101 Keajaiban PKS

101 Keajaiban PKS

31
0
BERBAGI

101 Keajaiban PKS

Seperti biasa: semua orang mengatakan, pasangan Sudrajat-Syaikhu adalah pasangan dengan kans paling tipis untuk menang. Seperti biasa.

Pencalonan Sudrajat dan Syaikhu berlangsung ketika PKS dalam kondisi lemah, bahkan dikatakan paling lemah secara modal dibandingkan parpol lain:

Mesin uang sedang tak ada. Di parlemen, PKS tak banyak menitipkan aleg. Di sisi lain, di Jawa Barat sendiri, DPRD dikuasai PDIP. Hitung-hitungan menjadi simpel dan praktis.

Bahwa PKS tak mungkin menang.

Tapi dari Pilkada Jakarta kemarin, saya belajar banyak hal. Orang menertawakan PKS yang mencalonkan seorang bapak-bapak bersuara bariton yang murah senyum: Mardani Ali Sera, sebagai Cawagub.

Di sisi lain, orang tambah menertawakan ketika akhirnya seorang yang dulu menjadi musuh bebuyutan, Anies Baswedan, malah didukung sekuat tenaga sebagaimana mendukung pemerdekaan Palestina oleh kader PKS.

Dan menang. Itu masalahnya. Semua tesis yang mengatakan bahwa mesin PKS tidak jalan, tak punya hujjah lagi dengan dihadapkan sejumlah fakta bahwa PKS menang dan kini malah menjadi simbol dari kalangan islam.

Sepuluh tahun lalu, Ahmad Heryawan adalah seorang anggota legislatif dari DPRD DKI Jakarta yang rekam jejaknya nyaris unknown. Memang ia Hafidz dan lain sebagainya. Tapi lawannya di Jawa Barat kala itu tak tanggung-tanggung.

Lagipula, isu Luthfi Hasan Ishaq sudah menguar jauh sebelum isu Fahri Hamzah mengemuka. Apalagi. Ada sebuah liputan Tempo yang membongkar habis-habisan aleg dari KAMMI—maksud saya dari PKS—Andi Rahmat, yang jadi mesin uang PKS dengan cara-cara tak berkah.

Jelas Andi Rahmat tak akan diiqob atau diberi tugas resume siroh kaum munafikin. Akan tetapi, keajaiban itu terjadi:

Ahmad Heryawan menang. Bahkan, PKS tak kehabisan suara di dalam pemilihan anggota legislatif. Mesin partai terus bekerja, bahkan setelah Luthfi Hasan Ishaq dipenjara karena kasus yang tak pernah dilakukannya.

Di Jakarta kemarin, ramai kalangan yang menamakan dirinya kaum muda—entah semuda apa—mempertanyakan keputusan PKS yang begitu saja menyerahkan jatah kepada Anies dan Sandi. Bahkan PKS harus berpuas di posisi Juru Bicara Kampanye.

Akan tetapi setelah kemenangan Anies-Sandi, tampaknya PKS terus bersiap mengganti para kepala dinas. “Alangkah banyak taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan….”

Di Jawa Barat, kritik terus berdatangan. Strategi Prabowo bisa kita baca sebagai, ia ingin melawan Cina secara lebih serius dari sebelumnya.

Sudrajat; adalah jenderal yang pernah menjadi duta besar di Cina pada masa ketika PDIP konsolidasi minta wangsit dengan PKC di daratan Cina sana, pada 2006-2009 lalu. Ini terjadi pada masa Megawati masih akur dengan Prabowo.

Sudrajat, lebih dari sekadar tahu apa yang dimau para taipan dan PKC. Ia lebih dari sekadar tahu apa yang direncanakan Cina terhadap Jawa Barat.

Fahri Hamzah kembali bersenandung riang dengan mempertanyakan keputusan PKS mendepak Deddy Mizwar yang menurutnya tanpa kesalahan apa-apa.

Dan sejak kapan politik harus jelas kesalahan dan kebenarannya? Deddy Mizwar dijauhi PKS dengan sebab yang jauh berbeda dengan Fahri. Sebab, Deddy dipinang partai lain yang superior, sementara Fahri terkena kasus disiplin partai.

Lagipula, sejak awal pencalonan Deddy bukanlah hasil final. Fahri hendak mencari peluang akan tetapi mesin humas PKS bergerak cepat: orang lupa dengan Demiz. Orang kini fokus dengan, mampukah Sudrajat-Syaikhu melawan 3 pasang kuat lainnya.

Masih dengan isu lama, bahwa Anis Matta dan Fahri tidak mendapat tempat lagi di tubuh PKS. Luar biasanya, inilah rahasia pengaderan di tubuh PKS.

Pergiliran kepemimpinan dan politik dinasti ternyata tak ada di tubuh PKS. Anis Matta di Hubungan Luar Negeri PKS nyaris tanpa komentar yang artinya ia hendak mengatakan bahwa: saya baik-baik saja.

Anis Matta tak hendak membangun dinasti itu, ia juga tak hendak menjadikan dirinya sebagai pahlawan. Ada yang mengatakan ia susah payah membalikkan kondisi partai setelah hancur diterpa isu LHI:

Lalu bagaimana dengan Nurmahmudi dan HNW yang menghadapi peralihan dari PK menuju PKS? Bagaimana dengan LHI yang menghadapi isu besar Yusuf Supendi? Bagaimana dengan Tifatul Sembiring yang menghadapi kondisi partai tanpa dukungan kepala daerah?

Muhammad Sohibul Iman dianggap lebih lemah daripada Anis Matta. Sedangkan, segudang prestasinya telah menunjukkan bahwa ia adalah birokrat sekaligus politisi berdarah dingin.

Kemenangan di Jakarta menunjukkan semuanya. Ditambah lagi, ia berhasil melokalisir masalah dengan Fahri. PKS pasti partai yang kuat dan kokoh, sebab mampu melawan partai sekelas PDIP di Pilkada Jakarta.

Lagipula, Fahri kehilangan papanya yang menahan diare di persidangan, sehingga bungkam seribu taklimat.

Orang sudah tahu Muhammad Sohibul Iman sangat hati-hati. Ia lebih mirip saintis daripada tokoh politik. Ia tak akan biarkan ceceran bahan kimia berhamburan di meja kerjanya.

Melihat cara kerja Fahri yang begitu bahaya dan dekat dengan papa-papaan semacam itu; tentu ia lebih berhati-hati lagi.

Menang di Mahkamah Agung dan mungkin Mahkamah Internasional itu biasa. Yang tidak biasa, adalah bagaimana caranya, partai tetap utuh dengan kelakuan Fahri ini.

Andai, andai orang seperti Fahri ada di partai lain: kita lihat PPP dan PKB yang telah pecah belah akibat urusan yang hampir sama. Golkar bahkan menghadapi hal yang sama ketika mendukung Ahok. PDIP DKI Jakarta lebih parah lagi.

PKS? Selain Fahri, segalanya berjalan seperti biasa. Utuh gemutuh, dengan asupan liqo yang begitu-begitu saja. yang 10 persen materi, 80 persen qodoya, dan 10 persen sisanya menunggu kader yang terlambat.

Strategi PKS dan Gerindra memajukan 5 pasang dan koalisi untuk 5 Pilkada, adalah strategi leading issu. Kini isunya adalah, semua partai akan menghadapi PKS, bukan PKS akan menghadapi siapa. Di Jakarta, isu yang ada adalah semua partai menghadapi Ahok.

Hal ini coba dibuyarkan oleh PKS. Kini PKS terbukti cukup kuat untuk sekadar menang pilkada. Yang lebih penting, memastikan mesin kaderisasi dan mesin uang tetap berjalan. Bagaimana agar PKS menciptakan kader yang independen dan eksklusif dibandingkan partai lain.

Ciri kader PKS itu Cuma tiga. Gemar pakai pin Palestina, pakai celana safari hitam, dan sedikit-sedikit afwan.

Mengenai caleg muda, suara protes masih ada. Akan tetapi, saya kira itu suara iri hati. Sebab, di usia yang sama, pertanyaannya pasti mengapa tidak mendapat kesempatan juga?

Relatif. Tapi, terminologi Caleg Milenial sepertinya asyik untuk dinikmati. Pemilih-pemilih muda yang terpincut dengan partai baru dan gurem semisal PPI atau Perindo dapat ditawari opsi semacam ini.

Kita doakan saja para akhwat ini tidak jadi ujian bagi ikhwan: jengah sedikit, japri ikhwan. Lalu, ikhwannya baper. Lalu, gagal khitbah sebab si akhwat anak ustadz yang mensyaratkan hapalan sekian juz, sedangkan si ikhwan hanya lulusan kampus biasa dengan hapalan juz 30 yang susah dipertahankan.

Tak perlu membayangkan caleg muda yang baperan dan curhat di grup whatsapp. Mudah-mudahan mereka mampu.

Lagipula, peremajaan adalah hal yang biasa. Mekanisme di dalam internal partai jauh lebih rumit daripada sekadar di dalam kampus: BEM, KAMMI, dan lain sebagainya.

Biarkan Fahri dengan simulakranya. Mesin partai akan terus bekerja. Ketokohan tidak seberapa penting. Yang lebih penting, adalah perbaikan dan perbaikan. (AR)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY