Apakah PKS Bisa Menang di Jawa Barat?

Apakah PKS Bisa Menang di Jawa Barat?

29
0
BERBAGI

RB, Jakarta – Pilkada Jawa Barat yang berlangsung sebentar lagi menjadi medan yang lebih menarik, dan yang jelas lebih tenang daripada Jakarta. Sebab, hal yang berbeda terjadi. Pilkada di daerah ini tidak diawali dari penistaan agama ataupun kasus yang menimpa gubernur sebelumnya.

Secara mengejutkan, Prabowo dan Gerindra mengajukan nama Mayjend Sudrajat sebagai calon Gubernur mendampingi Ahmad Syaikhu dari Partai Keadilan Sejahtera.

Selama dua periode, Ahmad Heryawan memimpin Jawa Barat dengan segudang prestasi mentereng. Akan tetapi, tampaknya kepemimpinan Aher diimbangi dengan baik oleh hebatnya para walikota dan bupati di daerahnya.

Dengan Sudrajat dan Syaikhu, apakah PKS bisa menang di Jawa Barat?

Dengan hitungan di atas kertas secara sederhana, mesin politik PKS dan Gerindra jelas kalah jauh dibandingkan koalisi lain seperti Golkar, Demokrat, dan bahkan PDIP. PKS tampak belum sepenuhnya pulih dari Pilkada Jakarta yang menguras tenaga sebagian besar kadernya.

Di sisi lain, kisruh dengan Fahri Hamza tampak belum ada ujung yang jelas. Fahri bisa jadi faktor pembelah kekuatan PKS di Pilkada Jawa Barat.

Kekuatan kader PKS, sebagaimana Gerindra, terletak pada kepatuhan absolut terhadap pimpinannya. Akan berbeda jika pemimpinnya sendiri diterpa kasus dualisme kepemimpinan.

Belum jelas apa strategi Fahri Hamzah. Dia sendiri memiliki banyak loyalis di luar Dapilnya di Nusa Tenggara Barat. Dia bisa saja memanfaatan suara kecewa dari sebagian kader yang tidak puas dengan naiknya Sudrajat.

Sudrajat sendiri, adalah mantan Dubes RI untuk Cina pada pemerintahan SBY. Apabila kita merunut garis waktunya: berarti Sudrajat inilah yang mengetahui seluk beluk kerjasama dan persiapan PDI-P dengan Partai Komunis Cina yang entah benar atau tidak terjadi.

Dari jarak dekat, ia mengetahui arus pergerakan orang-orang penting menjelang Pilkada Jakarta dan Pilpres 2014. Di sisi lain, ia juga mengetahui secara detail apa rencana pembangunan Cina dengan jalur dagangnya yang melewati Indonesia.

Dengan kemenangan di Jakarta yang membawa mantan menteri Jokowi sekaligus mantan juru kampanye mereka, Anies Baswedan menjadi Gubernur, maka Prabowo hendak memberikan ancaman serius pada pihak yang dekat dengan Presiden dan sekaligus kekuatan Cina:

Bahwa Prabowo tidak main-main menghadapi para taipan ini, ia mengerahkan jenderal cerdik yang tahu banyak hal. Lagipula, Sudrajat adalah orang di perusahaan Susi Air milik Menteri Susi.

PKS lebih mudah menang dengan keputusan PDIP mengangkat sosok yang tidak disukai publik di Jawa Barat: Anton Charliyan. Sosok ini jatuh karena tindak persekusi yang dijalankan ormas yang ia bina, yaitu GMBI.

PDIP sebagai partai tunggal yang bisa mencalonkan seorang Gubernur tanpa berkoalisi pasti punya persiapan serius. Pasca kekalahan telaknya di Jakarta, jelas saham yang ditanamkan untuk keperluan pilkada hangus total.

Barisan pengusaha saat ini pasti—dengan tabiat khas pebisnis—memilih calon dengan kemungkinan menang tertinggi. Sebelumnya, dengan upaya untuk merekayasa pilkada berbuah kegagalan dengan aktifnya jaringan ulama.

Saat ini, bisa jadi lebih menguntungkan menyaksikan para calon bertarung tanpa diintervensi, lalu menunggu ke mana arah kemenangan terjadi.

Kecuali, dengan segala kebesaran bisnis mereka, mereka mampu mendesak partai koalisi manapun dengan mega proyek di segala tempat atau dengan ancaman PHK massal.

PKS belum cukup menang dengan naiknya Aher. Secara mengejutkan PDIP menguasai DPRD dengan 20 kursi. Artinya, kemenangan cagub tidak berarti kemenangan di Pileg.

PKS masih mungkin mendapatkan simpati masyarakat dengan mengaktifkan jaringan ulama setempat. Akan tetapi, polarisasinya berbeda dengan Jakarta. Saat ini tak ada musuh dominan dengan dosa yang fatal di Jawa Barat.

Semuanya dapat bertarung secara sehat di Jawa Barat. Kita lihat apa yang akan terjadi, pekan-pekan kedepan.

Tapi, penting sekali untuk merenungkan kembali definisi kemenangan bagi PKS itu. Apakah yang dicari PKS?

Bertambahnya jumlah kader dan simpatisan? Naiknya calon gubernur? Atau kemenangan di Pileg? Sistem yang rumit dan kendala besar lain yang dihadapi PKS ini harus dipecahkan dengan cermat.

PKS tampak rapuh dan lemah sebagai partai politik di daerah tanpa basis kampus dan sekolah yang kuat seperti daerah pesisir utara dan selatan.

Di sisi lain, macetnya mesin pengaderan PKS di tempat-tempat itu adalah sinyal bahaya bahwa jangan-jangan, berkuasanya Aher selama 2 periode tak lantas membuat mekanisme pengaderan itu hidup. (AR)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY