Ahok dan Dialektika Iblis

Ahok dan Dialektika Iblis

229
0
BERBAGI

RB, Jakarta – Suatu hari, setelah segala penciptaan, diciptakanlah satu makhluk yang kelak menjadi ayah dari Ahok, KH Ma’ruf Amin, Agus Yudhoyono, dan Anies Baswedan. Adam namanya.

“Tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya!” kata Allah. Lalu, para malaikat diminta bersujud, dan kemudian kecuali satu orang berdiri di antara mereka, menentang perintah Allah.

Orang itu, kelak menjadi musuh manusia sepanjang zaman, Iblis namanya. Dosa apa yang menyebabkan ia turun ke Bumi dan menjadi pemimpin penduduk Neraka? “Wahai Iblis! Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah aku ciptakan dengan kedua tanganku sendiri?
“Aku lebih baik darinya, kau ciptakan aku dari api, kau ciptakan dia dari tanah!”

Dialektika ini, menyebabkan Iblis menjadi makhluk terkutuk dan memimpin orang-orang ke dalam neraka. Ia membantah perintah Allah, dan ekstrimnya, ia membantah Allah langsung di hadapan-Nya.

sampai kemudian, di dunia modern, sekian lama setelah dialektika Iblis, muncul kalangan orang yang mempertanyakan hal yang sama terhadap surat Al-Maidah 51. “Kenapa saya tidak boleh memilih pemimpin muslim, sedangkan kinerjanya baik?”

iblis membantah perkataan Allah, yan, kita katakan sebagai wahyu. Dalam hal ini, kita berani-beraninya membantah perintah Allah, dalam hal, kenapa saat telah tegas larangan-larangan, kita masih saja berdialektika?

Iblis tidak menyangsikan ketuhanan Allah. Ia, hanya sebatas berpikir. Ia berpikir dan kemudian mewujudkannya menjadi sebuah sikap politik; ia menolak bersujud kepada Adam.

Apa bedanya dengan para malaikat yang mempertanyakan penciptaan adam? Malaikat, tetap mematuhi perintah Allah. Sebab di dunia ini, berpikir bukan merupakan sebuah tindak subversi. Tetapi, mengikuti dan mewujudkan suatu pikiran sesat, adalah kesalahan besar.

Iblis, hanya bertanya: “Kenapa? Dia dari tanah, aku dari api!” pertanyaan dialektika yang mempertanyakan kualitas ini, kiranya setimbang dengan, “Kenapa? Gubernur kafir, sama dengan gubernur muslim!”

Nanti—bahkan sekarang—akan ada yang mempertanyakan kinerja. Kenapa kita tidak boleh memilih berdasarkan kinerja saja? bukankah, pertanyaan ini semakna dengan, kenapa aku harus bersujud kepada Adam, aku dari api, dia dari tanah?

Sebagai muslim, ada saja yang masih menentang Al-Qur’an dengan dalih berpikir dan kebebasan yang menyertainya. Namun, begitulah Iblis. Berpikir saja, akan menyebabkan kita menjadi—mungkin—calon-calon Iblis kontemporer.

Ingat-ingatlah, Iblis tidak pernah menyakiti siapapun. Ia tidak pernah memaki orang di depan kamera. Ia tidak pernah menggusur satupun rumah. Ia tidak pernah mereklamasi lahan. Ia, hanya berpikir dan melanggar larangan Allah, lalu menjadi penduduk neraka yang paling terkenal. (HG)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY