Di Balik Strategi PDIP di Jawa Barat

Di Balik Strategi PDIP di Jawa Barat

21
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Secara mengejutkan, PDIP mengumumkan nama TB Hasanuddin berpasangan dengan Anton Charliyan di Jawa Barat untuk maju sebagai Cagub-Cawagub. Masalahnya, lawan mereka adalah nama-nama besar Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, dan juga koalisi abadi Gerindra-PKS.

Tampaknya, di sini Megawati sedikit akan mengubah strategi. Belajar dari kesalahannya di Jakarta. Pada saat pencalonan inkumben Basuki T Purnama berpasangan dengan Djarot Saeful Hidayat, DPP PDIP seolah abai dengan aspirasi DPD dan DPC se-Jakarta.

Hasilnya bisa ditebak; gerbong Boy Sadikin dan puluhan pengikutnya di jajaran DPD PDIP DKI Jakarta mundur dan membelot kepada Koalisi Anies-Sandi.

Lebih dari itu, belasan DPC se-Jakarta terutama di Jakarta Utara mogok sebagai bentuk protes. Di sini, mesin PDI-P di jajaran akar rumput habis dan mati total. Sudah begitu, masih diiringi dengan kekalahan calon yang mereka usung.

Kesalahan ini tidak terbayar dengan jatuhnya citra PDIP. Apalagi, habisnya pendukung di bawah DPD masih juga disertai dengan habisnya modal.

Bisa kita katakan: para taipan dengan tabiat mereka sebagai pebisnis, kini mau tak mau mencari pasangan calon atau koalisi yang bisa diajak berkompromi di Jawa Barat, bisa jadi tak lagi melirik PDIP.

Yang jelas, hanya Ridwan Kamil yang belum secara tegas berkonfrontasi dengan para taipan. Deddy Mizwar, dan apalagi Sudrajat-Syaikhu, sudah jelas akan menggulung habis dengan kepentingannya masing-masing.

Dicalonkannya Ketua DPD Jawa Barat bisa jadi untuk menghindari konfrontasi itu. Lagi pula, biaya politik lebih efisien. Pencalonan kader partainya sendiri di pucuk pimpinan DPD bisa jadi mencerminkan keuangan DPP PDIP yang sedang kolaps.

Diambilnya sosok Anton Charliyan sepertinya bukan atas kemauan PDIP an sich. Anton memiliki daya untuk menekan PDIP. Ia menguasai ragam komunitas di Jawa Barat.

Di sisi lain, tampaknya Anton hendak mencari kekuasaan yang lebih daripada Kapolda. Dengan kemunculannya di media yang bahkan bersaing dengan Kapolri Tito Karnavian, nuansa hasrat keterkenalan itu sangat terasa.

Masalahnya, calon-calon yang dilawan PDIP terbilang kuat. Bisa jadi PDIP sedang memfokuskan dirinya bukan untuk Pilkada, tetapi untuk Pilpres. Sebab, Pilkada Jakarta kemarin menorehkan luka yang cukup dalam di internal partai ini.

Megawati dan Joko Widodo sendiri tampak tidak lagi seirama. Atau justru, ketidakseiramaan ini masih dalam rencana mereka, agar melepaskan kesan Joko Widodo adalah kader partai.

Kans menang PDIP secara hitung-hitungan kertas sangat tipis. Citra Anton Charliyan yang menyakiti publik dengan statemennya, begitu kuat.

PDIP dan ditambah Anton, sangat tidak bercitra islami. Citra ini penting di Jawa Barat sebab publik telah mengikuti ritme yang dibuat dari Pilkada Jakarta dan juga dua periode Ahmad Heryawan di Jawa Barat.

Justru, yang dikuatirkan adalah strategi buruk yang dimainkan saat Pilpres atau Pilkada Jakarta kemarin. Kelemahan-kelemahan Sudrajat-Syaikhu relatif tidak ada karena mereka adalah pemain baru.

Akan tetapi, bisa jadi PDIP akan mencari kelemahan dari Ahmad Heryawan; meskipun secara catatan kepemimpinan, beliau terbilang sangat bersih dan sangat prestatif.

Di sisi lain, posisi PKS sedang rentan. Sedikit saja citra buruk, akan berdampak pada turunnya suara partai dan calon yang diusung. Publik melekatkan identitas islam yang ultra kanan pada PKS dan rentan dengan isu seperti korupsi, skandal seks, dan lain-lain.

Redaksi Ruangbicara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY