Editorial Redaksi: Class Action, Khulafaur Rasyidin, dan Gugat-Gugatan

Editorial Redaksi: Class Action, Khulafaur Rasyidin, dan Gugat-Gugatan

250
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Suatu hari, Masjid Nabawi dirasa sesak. Kekhalifahan Islam yang meluas, pantai selatan Andalusia di Barat, perbatasan Sahara dan Sungai Nil di Afrika, hingga tepi anak benua India di Timur, membuat berjuta-juta orang menjadi muslim.

Setiap musim haji, para peziarah menyesaki Haramain, dan ini membuat Khalifah Utsman berpikir untuk memperluas masjid Nabawi. Tentu, bukan untuk keperluan wisata, apalagi wisata bahari sebagaimana penggusuran kampung Luar Batang.

Maka begitulah, rumah para istri Nabi, bahkan termasuk rumah Aisyah, yang didalamnya ada makam Baginda Nabi Muhammad, digusur. Makam itu tetap ada di sana, namun diberi hijab sebagai tanda.

Protes bermunculan, tetapi Utsman menanganinya dengan baik. Tak ada pengerahan tentara. Tak ada pengerahan alat berat, atau komentar-komentar buruk terhadap masyarakat: semua ikhlas dan rela.

Jauh sebelumnya, Khalifah Kedua, Umar bin Khattab, didatangi seorang Yahudi dari Mesir. Ia jauh-jauh datang dari Mesir, karena mendengar pamor keadilan Umar.

“Wahai Umar!” Katanya. “Rumahku digusur Gubernur Amru bin Ash!” Rupanya, pembangunan di Mesir yang baru dibebaskan dari Mukaukis, berjalan dengan cepat.

“Tunggu sebentar,” kata Umar. Ia mencari sebilah tulang, lalu membelahnya dengan pedang. “Berikan ini. Ia pasti mengerti!”

Yahudi ini jengkel. Ia menyangka Umar mempermainkannya. Sepulangnya di Mesir, ia sampaikan itu pada Amru.

Sontak, Amru memucat. Ia gemetar. “Kenapa kau?” Tanya Yahudi itu.

“Kalau aku tidak adil, Umar akan meluruskan aku dengan pedangnya!”

Umar bin Khattab tidak melindungi kejahatan anak buahnya, sekalipun itu terhadap kaum berbeda agama. Sekalipun, yang melakukan adalah salah satu sahabat terbaik Nabi Muhammad.

Tengah tahun ini, gugatan Class Action warga Bukit Duri dan Penjaringan (Luar Batang) diajukan, dan tampaknya pihak penguasa, justru mengatakan itu sebagai penghambat pembangunan, alih-alih menerimanya dengan lapang sebagaimana sosok pemimpin.

Berjuanglah, warga Bukit Duri dan Luar Batang!”

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY