Menimbang Fahri: Skenario Apakah Ini?

Menimbang Fahri: Skenario Apakah Ini?

69
0
BERBAGI

Ketika Putaran 1 memenangkan Ahok dan Anies, kami dan beberapa tim (tim apa coba) berpikir berpikir keras. Strategi apa yang digunakan rezim untuk mengobati kekalahan ini. Kekalahan?

Ya. Ahok didesain untuk menang satu putaran, sebab formula dan model manapun menujukkan, Ahok pasti kalah di putaran kedua. Maka ia harus menang satu putaran.

Tanpa banyak berspekulasi, kita semua sama-sama paham, koalisi merah putih digembosi dengan cara yang klasik. A la VOC. Pecah belah. Dimulai dari, PPP, Golkar, PAN, Demokrat, dan kemudian PKB. PKB bahkan kehilangan arah ideologisnya ketika PBNU, PWNU, dan basis massa majelis taklim pecah kongsi.

Yang tersisa, tinggal Gerindra dan PKS. Sialnya, mereka menang di putaran dua. Jika kami adalah pemilik negara ini, dan memiliki akses terhadap semua alat penegak hukum, akan kami apakan ancaman dari PKS ini?

Jika kita berpikir kemenangan Anies Sandi adalah final dari peperangan ini; salah besar. Peperangan di medan demokrasi belum berhenti sampai dengan terselenggaranya Pileg di DKI Jakarta.

Kemenangan Anies, mobilisasi Habib Riziek, jelas akan menguntungkan Gerindra dan PKS. Jelas, ini akan berefek langsung pada terancamnya kursi partai penguasa saat ini.

Lalu, harus berbuat apa? Mau tak mau mereka harus keroposi PKS dan Gerindra. Tim kami waktu itu berpikir hingga 5 model untuk menghancurkan PKS.

Variabel yang masih dianggap seksi, adalah menggunakan skandal seks a la Ahmad Fathanah–yang kemudian kami menduga prototypenya digunakan pada Habib Riziek–dan ini mungkin akan ditembakkan pada salah satu syaikh kabir partai ini.

Kedua, menggunakan variabel keterlibatan tokoh PKS dalam kesimpangsiuran APBD DKI yang, kita telah ketahui dalam kendali penuh Gubernur DKI, dengan sistem e-budgetingnya (perhatikan bahwa istilah deparpolisasi menguat dari sini, meniadakan peran parlemen fungsi budgeting).

Selain dua analisis di atas, variabel yang cukup bebas, adalah isu perpecahan di kubu Anis Matta dan Sohibul Iman, atau menggunakan Fahri Hamzah sebagai sarang lebah untuk memecah populasi.

Salah satu prediksi tim kami, adalah bola pernyataan Fahri yang seringkali blunder dan berseberangan dengan PKS, akan digunakan dengan metode taichi untuk gembosi PKS.

Kita ketahui bahwa mantan pimpinan KPK mendukung Anies. Kita tahu bahwa angka korupsi kader PKS terendah di jagat raya ini. Tetapi, satu yang luput. Fahri nampak tidak seirama dengan PKS, dengan melupakan fakta bahwa ia telah dipecat dari sana.

Jika sarang lebah ini ditanggapi dengan antusias, dan dengan efek getah nangka yang akan menyangkut pada nama besar Anis Matta, bukan tidak mungkin mesin partai PKS akan mandek dan mereka tidak punya cukup fokus menghadapi Pileg kelak, hingga Anies terjepit lagi pada mekanisme penganggaran di parlemen.

Di sisi lain, KPK yang mulai dinabikan oleh publik, dianggap sebagai simbol kebenaran mutlak. Mereka yang menentang KPK adalah syaithan, dan yang mendukung KPK adalah radhiallahu’anh. Begitu juga sebagian kader PKS.

Masalahnya adalah, mereka masih lupa KPK alat siapa. Kasak kusuk UU KPK hingga dipilihnya jajaran ketua KPK oleh parlemen adalah cara untuk menyeimbangkan dan mengembalikan fungsi setiap aparatur negara. Oleh, partai politik. Terutama, partai penguasa.

Kini, Fahri geger ingin mengangket KPK. Publik lupa bahwa lembaga inilah yang menyatakan tak ada niat jahat dari Ahok pada kasus Sumber Waras. Publik juga lupa bahwa ribuan kasus korupsi lain yang menimpa pihak rezim baik di pusat maupun daerah, tidak diusut.

Hanya perkaranya, timingnya salah. Dan, pihak rezim paham betul hal ini. Mereka bisa menggunakannya untuk membuat PKS kebingungan dan stagnan, sementara waktu yang ada bisa digunakan lawan untuk menyisir para ulama di GNPF.

KPK sendiri sudah menjadi neo-KPK. Jajaran yang ada di kubu Anies, adalah angkatan yang berbeda. Anies sendiri pernah menjadi ketua komite etik KPK dalam sebuah kasus pada era SBY. KPK yang ini beda dengan KPK yang dulu.

Jika umpan ini dimakan dengan baik–dengan melihat fakta bahwa serangan eksternal tidak pernah berhasil menggoyang PKS-mungkin saja analisis ini akan terjadi. Bahwa PKS akan kehilangan basis massa bagi Pileg di DKI, dan Pilgub di Jawa Barat.

PKS sendiri, pada 1 Mei ini menyatakan sikap Fahri tidak mewakili partai. Akan tetapi, itu saja tentu tidak cukup. Lawan pasti akan melihat potensi yang dimiliki Fahri untuk mengambil sekian persen pemilih PKS menjadi gamang. Meskipun kita tahu, pemilih PKS adalah mereka yang memiliki kesamaan ideologi, bukan karena tokoh.

Frame besar kita, adalah bagaimana membuat kemenangan Anies dan PKS menjadi kemenangan sia-sia? Jika menggunakan logika kenegaraan, Ahok sempat menyadari hal ini ketika ia akhirnya mencoba melakukam deparpolisasi, meski akhirnya kalah (di permukaan). Sebab, Ahok menyadari, bahwa Gubernur tanpa dukungan partai, tak akan menghasilkan kebijakan yang lancar, sebab mekanisme demokrasi di DPRD mewajibkan itu.

Dan mungkin, deparpolisasi itu masih berlangsung dengan mengganggu PKS, dan kelak, Gerindra. Tinggal kita menebak bagaimana caranya.

Amar Ar-Risalah

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY