Antara Ibadah dan Pilkada

Antara Ibadah dan Pilkada

60
0
BERBAGI

Ada sebuah definisi yang apik diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- mengenai Ibadah, yaitu :

اسم جامع لما يحبه الله ويرضاه
“Sebutan yang mencakup segala hal yang dicintai Allah dan diridhoi-Nya.”

Dari definisi di atas bisa dipahami bahwasanya makna ibadah itu cakupannya sangat luas tidak hanya terbatas pada amalan-amalan ritual belaka, melainkan setiap perbuatan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Berkaitan dengan hal tersebut di dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa di pembahasan bab jihad bagian hisbah pasal kaidah dalam hisbah “Tujuan dari kepemimpinan adalah agar agama ini menjadi hak Allah sepenuhnya dan menjadikan kalimat Allah sebagai kalimat tertinggi” beliau mengungkapkan dalam muqaddimah tersebut bahwasanya manusia adalah makhluk sosial yang memiliki tabiat tidak bisa hidup sendiri.

Secara otomatis ketika membuat sebuah komunitas, -apapun suku, bangsa maupun agamanya- mereka akan melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama dan menjauhkan mereka dari kehancuran dan kerusakan.

Konsekuensi dari adanya tujuan tersebut, -sekali lagi apapun suku dan agamanya- pasti mereka menentukan ada yang harus ditaati perintahnya dan dijauhi larangannya, entah itu berupa undang-undang yang ditaati bersama atau peraturan yang berasal dari Tuhan yang mereka yakini.

Sebagai ummat islam tentunya kita meyakini bahwasanya ada peraturan-peraturan dari Allah dan Rasul-Nya yang harus kita taati, begitu juga dengan para pemeluk agama lain, pasti mereka memiliki keyakinan bahwa ada yang harus ditaati secara mutlak. Bahkan, orang yang mengaku tidak beragama sekalipun pasti tunduk dan patuh terhadap hal yang menurut mereka bisa mewujudkan kemaslahatan pribadi mereka di dunia, baik berupa raja, presiden atau para pemilik modal (tambahan penulis 🙂 ).

Ummat islam dan ahli kitab pada dasarnya memiliki kepercayaan akan adanya hari pembalasan setelah kematian, adapun selain mereka ada yang percaya dan ada yang tidak mempercayainya. Namun, seluruh penghuni bumi ini bersepakat akan adanya balasan duniawi. Sehingga mereka pun bersepakat bahwa akibat dari perbuatan adil itu kebaikan dan akibat dari kedhaliman adalah keburukan.

Artinya mewujudkan keadilan di muka bumi sebenarnya merupakan tujuan bersama yang ingin digapai oleh semua orang yang hidup di dalamnya, apapun suku dan agamanya. Dan hal ini sebenarnya merupakan hal yang sangat diperhatikan dalam islam, bahkan bentuk perhatian itu pun berupa perintah tekstual yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran dan hadits nabawi.

Di antaranya sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. Al-Hadid : 25 berikut :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”

Dalam rangka mewujudkan keadilan tersebut maka Rasulullah -shallallahu ‘alahi wa sallam- pun memerintahkan kepada kita untuk mengupayakan sarana yang bisa kita gunakan untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut, antara lain dengan memilih pemimpin yang amanah dan bisa mewujudkan kemaslahatan bersama.

Bahkan dalam komunitas terkecil sekalipun, dicontohkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam sunannya bahwa ketika 3 orang berpergian maka harus ada satu orang yang menjadi pemimpin. Artinya ketika kita bicara komunitas yang lebih besar, sebuah desa, kecamatan, kota apalagi ibu kota tentunya butuh seorang pemimpin yang bisa mewujudkan cita-cita agung tadi.

Maka, di akhir muqaddimah ini beliau menutupnya dengan ungkapan yang sangat menarik :

… وَلِهَذَا كَانَتْ الْوِلَايَةُ – لِمَنْ يَتَّخِذُهَا دِينًا يَتَقَرَّبُ بِهِ إلَى اللَّهِ وَيَفْعَلُ فِيهَا الْوَاجِبَ بِحَسَبِ الْإِمْكَانِ – مِنْ أَفْضَلِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ …

“… untuk itulah kepemimpinan -bagi orang yang menjadikannya termasuk bagian dari agama yang dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan kewajiban sekuat tenaga- adalah merupakan salah satu amal shalih yang paling utama…”

Setelah itu beliau mengutip sabda Rasulullah -shallallahu ‘alahi wa sallam- yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya :

إنَّ أَحَبَّ الْخَلْقِ إلَى اللَّهِ إمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ الْخَلْقِ إلَى اللَّهِ إمَامٌ جَائِرٌ
“Makhluk yang paling dicintai oleh Allah adalah pemimpin yang adil, dan makhluk yang paling dibenci oleh Allah adalah pemimpin yang dhalim.”

(Lihat : Majmu’ Al-Fatawa jilid 28 hal. 62 s.d. 65 (Bab Hisbah))

Lalu apa kaitan antara penjelasan Ibnu Taimiyah dengan PILKADA serentak yang sebenarnya masih akan dilaksanakan pada tahun mendatang?

Silahkan para pembaca bisa mengaitkannya sendiri. Yang jelas masuk ke dunia politik dengan tujuan dan niat yang benar dan ingin menciptakan keadilan dan kemakmuran untuk masyarakat jangan hanya dilihat sebagai perkara duniawi yang kosong dari makna ketuhanan.

Jusru sebaliknya, hal itu – dengan catatan yang patut digarisbawahi bahwa niat dan cara yang dilakukan harus benar- merupakan salah satu jenis ibadah atau pengabdian yang paling utama, seperti disebutkan di atas. Mengingat besarnya kemaslahatan yang akan terwujud ketika hal ini bisa dicapai.

Wallahu a’lam bisshawab.

Petung, 28 Dzul Hijjah 1437 H / 30 September 2016
Tajun Nashr Ms

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY