Editorial Redaksi: Biarkan Dua Kubu Berperang, Anies-Sandiaga Terus Maju Saja

Editorial Redaksi: Biarkan Dua Kubu Berperang, Anies-Sandiaga Terus Maju Saja

304
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Kubu parpol pengusung Ahok-Djarot dan Agus-Sylviana merupakan dua kutub raksasa dibandingkan dengan Gerindra-PKS. Keduanya, mulai melemparkan serangan masing-masing.

Di pihak Agus-Sylvi, berkumpul 3 partai islam kuat. PKB, leluasa memanfaatkan jaringan ulama betawi dan masyarakat akar rumput bersama PPP untuk kemudian berhimpun dalam Gerakan Masyarakat Jakarta. KH Fakhrurrozi Ishaq bersama beberapa tokoh lain, adalah anggota Majelis Syariah PPP.

Sementara PKB dan PBNU jelas menyuarakan dukungannya pada Agus-Sylvi. Demokrat dan SBY jelas banyak menyimpan senjata. Digelarnya beberapa aksi GMJ dan ormas betawi terhadap Ahok, juga merupakan keuntungan sendiri bagi Agus.

Kini sebagian besar publik di Jakarta tidak memilih Ahok. Namun, Golkar dan PDI-P tentu bukan tanpa persiapan. Serangan sudah dimulai sejak PPP kembali terpecah dengan kubu Djan Faridz yang mendadak menyatakan dukungan pada Ahok-Djarot.

Sementara itu, kubu Romahurmuzy tetap bertahan di Cikeas. Meskipun KPU tetap melaksanakan verifikasi sesuai dengan pendaftaran awal, namun ini sudah menjadi preseden buruk buat masyarakat.

Serangan ini kemudian dibalas dengan aksi besar-besaran ratusan ribu orang menuntut agar Ahok dipenjarakan terkait penodaan agama, pekan lalu.

Senjata Ahok masih banyak. Kemudian, di media sosial dan juga media massa beredar kabar bahwa Sekretariat Negara masa SBY lalai atau menutup-nutupi dan kemudian menghilangkan dokumen Tim Pencari Fakta Pembunuhan Munir. Munir adalah aktifis HAM yang meninggal dibunuh dalam penerbangan pesawat ke Belanda.

Sebagaimana biasa, pasukan Jasmev menyerbu akun @SBYudhoyono dan membullynya. Justru terkait hal itu, SBY malah melontarkan counter yang juga kuat.

Ia menyegarkan ingatan publik bahwa kasus pembunuhan Munir terjadi di era Megawati Soekarnoputri. Dan justru, pejabat militer dan intelijen yang terlibat, masih dipekerjakan oleh Jokowi saat ini.

Seolah-olah, SBY menegaskan, bahwa Megawati dan partai berkuasa saat ini, adalah pihak yang paling tahu mengenai pembunuhan Munir!

Lalu, kubu sebelah tak kalah brutal. Melalui rezim boneka Jokowi-JK, mantan menteri kesehatan, Siti Fadhilah Supari, ditangkap KPK terkait korupsi pengadaan alat kesehatan, 25/10 lalu. Tiga hari kemudian, pada 27/10, mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan ditangkap kepolisian terkait isu penjualan aset BUMD beberapa tahun lalu di Jawa Timur.

Perang antara kubu Agus dan Ahok begitu brutal. Begitu nyata nuansa politiknya, ketimbang nuansa perbaikan dan penjualan visi misi. Ahok sendiri, entah disengaja atau tidak, mulai bermain dengan bocor dan panik. Elektabilitasnya semakin turun dan hancur.

Bagaimana dengan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno?

Pasangan nomor urut 3 ini justru banjir dukungan. Pasca hancurnya PDI-P Jakarta akibat keputusan Bunda Mega mendukung Ahok, Boy Sadikin, mantan ketua DPD PDI-P Jakarta, deklarasikan dukungan pada Anies-Sandi.

Sementara itu, selebritis Pandji Pragiwaksono mendukung Anies Baswedan dan malah masuk dalam jajaran tim kampanye. Selama ini, Pandji dikenal mendukung Jokowi-JK dan kontra dengan-terutama-PKS.

Awal pekan ini, kita justru dapat kabar: politisi PPP, Ahmad Yani, nyatakan dukungan pribadi pada pasangan nomor 3 ini.

Jauh sebelumnya, belasan kader Golkar justru mendukung Anies-Sandi dan mendatangi mereka di Posko Melawai 4 Oktober lalu.

Novel, pemimpin Beringin Anies-Sandi atau Brigas itu, mengatakan anggota Brigas berjumlah 15 orang. Mereka siap mengakomodir 6.000 simpatisan pendukung Partai Golkar untuk memilih pasangan Partai Gerindra dan PKS itu, sebagaimana dilansir Tempo hari itu.

Selain itu, Korps Alumni HMI atau KAHMI yang sebelumnya mungkin mendukung Sylviana, ternyata mendeklarasikan dukungan pada Anies Baswedan. Sylviana, sebagaimana Anies, juga adalah produk HMI. Dukungan ini dinyatakan 19 Oktober lalu.

Tak cukup sampai disitu, tokoh sosial media dan juga pengamat media massa, Indra J Piliang, justru mengungkapkan dukungannya pada Anies-Sandi. Tak terhitung lagi berapa banyak dukungan yang mengalir.

Ya; menunggu lawan saling menghancurkan, sementara kita dengan tenang berjalan di daerah yang sudah bersih akibat pertempuran mereka.

Begitulah politik ini dimainkan.

Redaksi Ruangbicara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY