Belajar Dari Sejarah, Pemimpin Awam Hancurkan Islam di Eropa

Belajar Dari Sejarah, Pemimpin Awam Hancurkan Islam di Eropa

181
0
BERBAGI

RB, Jakarta-Di Eropa, dengan beribukota di Cordova, pernah berdiri kerajaan Islam yang besar sekali selama lebih dari 150 tahun. Kerajaan itu berkonsep khilafah dan memerintahlah raja yang adil selama berpuluh tahun, pada tahun 750 hingga 1031 M.

Di zaman Hisyam II (976-1013) terdapat perubahan struktur politis. Hisyam II baru berusia 11 tahun ketika ia menduduki tahta. Karena usianya masih sangat muda, Ibunya yang bernama Sultanah Subh dan sekretaris negara yang bernama muhammad Ibnu Abi Amir, mengambil alih tugas pemerintahan.

Hisyam II tidak mampu mengatasi ambisi para pembesar istana dalam merebut pengaruh dan kekuasaan. Menjelang tahun 981 M, Muhammad Ibnu Abi Amir yang ambisius menjadikan dirinya sebagai penguasa diktator.

Dalam perjalanannya ke puncak kekuasaan ia menyingkirkan rekan-rekan dan saingannya. Hal ini dimungkinkan karena ia mempunyai tentara yang setia dan kuat, ia mengirimkan tentara itu dalam berbagai ekspedisi yang berhasil menetapkan keunggulannya atas para pangeran Kerajaan Kristen di Utara.

Pada tahun itu juga Muhammad Ibnu Abi Amir memakai gelar kehormatan al-Mansur Billah. la dapat mengharumkan kembali kekuasaan Islam di Spanyol, sekalipun ia hanya merupakan seorang penguasa bayangan. Namun, menyimpan cerita kelam.

Kedudukan Hisyam II tidak ubahnya seperti boneka, hal ini menunjukan bahwa peranan khalifah sangat lemah dalam memimpin negara, dan ketergantungan kepada kekuatan orang lain mencerminkan bahwa khalifah dipilih bukan atas dasar kemampuan yang dimilikinya melainkan atas dasar warisan turun-temurun saja.

Hisyam II memang bukan orang yang cakap untuk mengatur negara, tindakannya menimbulkan kelemahan dalam negeri. la tidak dapat membaca gejala-gejala pergerakan Kerajaan Kristen yang mulai tumbuh dan mengancam kekuasaannya.

Keadaan ini diperburuk dengan meninggalnya Wazir Al-Muzaffar pada tahun 1009 M yang dalam kurun waktu 6 tahun masih dapat mempertahankan kekuasaan Islam di Spanyol.

AI-Muzaffar kemudian digantikan oleh Hajib Al-Rahman Sancol. Karena ia tidak berkualitas dalam memegang jabatannya, maka ia dimusuhi penduduk dan kehilangan kesetiaan dari tentaranya.

Akibatnya timbul kekacauan, karena tidak ada orang atau kelompok yang dapat mempertahankan ketertiban di seluruh negara. Akhirnya Hisyam II memakzulkan diri pada tahun 1009 M, yang kemudian dipulihkan kembali tahtanya pada tahun berikutnya.

Sejak itu sampai tahun 1013 M, ia dan 6 orang anggota Umayyah lainnya serta tiga orang anggota keluarga berdarah setengah Barbar masing-masing menjabat khalifah sementara.

Dalam masa lebih kurang 22 tahun (1009-1031) M terjadi 9 kali pertukaran khalifah, tiga orang di antaranya dua kali menduduki jabatan khalifah pada periode tersebut.

Timbulnya perpecahan Dinasti Umayyah di Spanyol ditandai dengan munculnya raja-raja kecil, di antaranya Dinasti Abbadi, Dinasti Murabit, Dinasti Muwahhid, dan Dinasti Bani Nasr.

Mereka saling berperang dan mengadakan aliansi baik dengan penguasa Muslim atau dengan penguasa Kristen (Aragon dan Castille) yang dulu tidak dihancurkan oleh Musa Ibnu Nusair di zaman Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh orang-orang Kristen, munculnya dinasti-dinasti kecil ini, yang menurut W. Montgomery Watt, seorang ahli sejarah Eropa, berjumlah sekitar tiga puluh negara kecil disebabkan penghapusan khilafah.

Pada tahun 1031 M khilafah dihapuskan oleh orang-orang di internal Kekhalifahan Cordova. Sebuah kehilangan yang parah dan mengerikan bagi umat Islam, karena lemahnya kekuasaan. (HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY