Catatan 212: Sang Pemilik Hati yang Mempersatukan Hati Kaum Muslim

Catatan 212: Sang Pemilik Hati yang Mempersatukan Hati Kaum Muslim

239
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Netizen bernama Waddaturrahman menuliskan catatan menarik mengenai animo masyarakat yang luar biasa saat aksi 212. Catatan ini diberi judul “Aksi 212, Tak Ada yang Sia-Sia”, dan dibuat pada 2 Desember pada akun Facebook pribadinya.

“AKSI #212: APAKAH SIA-SIA?”

Sebelum kita menjawab, saya ingin ajak Anda terlebih dahulu membuka klise kasus “Koin Cinta Untuk Bilqis”. Awal tahun 2010, ada sebuah kasus yang mengetuk banyak hati masyarakat Indonesia. Ada seorang anak usia 17 bulan yang mengidap penyakit atresia bilier. Sebuah penyakit langka, yaitu sistem empedu tidak bekerja. Langkah penyembuhan yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan pencangkokan hati. Dana yang dibutuhkan tidak main-main, 1 Miliar. Malangnya, Bilqis terlahir dari keluarga yang tidak diuntungkan secara ekonomi. Maka selanjutnya, muncul gerakan di media sosial, yaitu “Koin Cinta Untuk Bilqis”.

Begitu mengejutkan, tidak butuh waktu lama, rekening koin itu terisi dengan segera dan melejit. Bahkan melebihi target hingga angka 2 Miliar. Harapan kehidupan untuk Bilqis bertunas. Proses pengobatan yang serius mulai dilakukan.

Lalu bagaimana akhir cerita Bilqis? Ternyata Allah lebih cinta kepadanya, beberapa waktu sebelum dilakukan pencangkokan hati, Bilqis kembali pada Sang Pencipta dengan damai.

Pertanyaannya adalah, apakah Bilqis merupakan “produk gagal” yang hanya menyusahkan banyak orang? Apakah “Koin Cinta Untuk Bilqis” sia-sia? Tidak kawan, sama sekali tidak. Bilqis ketika itu seakan sengaja dikirim Allah untuk membuka keran hati-hati yang selama ini terkunci untuk berbagi. Melalui Bilqis ada pesan kemanusiaan yang begitu menohok, “Hei kalian, hartamu itu bukan milikmu semata, ada banyak orang yang membutuhkan.” Sepeninggal Bilqis, Indonesia mulai melek dengan sesama. Gerakan senada “Koin Cinta Untuk Bilqis” bermunculan. Sekali lagi, Bilqis bukanlah anak yang sia-sia.

Ikhwah fillah, sungguh, aksi bela Alquran, baik jilid 1 sampai 3, demi Allah sama sekali tidak sia-sia.

Pertama, dunia melihat betapa dahsyatnya ketika yang menggerakkan massa bukan lagi manusia, malaikan Sang Pemilik Hati. Berkumpul sekitar 4 juta manusia yang datang dari berbagai penjuru. Dari yang bermodal baju putih dan cucuran keringat sampai bermodal puluhan juta. Semua saling berjabat hati dan bertakbir dengan gema yang menggetarkan. MaasyaAllah, mungkin ini adalah perkumpulan manusia terbanyak yang pernah ada di dunia. Hari ini, umat Islam, khususnya di Indonesia, seakan membisiki semesta “Can you see? This is Islam.”

Kedua, aksi “Bela Alquran” ini menunjukkan kepada dunia bahwa persatuan umat Islam itu mengerikan. Sungguh Pak Ahok, statement gegabah Anda sama sekali tidak menurunkan derajat Alquran. Ia tetap agung sebagai kitab suci kami. Aksi ini menitipkan pesan untuk Anda dan brikade Anda, juga untuk saudara seiman kami yang berdiri di samping Anda, “Kalau memang kami membenci Anda, ada ribuan orang hari ini yang siap saja menukar nyawanya dengan Anda. Tidak perlu bersusah payah mengumpulkan 4 juta orang yang tentunya memiliki jutaan kesibukan. Tidak, Islam tidak demikian. Yang kami benci adalah sikap Bapak. Semoga hidayah Allah segera mengetuk pintu hati Bapak. Dan kami ingatkan kepada yang lain, jangan main-main dengan kami!”

Ketiga, kita belajar bahwa SEMANGAT ITU MENULAR. Semula, hanya saudara – saudara kami dari Ciamis yang memutuskan berjalan kaki. Lalu semangat itu mewabah, banyak daerah lain yang juga memutuskan berjalan. Sengitnya, ketika muncul aturan pelarangan menggunakan bus, sampai-sampai sebagian saudara kami berkorban menyewa pesawat. Allahu akbar! Apa, kalian masih berprasangka bahwa itu dibayar? Mungkin tayangan televisi rumah kalian hanya M*tro dn K*mpas Tv. Eh.

Semangat saling bantu juga meletup-letup. Ada ribuan relawan yang ikhlas menyumbang makanan, pakaian, alas kaki, transportasi, hingga pembuatan instalasi wudhu demi kelancaran aksi ini. Hingga ada percakapan, “Pak, berapa harga bakpaonya?” “Lima ribu, Pak”. “Hitung semuanya ya, Pak?” “Maksud Bapak?” “Ya dihitung semuanya, saya bayarin, lalu tuliskan di depan gerobak Bapak GRATIS.” Ya Rabbi, training spiritual apakah yang baru saja mereka ikuti? Semuanya bersemangat, semuanya tertular wabah siap berkorban.

Keempat, mungkin ini terakhir, meskipun ada banyak pesan lain yang dapat kita petik, yaitu UKHUWAH. Ikhwati fillah, kelak akan ada masa ketika kita saling memberi saksi. Ada kesaksian yang menjerat kita ke neraka, demikian pula ada saksi yang membukakan pintu syurga. Saudaraku, andaisaja hari itu tiba, bersaksilah kepada Allah bahwa selama di dunia kita pernah berayunan langkah dalam membela-Nya. Pernah ada masa ketika kita saling membantu. Pernah ada hari ketika kita bertakbir bersama, menggemakan Allah Mahabesar. Bersaksilah saudaraku, bersaksilah. Agar kelak kita bertetangga di syurga.

Maka, apapun hasilnya terkait aksi hari ini, percayalah saudaraku itu semua tidak sia-sia.

Saya ingin tutup dengan doa rabithah,
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini telah berkumpul karena cinta-Mu,
dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma’rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin…”

Waddaturrahman
2 Desember 2016

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY