, yang pastinya mesti dipertanyakan mereka ini sebagai media atau hanya sekedar kerjaan untuk mencari uang saja.

Tentu kita tahu, website pada level tertentu, mendapatkan “susuk” dari traffic yang ada di internet.

Bila seperti itu, pastinya transformasi PKS piyungan ke portal piyungan membuktikan bahwa media online ini sejatinya palsu sepalsunya, juga harus dimengerti dan dicurigai mereka adalah buatan segelintir orang yang dipertugaskan untuk mengambil sela menghancurkan partai yang sangat luarbiasa dalam pengkaderannya.

Pasalnya, kreatifitas berita dan ragam informasi yang ada, sebatas bongkar pasang dari artikel yang sudah ada. Kita hanya akan menemukan satu dua artikel segar per hari, sisanya adalah berita broadcast whatsapp, atau resume dari berita media lain yang pro islam, dan pro Fahri Hamzah.

2.Transformasi dari jurnal dakwah ke media online

Jurnal berita merupakan satu hal yang sangat penting bagi seseorang guna mencari rujukan dalam mencari jawaban dari masalah yang dialami, ditambah lagi jurnal dakwah yang sejatinya harus dipenuhi dengan pemberitaan kejujuran, karena dakwah punya aturan dalam jalurnya.
(Jadi masalahnya, piyungan ini mengklaim bahwa dakwah seolah hanya milik kader PKS, dan yang kader PKS hanya admin piyungan)

Transformasi Portal Piyungan yang merupakan jurnal dakwah, dengan mencari pembaca dari kalangan pengikut setia salah satu partai islam yang besar di negeri ini, memang pada awalnya portal piyungan hanya fokus pada satu pemberitaan yaitu dakwah.

Perjalanan panjang yang terjadi kemudian menjadi satu dasar transformasi perubahan nama dan juga fokus pembaca yang sudah mulai diperhatikan pada variasi pengikut piyungan ini sendiri.

Ditambah lagi mengapa transformasi itu terjadi karena pencaplokan nama PKS tanpa perizinan yang tentunya melanggar hukum juga menciderai nilai dakwah itu sendiri.

Menarik diamati, transformasi dari nama PKS Piyungan menjadi Portal Piyungan, sebuah perubahan yang tidak lazim mengingat penghapusan nama simbol itu menunjukkan pergantian ide dan keberpihakan. Artinya, PKS atau Piyungan, tidak lagi dianggap berhubungan.

Jalur yang berubah saat ini dipilih oleh portal piyungan menjadi media online, terlihat pada berita-berita yang mereka sajikan bisa dilihat langsung Portalpiyungan.com. Dalam pemberitaan media online, informasi dapat dengan mudah diduplikat sehingga proses penyebaran dan distribusi informasinya dapat lebih cepat dan meluas.

Hal itu terlihat di piyungan saat ini bila dikalkulasikan sekitar 80% pemberitaan mereka adalah duplikat secara nyata.
Motif duplikasi ini, diiringi dengan modifikasi judul dan memanfaatkan hobi kader PKS yang gemar membroadcast secara massive sebuah informasi.

Yang harusnya dikritisi, adalah, belakangan ini portal itu jelas memanfaatkan media sosial twitter, tempat bersarangnya bot dan buzzer.
Di sisi lain, keberpihakan yang berlawanan dengan koalisi Gerindra-PKS, membuat perang urat saraf (psywar) mudah dikendalikan oleh Piyungan.

Harus disadari, di kalangan internal PKS jelas muncul pertanyaan-sebagaimana publik-mengapa misalnya, pergantian Anis Matta ke M Sohibul Iman, terasa begitu cepat?

Piyungan seolah-olah bertindak sebagai juru bicara Anis Matta dan Fahri Hamzah.

Padahal, pada sosok Anis Matta yang kini mondar-mandir pelesir dakwah sepanjang pantai Asia Timur, tidak mengeluarkan satu statemenpun.

Berbeda dengan pergantian ketua era Aburizal Bakrie misalnya, yang diikuti eksodus Surya Paloh dan Sri Sultan Hamengkubowono X. Jelas di dalamnya perang statemen sangat kuat terjadi.

Atau misalnya antara kubu Romahurmuzy dan Djan Fariz di PPP. Kenyataannya, Anis Matta tidak memanfaatkan loyalisnya, baik yang nyata sebagai akar-serabutnya pada pengaderan tarbiyah, maupun yang mengaku-aku loyalisnya, seperti admin Piyungan.

Berbeda dengan partai lain, PKS mampu menjaga marwahnya sebagai partai santun dengan pergantian ketua paling damai dalam sejarah reformasi. Tak ada partai baru dengan blue print dan DNA PKS. Tak ada eksodus besar-besaran.

Mirip dengan Fahri Hamzah, ia sendiri tidak mengumbar diri sebagai tokoh muda berbakat sebagaimana yang dicitrakan piyungan.

Harus dicurigai, piyungan adalah produk intelijen, atau justru produk kontra-intelijen yang kemudian lepas kendali, karena kenyataannya, pergantian nama dari PKS Piyungan menuju Portal Piyungan sebagai dampak “dibuang”nya Piyungan dari list resmi kehumasan partai, tidak diumumkan dengan jelas.

Kader-kader di daerah, masih saja mengonsumsi piyungan seperti mie instan. Padahal, ada banyak media resmi dan jauh lebih kredibel milik-bahkan-kader PKS sendiri.

Pada akhirnya, piyungan bukan bertindak
sebagai jurnal dakwah, tetapi jurnal kopas dan curhat adminnya.

3. Partai menjadi barang pecah belah yang murah.

Sebenarnya bukan hal yang baru bila media online tentunya dilatarbelakangi satu basis ideologi, artinya basis media pastinya ada kepentingan manusia “pemesan berita”.

Bila kita lihat para pembaca media-media online, ada 3 bentuk penikmatnya, pertama setia; kedua, pluralis; ketiga; Rasional. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar, bila dikaji lebih dalam setidaknya pembaca portalpiyungan hari lebih bervariasi baik dari kader-kader partai PKS yang belum “ngeh”, juga masyarakat umum.

Kemudian, mengapa kita harus memperhatikan lebih karena kita harus melihat rekam jejak perjalanan piyungan sampai hari ini, saking solidnya kader setia partai, kemudian hal inilah yang sangat membingungkan bagi para pembenci partai yang berhaluan islam sejati, melihat hal ini piyungan mengambil sisi menjadi antitesis PKS.

Piyungan sendiri malah menunjukkan diri sebagai “senjata kecil” yang didasari untuk menghentikan hegemoni pertumbuhan PKS saat ini, ditambah lagi peluang itu semakin besar saat kasus Fahri Hamzah yang bisa dibilang mempunyai pengikut yang setia.
Piyungan selanjutanya meneruskan misi yang belum selesai memecah belah partai dakwah terbesar saat ini.

Dan kemudian, terbukti: akun-akun yang jelas bukan bot, dan dengan bebas mengklaim sebagai kader PKS, meretuit atau membalas sapa akun Piyungan tersebut dan seolah-olah, menjadi simpatisan Fahri Hamzah.

Dalam sejarah PKS, tokoh seperti Fahri Hamzah memang langka: mana ada kader PKS yang gemar umbar kecaman dan hobi nongol di headline jurnalisme statemen, selain dia?

Dalam kacamata partai dakwah; jika kita melihat kecenderungannya sejauh ini di Indonesia sebagai akar dari Masyumi, atau di seluruh dunia dari partai sejenisnya, kader-kadernya cenderung dibuat low profile.
Itu sebabnya, ketika Luthfi Hasan Ishaq ditersangkakan, tidak ada partai baru muncul. Justru, pola pemecah belahan dengan memanfaatkan gairah kaum muda, sejak lama digunakan “tangan-tangan gelap” yang tidak jelas digunakan sebagai tool intelijensi dari mana, hampir seratus tahun lalu, pada Partai Komunis Indonesia.

Pemberontakan atau suksesi di internal PKI hampir selalu membuahkan perpecahan atau bahkan korban jiwa di internal partai, atau membelotnya sekian kader muda, dengan alasan berbeda ideologi, atau juga yang sekarang ditwitkan dengan rutin sebagai pengganti ma’tsurat: “partai ini sudah berubah khittah”.

Fahri Hamzah dan Anis Matta hendak di-Tan Malaka-kan. Tan Malaka jelas jauh lebih keren. Ia tidak membuat Jakarta Keren atau mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Marxis Indonesia untuk sekadar punya konstituen.

Bedanya, Anis Matta lahir ketika kondisi partai sedang kalem, dan Piyungan mencoba mengais kemungkinan konflik yang ada.

Kental indikasi bahwa perpecahan di tubuh PKI kala itu adalah campur tangan dari intelijen PKC, komunis Rusia, Amerika, dan mungkin menurut bahasa kader PKS, konspirasi Yahudi. Artinya, tidak berasal dari internal partai sebagai faktor primer pada kurun 1925-1940-an itu.

Persoalan lain misalnya, isu-isu rasial justru tidak muncul di media dari internal DPP atau DPW PKS Jakarta. Relatif, PKS lebih santun bahkan daripada PDI-P sendiri, dalam menghadapi isu petahana di Jakarta.

Akan tetapi, Piyungan memanfaatkan kamuflasenya dan dengan brand itu, ia mengembuskan isu rasial: cina, dan lain-lain.
Bahkan, isu pemimpin kafir sekalipun-kalau para admin masih sering halaqoh atau mukhoyyam-jarang sekali dibahas.

Justru, kader-kader Jakarta yang jelas memiliki pasukan a la buzzer lebih besar, terlihat kalem. Basis Piyungan, 850 KM dari Balaikota DKI Jakarta. Apa kepentingan Piyungan?

Dari sinilah, bocornya “user” di balik Piyungan.

Ketika Mardani Ali Sera dimajukan sebagai bakal cawagub mendampingi Sandiaga Uno, kelihatan jelas Piyungan tampil seperti orang yang ada di luar PKS. Tidak memahami medan Jakarta, tidak pula memahami perilaku politik partai di Jakarta.

Ia dengan mudah menjerat kader-kader daerah: dan mengaitkan isu lama, antara penggantian Anis Matta-yang nota bene sedang asyik masyuk dari pantai ke pantai di Asia Pasifik-sampai ke Fahri Hamzah dan kebijakan internal M Sohibul Iman.

Dengan sedikit kritis bisa dilihat relatif pengaruh Anis Matta dan Sohibul Iman tidak terlalu besar. Sebagaimana ketua-ketua sebelumnya, sebab, berbeda dengan PDI-P, Gerindra, Demokrat, atau PKB, PKS tidak dibangun dengan ketokohan.

Saksikan sejak Nurmahmudi Ismail hingga Anis Matta, Ketua Umum PKS tidak pernah menjadi godfather. Mereka dihormati ketokohannya namun tidak menjadi Bapak yang darahnya membiru.

Ironisnya, bahkan Nurmahmudi Ismail mesti rela menjadi walikota di kota terkotor di Jawa Barat, dengan APBD terkecil di Jabodetabek!
Fahri Hamzah dan Anis Matta tidak mengalami masa pembuangan sesadis itu, dan juga, pasti tidak pernah pula minta dibuzzerkan Piyungan.

Mana ada ketua partai lain yang begitu?
Justru Piyungan hadir seolah-olah membuat yang bukan masalah menjadi masalah.

Tulisan ini tidak membela PKS. Tulisan ini untuk menyisihkan, mana yang variabel dan berkepentingan di Pilkada Jakarta, mana yang membuzzer dirinya sendiri agar pundi-pundi masuk.

Dan yang lebih fatal, Piyungan justru menyakiti hati umat muslim Jakarta yang seolah-olah ditipu partai Islam. Ia mendukung Agus dan menyatakan tolak Ahok. Tapi apa reaksi dia jika mengetahui bahwa Sylviana Murni adalah kader infilting Golkar?

Koalisi Kekeluargaan: ya, Bapak SBY mencalonkan anaknya. Kurang Kekeluargaan apa. Nusron Wahid adalah Jurkam Ahok, sekaligus kader NU dan dekat dengan PKB. Artinya, di dua kubu lain, tinggal pertarungan antara pengembang fasis dari Negara Cina, dan juga mafia militer Amerika.

Lho? Piyungan mungkin lupa, bahwa PKS sangat phobia Amerika. Saking phobianya, jika demo Palestina tidak bakar bendera Amerika, tidak sah. Meskipun pulangnya beli ayam goreng Kapten Sanders.

Piyungan kurang ngopi sedikit untuk mengingat bahwa Agus bolak balik Amerika, dan juga salah satu prajurit terbaik Indonesia tempaan Amerika. Masalah karir militernya mentok, perkara lain. Ingat, politik tidak hanya yang ada di headline kompas dan detik.com.

Agak aneh ketika Piyungan ndusel-ndusel Anis Matta dan misuh-misuhi M Sohibul Iman, dengan alasan Anies Baswedan berpolapikir liberal. Sementara, Anis Matta kurang liberal apa dengan membawa paduan suara gereja dalam kumpul akbar di SU GBK 2014 lalu.

Atau, jika yang dipermasalahkan adalah M Sohibul Iman adalah akademisi dan bukannya politisi, justru Hidayat Nurwahid adalah akademisi yang lebih ma’rifat lagi. Sederet panjang titelnya mengikuti taraf keulamaannya di dunia yang diakui. Atau, Nurmahmudi Ismail-di masa sebelum admin piyungan ikut liqo’ -adalah seorang saintis ahli tanaman.

Dari hipotesis di atas, jelas bahwa Piyungan sekurang-kurangnya adalah produk intelijen, atau minimal produk transgenik: blue print kader PKS dalam adminnya, dan, digunakan untuk merekayasa objek dan populasi dalam suatu eksosistem. Entah, siapa usernya. Entah, justru dialah yang menjadikan diri user atau tools bagi orang lain, tanpa sadar.

Entah sudah berapa kali kena iqob meringkas kisah Perang Tabuk atau Siroh Kaum Munafiqin, atau mempelajari Tafsir Fi Zhilalil Qur’an bagian Surat Al-Hujurat.
Generasi Z PKS yang lahir sekarang menerima informasi berbeda jalur dari generasi sebelumnya pada era Luthfi Hasan Ishaq: selain dari Murobbi dan Bayanat, juga dari Gadget. Inilah yang coba dikulik Piyungan dengan kekaburannya sebagai sekte tersendiri dari PKS.

Kader-kader muda yang baru kenal medsos, tentu kagum lahir batin pada gaya twit dan berita Piyungan. Tidak salah, sebetulnya. Tinggal, kita tanyakan saja: mereka bekerja buat siapa?

Terakhir, mari ngopi. Kami dengar di Jogja ada tempat ngopi bagus, yang tentu tidak sempat dikunjungi kalau admin Piyungan masih dua orang. Sekali-kali bacalah Tarbiyah di Rumah Hasan Al-Banna atau sejarah Sumpah Peranakan Arab-nya AR Baswedan.

Salam dari Ibukota Jakarta buat Piyungan.

Redaksi Ruangbicara

4 KOMENTAR

  1. Membaca uneg-uneg anda tentang portal piyungan, saia tertawa geli. Anda seperti kebakaran jenggot atas dan bawah. Kader PKS adalah kumpulan orang terdidik (gak bodo-bodo amat lah). Saia rasa kita sepakat dengan apa yg diucapkan oleh Ali bin Abithalib bahwa ” simak apa yg disampaikan, bukan siapa yg menyampaikan”. Ketika media resmi partai hanya menjafi “corong” penguasa partai untuk “kepentingan segelintir” elit partai. Misal, PKS tidak pernah dan tidak mau membuka kepada publik siapa yg membocorkan surat pemecatan FH. Sehingga kader lebih dahulu mengetahuinya dari media yg mungkin menurut anda abal-abal. Sadarlah bung, bahwa kini era informasi, dan akses atas informasi iti terbuka bagi siapapun. Kalau menurt anda ada yg salah dari pemberitaan atau postingan di portal piyungan, silahkan anda melakukan counter atas berita tersebut. Dan kalau anda sedang mencari makan, insaflah bahwa cara anda mencari makan sangatlah naif!!.

LEAVE A REPLY